PEMERIKSAAN SIFILIS

(Image : https://minhavida.com)

A. STRUKTUR DAN MORFOLOGI

Sifilis merupakan penyakit kronis dan bersifat sistemik yang disebabkan oleh treponema palidum. Angka kejadian sifilis mencapai 90% dinegara - negara berkembang. World Health Organization (WHO) memperkirakan sebesar 12 juta kasus baru terjadi di afrika, Asia Selatan, Asia Tenggara, Amerika Latin dan Caribbean. Angka kejadian Sifilis di Indonesia berdasarkan laporan Survey Terpadu dan Biologis Perilaku (STBP) tahun 2011 Kementrian Kesehatan RI terjadi peningkatan angka kejadian Sifilis di tahun 2011 dibandingkan tahun 2007.


(Gambar : Struktur Treponema Pallidium) 
https://pinterest.es


B. CARA PENULARAN

Treponema palidum masuk melalui selaput lendir yang utuh, atau kulit yang mengalami abrasi, menuju kelenjar limfe, kemudian masuk ke dalam pembuluh darah, dan diedarkan ke seluruh tubuh. Biasanya dapat ditularkan melalui hubungan sekseual (membran mukosa atau uretra), kontak langsung dengan lesi atau luka yang terinfeksi, transfusi darah dan juga dari ibu yang menderita sifilis ke janin yang dikandung melalui plasenta pada stadium akhir kehamilan. Setelah beredar beberapa jam, infeksi menjadi sistemik walaupun tanda - tanda klinis dan serolois belum jelas. Sekitar satu minggu setelah terinfeksi Treponema palidum, ditempat masuknya akan timbul lesi primer berupa ulkus. Ulkus akan muncul selama satu hingga lima minggu dan kemudian menghilang. Uji serologis masih akan negatif ketika ulkus pertama kali muncul dan baru akan reaktif setelah satu sampai empat minggu berikutnya. Enam minggu kemudian, timbul erupsi seluruh tubuh pada sebagian kasus sifilis sekunder dan ruam ini akan hilang kisaran dua sampai enam minggu, karena terjadi penyembuhan spontan. Perjalanan penyakit menuju ke tingkat laten, dimana tidak ditemukan tanda - tanda klinis, kecuali hasil pemeriksaan serologis yang reaktif. Masa laten dapat berlangsung bertahun - tahun atau seumur hidup.

C. GEJALA KLINIS 

Stadium sifilis dalam perjalanannya dibagi menjadi tiga stadium yaitu sifilis stadium primer, sekunder dan tersier yang terpisah oleh fase laten dimana waktu bervariasi, tanpa tanda klinis infeksi. Interval antara stadium primer dan sekunder berkisar dari beberapa minggu sampai beberapa bulan. Interval antara stadium sekunder dan tersier biasanya lebih dari satu tahun.

D.  METODE PEMERIKSAAN

1. Pemeriksan VDRL / RPR

Pemeriksaan Venereal Disease Research Laboratory (VDRL) / Serum atau Cerebrospinal Fluid (RPR) merupakan satu - satunya pemeriksaan laboratorium untuk neunurosipilis yang disetujui oleh Centers for Disease Control. Pemeriksaan VDRL serum bisa memberikan hasil negatif palsu pada tahap late sifilis dan kurang sensitif dari RPR. Pemeriksaan VDRL merupakan pemeriksaan penyaring atau Skrining Test, dimana apabila VDRL positif maka akan dilanjutkan dengan pemeriksaan TPHA (Trophonema Phalidum Heamaglutinasi). Hasil uji serologi tergantung pada stadium penyakit misalnya pada infeksi primer hasil pemeriksaan serologi biasanya menunjukkan hasil non reaktif. Troponema palidum dapat ditemukan pada chancre. Hasil serologi akan menunjukan positif 1-4 minggu setelah timbulnya chancre. Dan pada infeksi sekunder hasil serelogi akan selalu pisitif dengan titer yang terus meningkat. Pasien yang terinfeksi bakteri treponema akan membentuk antibody yang terjadi sebagai reaksi bahan - bahan yang dilepaskan karena kerusakan sel - sel. Andibody tersebut disebut reagin

Tujuan : Untuk mendeteksi adanya antibody nontreponema atau Reagin

Metode Pemeriksaan : Slide c. 

Prinsip Pemeriksaan  : Adanya antibody pada serum pasien akan bereaksi dengan antigen yang terdiri dari kardioplin, kolesterol dan lesitin yang sudah terstandarisasi membentuk flokulasi (gumpalan) atau aglutinasi

Spesimen Pemeriksaan : Serum atau cairanotak

Alat dan Bahan Pemeriksaan

  • Slide pemeriksaan berlatar belakan putih 
  • Mikroskop 
  • Mikropipet
  • Tip kuning
  • Rotator
  • Timer
  • Batang pengaduk

Cara Kerja :

Kualitatif

  • Siapkan alat dan bahan yad dibutuhkan ke dalam lingkaran slide dipipet 50 ul serum
  • Tambahkan 50 ul atau 1 tetes antigen (reagen VDRL). Homogenkan dengan batang pengaduk. 
  • Putar pada rotator kecepatan 100 rpm selama 4-8 menit
  • Amati ada tidaknya flokulasi

Kuantitatif

  • Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
  • Lakukan pengenceran berseri pada slide dengan cara 50 ul serum + 50 ul saline dihomogenkan kemudian hari campuran tersebut dipipet 50 ul dan diletakkan pada lingkaran ke dua pada slide yang sama kemudian tambahkan 50 ul salin dan homogenkan kembali lalu lakukan hal yang sam seperti pada lingkaran pertama sampai lingkaran terakhir dima pada pengenceran terakhir hasil pengenceran dibuang sebanyak 50 ul
  • Maka hasil pengenceran adalah 1/2, 1/4, 1/8, 1/16, 1/32, 1/64, 1/128.
  • Kepada masing - masing pengenceran tambahkan 1 tetes (50 ul) antigen VDRL (reagen)
  • Kemudian dihomogenkan dan diputar dengan rotator kecepatan 100 rpm selam 5-8 menit
  • Amati ada tidaknya flokulasi setiap pengenceran dan tentukan titer pemeriksaannya yaitu pengenceran trerakhir yang masih menunjukkan flokulasi

Interpretasi Hasil :

Kualitatif

Hasil pengamatan cukup menyebutkan non - reaktif, reaktif lemah atau reaktif

Keterangan : 

  • REAKTIF : Bila tampak gumpalan sedang atau besar
  • REAKTIF LEMAH : Bila tampak gumpalan kecil - kecil 
  • NON REAKTIF : Bila tidak tampak flokulasi / gumpalan

Kuantitatif 

Tentukan titernya (amati pngenceran trakhir yang masih menunjukkan flokulasi) , misalnya 1/64. 

2. Pemeriksaan TPHA 

Tujuan : Untuk mendeteksi adanya antibody terhadap Treponema palidum dalam serum dan plasma pasien secara kualitatif dan semi - kuantitatif

Metode Pemeriksaan : Hemaaglutinasi tidak langsung (indirek hemaaglutinasi) 

Prinsip : Pemeriksaan adanya antibodi Treponema palidum akan bereaksi dengan antigen treponemal yang menempel pada eritrosit ayam kalkun / domba sehingga terbentuk aglutinasi dari eritrosit - eritrosit tersebut.

Spesimen Pemeriksaan : Serum

Alat dan Bahan Pemeriksaan :  

  • Mikroplate tipe U
  • Mikropipet (25μL, 75μl dan 100μL)
  • Automati vibrator
  • Reagen kit TPHA (R1 : Test sel - R2 : Control sel - R3 : Diluent - R4 : Control positif - R5 : Control negatif)

Cara Kerja

Kualitatif 

  • Alat dan bahan disiapkan 
  • Setiap komponen kit dan sampel dikondisikan pada suhu kamar
  • Semua reagen dihomogenkan perlahan
  • Diluents ditambahkan sebanyak 190 μl dan sampel ditambahkan sebanyak 10μl pada sumur 1 lalu dihomogenkan
  • Campuran pada sumur 1 dipipet sebanyak 25 μl dan ditambahkan pada sumur 2 dan 3
  • Control sel sebanyak 75 μl ditambahkan pada sumur 2 lalu dihomogenkan 
  • Test sel sebanyak 75 μl ditambahkan pada sumur 3 lalu dihomogenkan
  • Sumur diinkubasi pada suhu ruang selama 45 - 60 menit
  • Aglutinasi yang terjadi diamati
  • Sampel yang menunjukan hasil aglutinasi positif dilanjutkan ke uji semi kuantitatif
  • Catatan : control positif dan negatif selalu disertakan dalam setiap uji tanpa perlu diencerkan

Kuantitatif

  • Alat dan bahan disiapkan
  • Setiap komponen kit dan sampel dikondisikan pada suhu kamar
  • Semua reagen dihomogenkan perlahan
  • Sumur mikrotitrasi disiapkan dan diberi label no . 1 sampai 8
  • Pengenceran sampel dibuat pada sumur yang berbeda dengan sumur mikrotitrasi dengan mencampur 190 μl diluents dan 10 μl sampel
  • Sumur mikrotitrasi no. 1 dikosongkan
  • Sumur mikrotitrasi no. 2-8 ditambahkan 25µl diluent
  • Pada sumur mikrotitrasi no. 1 dan 2 ditambahkan 25 μl sampel yang telah diencerkan.
  • Campuran pada sumur 2 dipipet 25 μl dan ditambahkan pada sumur 3, lalu dihomogenkan. Begitu seterusnya sampai sumur 8
  • Campuran pada sumur 8 dipipet 25 µl dan dibuang
  • Control sel sebanyak 75 µl ditambahkan pada sumur mikrotitrasi no. 1 lalu dihomogenkan.
  • Tes sel sebanyak 75 μl ditambahkan pada sumur mikrotitrasi no. 2-8 lalu dihomogenkan.
  • Sumur diinkubasi pada suhu ruang selama 45-60 menit
  • Aglutinasi yang terjadi dibaca, dan ditentukan titernya

Interpretasi Hasil

Kualitatif 

Hemaglutinasi positif ditandai dengan adanya bulatan berwarna merah dipermukaan sumur, hasil negatif terlihat seperti titik berwarna merah di tengah dasar sumur. 

Derajat hemaglutinasi : 

  • +4 : bulatan merah merata pada seluruh permukaan sumur 
  • +3 : bulatan merah terdapat di sebagian besar permukaan sumur 
  • +2 : bulatan merah yang terbentuk tidak besar dan tampak seperti cincin 
  • +1 : bulatan merah kecil dan tampak cincin terang 
  • +/- : tampak cincin dengan warna bulatan merah yang samar 
  • - : Tampak titik berwarna merah didasar sumur

Kuantitatif 

Titer : pengenceran tertinggi yang masih menunjukkan aglutinasi.


Sumber : Nurhayati B, Noviar G, Kartabrata E dkk. 201. Penuntun Praktikum Imunohematologi Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Bandung. Bandung : Analis Kesehatan.

 

Post a Comment

0 Comments