Penyimpanan Komponen Darah

(Image : https://syaf.co.id)

 A. PENDAHULUAN

Penyimpanan darah secara invitro merupakan upaya untuk mengurangi perubahan perubahan yang terjadi selama darah disimpan. Untuk dapat mempertahankan kualitas darah donor harus, maka harus memperhatikan syarat - syarat dalam penyimpanan darah invitro. Pada keadaan invivo ada keseimbangan antara produksi dan destruksi, sintesa dan pemecahan protein dan lain - lain. Sel darah memerlukan energi untuk mempertahankan bentuk sel dan melakukan fungsi sel. Untuk mendapatkan energi tersebut sel perlu metabolisme yang memerlukan bahan serta memerlukan oksigen terutama untuk trombosit dan leukosit. 

(Gambar 1 : Penyimpanan darah)
https://medicalogy.com


Metabolisme eritrosit merupakan proses glikolitik atau pemecahan glukosa, pada proses ini memerlukan hampir 20 macam enzim, memerlukan 2 mol ATP, memproduksi 4 mol ATP dengan hasil akhir 2 mol ATP. ATP yang dihasilkan ini merupakan sumber energi dan hasil akhir proses glikolitik adalah asam laktat. Pada penyimpanan darah invitro seperti dalam kantong darah tidak ada keseimbangan antara produksi dan destruksi ataupun sintesa dan pemecahan protein, hanya ada destruksi tanpa produksi. Sehinggga sel darah memerlukan energi untuk metabolisme dan itu memerlukan bahan - bahan serta oksigen. Cara yang paling efektif yaitu disimpan pada temperatur rendah 2° - 6°C, sehingga metabolismenya diperlambat dan pemberian cadangan kalori yaitu dekstrosa. 

B. SYARAT - SYARAT PENYIMPANAN DARAH SECARA INVITRO

Cara penyimpanan darah secara invitro harus dapat memenuhi syarat - syarat, berikut :

  • Harus mempertahankan sel darah tetap hidup
  • Harus mempertahankan sel darah tetap berfungsi 

Ada 2 faktor penting yang harus diperhatikan dalam penyimpanan darah secara invitro, yaitu temperatur simpan dan pengawet / pelindung. Dalam perkembangannya pengawety darah dipakai untuk menyimpan darah dalam bentuk cair, semakin lama semakin dilengkapi komposisinya dengan tujuan agar masa simpan darah invitro dapat diperpanjang. Antikoagulan adalah zat untuk mencegah terjadinya darah membeku, yang digunakan dalam kepentingan transfusi adalah sitrat. digunakan karena dapat mempertahankan darah teatp cair dengan cara mengikat kalsium (Ca² +) dalam darah, aman bagi manusia, efek samping keracunan terjadi apabila digunakan dengan konsentrasi tinggi berupa gejala kesemutan sekitar mulut, rasa tertekan pada diafragma akibat turunnya kadar kalsium (Ca² +) dalam darah. Netralisasi sitrat dengan memberikan kalsium glukonas 10% sebanyak 10 mL untuk dewasa dan 4-6 mL untuk bayi. Keracunan dapat terjadi pada transfusi masif dan cepat, transfusi pada pasein gangguan hati, transfusi tukar pada bayi 5 mL/unit. Sedangkan bahan pengawet yaitu bahan - bahan yang diperlukan untuk metabolisme sel. 

Berikut ini adalah jenis antikoagulan dan pengawet darah dalam penyimpanan bentuk cair, antara lain :

  1. Natrium sitrat konsentrasi 3,4 3,8%, dapat mengawetkan darah selama 2-3 hari pada suhu 4°C
  2. ACD = Acid - Citric Dextrose, dengan penambahan dektrosa masa simpan dapat diperpanjang menjadi 3 minggu (21 hari)
  3. CPD = Citric - Phosphate - Dextrose, dengan penambahan senyawa phospat, maka sel darah mendapat tambahn sumber energi. Larutan CPD lebih baik jika dibandingkan larutan ACD, yaitu hemolisis lebih kecil dan viabilitas sel post transfusi juga lebih baik, dan fungsi transpot oksigen lebih baik. Masa simpan darah dalam larutan CPD adalah 28 hari
  4. CPD - A = Citric - Phosphate - Dextrose - Adenine, dengan penambahan 17 mg adenin ke komposisi CPD dapat memperpanjang masa simpan menjadi 35 hari (5 minggu)
  5. Larutan aditif, terdiri AS - 1 (Adsol), AS - 3 (Nutricel) dan AS - 5 (Optisol) dapat memperpanjang masa simpan menjasi 42 hari. 

C. PENYIMPANAN DARAH DONOR

Penyimpanan darah donor secara invitro, dibagi menjadi dua yaitu penyimpanan dalam bentuk cair dan enyimpanan dalam bentuk beku.

1. Penyimpanan dalam bentuk cair

Setiap komponen darah mempunyai temperatur simpan optimal yang berbeda beda. Eritrosit dalam bentuk cair, temperatur optimal 4 ± 2°C dan metabolisme 1/40 pada suhu 37°C. Temperatur maksimum dalam penyimpanan darah adalah 10°C, jika di atas temperatur tersebut perusakan eritrosit berlangsung cepat. Temperetur 0°C dapat merusak eritrosit, karena terjadi pembekuan air yang dapat merusak membran sel kecuali dengan proses tertentu.

2. Penyimpanan dalam bentuk beku

Tujuan penyimpanan darah dalam bentuk beku adalah untuk memperpanjang masa simpan darah invitro. Komponen darah yang bisa disimpan dalam bentuk beku diantaranya : erirosit, trombosit, sel induk darah (stem sel). Disamping itu kriopresipitat, dan FFP juga disimpan dalam bentuk beku. Penyimpanan beku trombosit dinilai kurang efisien karena kerusakan trombosit pada penyimpanan beku lebih dari 5%. Untuk menyimpan beku eritrosit, dipakai pelindung gliserol dalam kadar yang kecil gliserol tidak toksik bagi tubuh. Untuk menyimpan beku sel induk darah (stem sel) dan trombosit dipakai Dimetil Sulfoksida (DMSO).

3. Alat penyimpanan darah secara invitro

(Gambar 2 : Alat penyimpanan komponen darah) 
https://gesundemedical.com


D. EFEK PENYIMPANAN DARAH INVITRO

1. Perubahan bentuk dan daya hidup sel

Daya hidup eritrosit akan menurun sebanding dengan masa simpan. Pada saat penyadapan hancur 1-5%, apabila disimpan 2 minggu dalam ACD sel erirosit hancur sekitar 10%, dan 4 minggu dalam ACD sel eritrosit musnah mencapai 25%. 

Daya hidup trombosit menurun sebanding dengan masa simpan dan temperatur simpan. Daya hidup trombosit pada suhu 2-6°C lebih buruk dibandingkan pada suhu 18 22°C.

Daya hidup leukosit menurun dengan cepat sebanding dengan masa simpan . Masa simpan 48 jam terjadi perubahan bentuk, sedangkan masa simpan 72 jam fungsi leukosit hilang.

2. Perubahan kadar ATP 

Akibat penurunan kadar ATP, maka terjadi hilangnya lipid membran sel, perubahan bentuk sel dari bentuk bikonkaf menjadi bulat, berkurangnya elastisitas sel sehingga menjadi kaku.

3. Perubahan kadar 2,3 DPG

 Akibat penurunan kadar 2,3 DPG, maka daya ikat oksigen pada molekul hemoglobin menjadi kuat, pelepasan oksigen ke jaringan menjadi berkurang. Darah dengan 2,3 DPG rendah tidak menambah oksigenisasi jaringan walaupun kadar hemoglobin naik. Darah dengan 2,3 DPG rendah tidak tepat untuk pasien yang memerlukan oksigenisasi cepat / resusitasi.

4. Perubahan elektrolit 

Peningkatan Kalium (K) plasma, disebabkan karena sel tidak mampu mempertahankan Kalium (K) dalam sel, akibatnya masuknya natrium (Na +) beserta air ke dalam sel. Darah dengan kalium plasma yang tinggi kurang tepat untuk penderita penyakit ginjal.

5. Perubahan asam laktat dan pH 

Perubahan pH disebabkan penumpukan asam laktat sebagai hasil akhir proses glikolitik oleh sel eritrosit. Dengan bertambahnya asam laktat akan menyebabkan penurunan pH (asam)

6. Perubahan amonia 

Disebabkan penghancuran / destruksi protein. Darah dengan amoniak plasma yang tinggi kurang tepat untuk penderita penyakit hati.

7. Peningkatan Hb plasma 

Peningkatan Hb plasma dikarenakan banyaknya eritrosit yang lisis.

8. Perubahan faktor pembekuan 

Diantara faktor pembekuan F I sampai dengan F XIII, F V dan F VIII merupakan faktor pembekuan labil secara invitro. Faktor ini hanya bertahan selama 4-6 jam dalam keadaan invitro, sehingga darah simpan tidak mengandung F V dan F VIII (labile factor)

9. Perubahan metabolisme sel 

Perubahan pH menjadi asam menyebabkan terganggunya fungsi enzim - enzim untuk metabolisme sel, sehingga mmetabolisme sel terganggu dan sel akan lisis. Tabel di bawah ini menggambarkan perubahan biokima sel darah putih dan sel darah merah selama penyimpanan secara invitro.


Sumber : Nurhayati B, Noviar G, Kartabrata E dkk. 201. Penuntun Praktikum Imunohematologi Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Bandung. Bandung : Analis Kesehatan.



Post a Comment

0 Comments