Reaksi Transfusi Imun

(Gambar : https://ns.riocristiano.com)

A. KONSEP DASAR 

Reaksi transfusi imun yang dimaksud adalah semua jenis reaksi yang terjadi pada pasien saat proses transfusi dan setelah transfusi. Reaksi tersebut terjadi melalui mekanisme imun tubuh, melibatkan antigen (Ag) dan antibodi (Ab). Reaksi imun yang terjadi, mengakibatkan timbulnya gejala klinis pada pasien. Gejala klinis yang timbul bervariasi, mulai dari gejala ringan sampai berat dan bersifat akut atau tunda.  Jenis Ag yang terdapat pada sel darah merah, lekosit dan trombosit serta Ab yang terbentuk karena paparan terhadap Ag tersebut dikategorikan ke dalam suatu sistem. Ag dan Ab pada sel darah merah dikelompokkan ke dalam sistem golongan darah. Ag dan Ab pada lekosit dikelompokkan ke dalam sistem human leucoyte antigen (HLA) dan human neutrofil antigen (HNA). Ag dan Ab pada trombosit dikelompokkan ke dalam sistem human platelet antigen (HPA). Adanya ketidakcocokan antara darah donor dengan pasien yang melibatkan Ag dan Ab pada darah dapat menyebabkan reaksi transfusi imun.

B. REAKSI IMUN AKUT

1. Reaksi hemolitik akut 

Reaksi hemolitik akut merupakan jenis reaksi transfusi yang berbahaya dan dapat menyebabkan kematian. Reaksi hemolitik merupakan reaksi lisis sel darah merah dari darah donor ataupun darah pasien karena adanya ketidakcocokan jenis golongan darah antara donor dan pasien. Hemolisis dapat terjadi karena interaksi Ab pada plasma pasien dan Ag sel darah merah donor yang disebut dengan inkompatibilitas mayor atau dapat juga karena interaksi plasma donor dengan Ag sel darah merah pasien yang disebut dengan inkompatibilitas minor. Selain itu, terdapat juga inkompatibilitas inter donor yaitu reaksi Ab pada plasma donor dengan Ag sel darah merah donor lainnya jika pasien mendapat transfusi darah lebih dari satu donor yang bereaksi pada darah pasien. Reaksi hemolitik akut terjadi sesaat setelah transfusi dan berlangsung cepat. 

a).  Hemolisis ekstravaskular 


(Gambar 1 : Hemolisis Ekstravaskuler) 
https://pedsinreview.com


Hemolisis ekstravaskular merupakan lisis sel darah merah yang terjadi karena reaksi Ag donor yang disensitisasi / dilekati oleh Ab dan atau komplemen pasien. Kompleks Ag, Ab dan atau komplemen tersebut dikenali dan disingkirkan ke luar pembuluh darah oleh sel makrofag menuju ke hati atau limpa untuk dihancurkan. 

b).  Hemolisis intravaskular 


(Gambar 2 : Hemolisis Intravaskuler) 
https://pedsinreview.com


Hemolisis intravaskular merupakan lisis sel darah merah yang terjadi di pembuluh  darah. Reaksi terjadi jika Ab pasien bereaksi dengan Ag yang berasal dari donor. Ikatan Ag dan Ab tersebut mengaktifkan komplemen dan membentuk membrane attachment complex (MAC) dan sel darah merah lisis / pecah. Molekul Hb yang keluar dari sel darah merah yang telah lisis akan diikat oleh haptoglobin. Kompleks Hb - haptoglobin akan disingkirkan dari plasma oleh sel retikuloendotelial hati. Jika jumlah haptoglobin berkurang atau bahkan habis, maka molekul Hb akan berada bebas di dalam darah (hemoglobinemia) sehingga ikut tersaring di ginjal dan Hb dapat berada di urin (hemoglobinuria), sehingga mengakibatkan warna urin menjadi merah / gelap.

2. Febrile non hemolytic transfusion reaction (FNHTR) 

FNHTR merupakan reaksi transfusi dengan gejala klinis yang ditimbulkan berupa demam dan tidak diikuti dengan reaksi hemolisis sel darah merah. Reaksi FNHTR terjadi karena dilepaskannya sitokin dari sel lekosit.

3. Alergi 


(Gambar 3 : Mekanisme reaksi alergi) 
https://dcommunity.com


Reaksi alergi merupakan jenis reaksi transfusi yang cukup sering terjadi. Reaksi ini terjadi karena berbagai unsur yang bertindak sebagai alergen yang dapat mengaktifkan sel mast maupun basofil. 

4. Reaksi anafilaktik dan anaphylactoid 

Reaksi anafilaktik dan anaphylactoid merupakan reaksi hipersensitivitas pada respon sistem imun yang merupakan bagian dari reaksi alergi. Komplikasi ini jarang terjadi, namun dapat membahayakan jiwa pasien. Reaksi dapat terjadi pada individu dengan defisiensi / kekurangan terhadap jenis Ab / immunoglobulin / protein tertentu, dalam hal ini adalah defisiensi terhadap immunoglobulin A (IgA), sehingga terdapat Ab terhadap IgA karena adanya riwayat paparan dengan IgA sebelumnya.  Gejala klinis pasien akan terjadi setelah transfusi beberapa mL plasma atau transfusi komponen darah yang terdapat plasma di dalamnya. 

5. Transfusion related acute lung injury (TRALI) 

TRALI merupakan reaksi transfusi yang dapat membahayakan jiwa pasien, hal ini disebabkan karena organ yang diserang adalah paru - paru, sehingga pasien mengalami sulit napas. Gejala klinis, biasanya terjadi pada kisaran 6 jam selama proses transfusi. TRALI disebabkan oleh Ab terhadap lekosit (anti - HLA) atau Ab terhadap sel netrofil (anti HNA) pada plasma donor. Ab yang berasal dari donor diperoleh dari riwayat paparan Ag sebelumnya pada donor, yang disebabkan, donor pernah transfusi darah sebelumnya atau donor mempunyai riwayat melahirkan beberapa kali (wanita multipara). Ab yang terdapat di plasma dapat mengaktivasi netrofil pasien pada saat ditransfusikan. Sel netrofil bermigrasi ke paru - paru dan menempel pada bagian kapiler paru, serta melepaskan berbagai macam substan, seperti enzim proteolitik, oksigen yang bersifat radikal bebas. 

C. REAKSI IMUN TUNDA 

1. Reaksi hemolitik tunda 

Reaksi hemolitik tunda disebabkan karena respon imun sekunder terhadap Ag pada sel darah merah donor. Hal ini terjadi karena pasien sudah pernah terpapar dengan jenis Ag yang sama sebelumnya sehingga pasien sudah mempunyai Ab terhadap Ag tersebut . Jenis Ab pada respon imun sekunder, biasanya adalah jenis IgG yang berada pada jumlah maksimal selama 3-7 hari setelah paparan dengan Ag yang sesuai. Pada kisaran hari tersebut, sel darah merah donor masih berada di aliran darah pasien, dan dapat dihancurkan secara cepat karena bereaksi dengan Ab yang sesuai.

2. Aloimunisasi 

Reaksi komplikasi jangka panjang karena transfusi, salah satunya adalah reaksi aloimunisasi yaitu terbentuknya Ab terhadap paparan dengan Ag sel darah merah, lekosit maupun trombosit sebelumnya. Reaksi aloimunisasi biasanya terjadi pada pasien yang mendapat beberapa kali transfusi darah. Gejala klinis yang timbul, umumnya tidak terlalu parah, seperti demam dan penurunan konsentrasi Hb. 

3. Post transfusion purpura (PTP) 

PTP merupakan reaksi transfusi yang melibatkan komponen trombosit. Kondisi ini terjadi karena reaksi allo Ab terhadap trombosit yang ditransfusikan. Allo Ab trombosit melekat pada permukaan trombosit yang memicu dekstruksi ekstravaskular oleh retikuloendotelial sistem (RES), sehingga terjadi penurunan jumlah trombosit (trombositopenia).

4. Transfusion-associated graft vs host disease (TA - GVHD) 

Reaksi ini cukup jarang terjadi pada transfusi, namun dapat bersifat fatal. Reaksi yang terjadi adalah limfosit T donor yang memicu sistem imun pasien. Sel limfosit donor dikenali sebagai substan asing oleh sistem imun pasien, sehingga sel limfosit yang ditransfusikan dihancurkan di dalam tubuh pasien. 

D. PENCEGAHAN REAKSI TRANSFUSI IMUN 

(Gambar 4 : Proses filtrasi leukosit pada sel darah merah) 
https://docplayer.info


Terapi transfusi darah mempunyai manfaat untuk menyembuhkan pasien bahkan dapat menyelamatkan jiwa pasien, akan tetapi, proses transfusi mempunyai resiko atau efek samping. Upaya pencegahan - pun dilakukan untuk meminimalisir dan mencegah reaksi tersebut. Upaya yang dilakukan untuk pencegahan reaksi transfusi dimulai dari pengambilan darah donor, kontrol kualitas komponen darah yang akan diberikan ke pasien sampai dengan proses distribusi darah ke pasien. Setiap proses yang dilakukan harus terstandar dengan baik dan dikontrol. Sebagai contoh, penentuan dan penulisan jenis golongan darah donor dan pasien tidak boleh ada kesalahan, baik pada proses pemeriksaannya, maupun pelaporan dan penulisan hasil, karena jika terjadi kesalahan dapat fatal akibatnya. Validasi pemeriksaan dan crosscheck terhadap hasil golongan darah ABO pasien dan donor dapat mencegah kesalahan penentuan golongan darah donor yang dapat menyebabkan reaksi transfusi hemolitik akut. Reaksi transfusi hemolitik tunda maupun reaksi aloimunisasi dapat dicegah dengan melakukan pemeriksaan pre - transfusi yang disertai dengan pemeriksaan khusus skrining dan identifikasi Ab sebelum proses transfusi dilakukan. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya allo Ab yang terbentuk karena riwayat paparan dengan Ag sel darah merah sebelumnya.


Sumber : Nurhayati B, Noviar G, Kartabrata E dkk. 201. Penuntun Praktikum Imunohematologi Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Bandung. Bandung : Analis Kesehatan.

Post a Comment

0 Comments