Pengolahan Limbah Laboratorium Patologi Anatomi



Pengolahan Limbah Laboratorium patologi anatomi
Sumber : https://greenideas.com

Pengolahan Limbah

Seperti yang telah kita ketahui, bahwa laboratorium patologi anatomi merupakan salah satu bagian dari fasilitas kesehatan guna mendukung tenaga kesehatan untuk menentukan diagnostik pasti dari suatu penyakit seperti kanker. Fasilitas perawatan kesehatan dibangun guna mencegah dan mengobati penyakit, sayangnya dibalik fasilitas itu, instansi ini merupakan kontributor penghasil limbah lingkungan. Limbah lingkungan yang dikeluarkan oleh laboratorium ini pada umumnya adalah bahan kimia. 

Limbah patologis adalah jenis yang sangat umum yang berasal dari limbah yang dihasilkan oleh berbagai fasilitas kesehatan dan penelitian serta pengujian instrumen yang ada di fasilitas kesehatan. Limbah laboratorium patologi anatomi dapat berasal dari tubuh manusia ataupun hewan. Limbah yang berasal dari laboratorium patologi anatomi masuk ke dalam subkategori dari limbah biohazardous. Sumber limbah biasanya berasal dari pembedahan atau penelitian yang melibatkan pengambilan organ, jaringan atau bagian tubuh lainnya serta bahan - bahan pengolahan pembuataan sediaan histologik maupun sitologi. Tiga reagen dengan volume tertinggi yang dibuang oleh laboratorium patologi anatomi adalah formalin, alkohol dan larutan pembeningan ( xilol ). Ketiga bahan kimia itu dapat pula dilakukan daur ulang, namun tetap menghasilkan dampak lain ke lingkungan. Pada dasarnya formalin dapat diganti dengan fiksatif berbasis glyoxal yang efektif yang dapat dibuang dimana saja karena biodegradabilitasnya yang tinggi dan toksisitas air yang rendah, namun kembali lagi bahwa mekanisme tersebut membutuhkan biaya yang tinggi. Pembuangan inilah yang biasa kita sebut dengan limbah patologis. 

Pilihan untuk pembuangan limbah bahan kimia berbahaya sangat bergantung pada peraturan nasional dan lokal, namun rekomendasi berikut harus berlaku di manapun.

  • Pertama, simpanlah aliran limbah yang terpisah. Jangan mencampur bahan kimia yang berbeda bersama kecuali disuruh melakukannya oleh petugas limbah yang memenuhi syarat.
  • Kedua, mengetahui bahaya dari limbah. Apakah mudah terbakar ? Larut air ? Racun ? Masing masing faktor ini mempengaruhi pilihan metode pembuangan.

Pilihan terbaik untuk pembuangan adalah menuangkan limbah ke saluran pembuangan sanitasi, dari situ bisa dilakukan pengolahan terlebih dahulu sebelum memasuki lingkungan. Limbah seperti itu bagaimanapun, tidak boleh membahayakan proses biologis yang dilakukan oleh fasilitas pengolahan limbah juga tidak harus melewati sistem yang tidak diolah.

Contoh yang pertama adalah formaldehid dengan kekuatannya dan kuantitas yang cukup untuk membunuh bakteri pada proses pengolahan. Bahan limbah berupa formaldehida mudah terurai secara hayati. Hampir semua organisme memiliki enzim, formaldehida dehidrogenase akan menguraikan zat kimia ini. Caranya adalah dengan mengalirkan ke dalam sistem pengolahan dengan aliran yang cukup lambat sehingga akan diencerkan di bawah konsentrasi racun oleh aliran air yang normal. Jangan sekali - kali mencairkan bahan beracun sebelum menuangkannya ke saluran pembuangan, atau memasukkannya ke pembuangan dengan' pembilasan menggunakan jumlah air yang berlebihan'. Tindakan ini akan meningkatkan volume yang melewati pengolahan dan akan memperpendek waktu tinggal dan dapat merusak biodegradasi.

Bekerjalah dengan otoritas pengolahan air limbah di lingkungan Anda, beritahu mereka tentang sifat limbah ( komposisi kimia dan karakteristik berbahaya ), dan tawarkan lembaran data keselamatan bahan buangan. Usulkan rencana pembuangan yang meliputi volume limbah, jangka waktu pembuangannya, dan frekuensi pembuangan. Misalnya, Anda mungkin ingin membuang sejumlah besar formalin limbah yang mengandung formaldehida 3,7% atau 37.000 ppm selama periode 1 jam setiap hari kerja. Hal ini bisa dilakukan dengan bak pembuangan yang dilengkapi dengan pengaturan keran yang disesuaikan sehingga butuh waktu tertentu untuk menjadi kosong. Tidak akan ada resiko ketika buangan formalin dialirkan dengan laju aliran 2 ml/ detik. Jangan membuang sejumlah besar sampah sekaligus karena tidak baik. Hal ini dikarenakan sampah tersebut cenderung melakukan perjalanan dengan lambat dan mungkin gagal untuk diencerkan di pengolahan limbah. 

Beberapa limbah dapat dianggap diterima untuk pembuangan. Asam dan basa dapat dinetralkan dan formalin dapat didetoksifikasi dengan produk komersial. Pastikan proses pretreatment aman, efektif dan dapat diterima. Jangan pernah mencoba mendetoksifikasi formalin dengan mencampur dengan pemutih ( sodium hipoklorit ) atau amonia. Kedua reaksi bersifat eksotermik dan dengan cepat bisa lepas kendali, menghasilkan uap dan cairan panas ke seluruh laboratorium. Ketahuilah dengan pasti produk reaksinya, dan pastikan kadar toksisitasnya hingga konsentrasi yang sangat rendah. Pelarut yang tidak larut dalam air tidak pernah dialirkan satu kali, bahkan jika larutan tersebut mudah terbiodegradasi. Jika bahan kimia mudah terbakar dengan nilai kalori yang cukup tinggi, bahan kimia tersebut mungkin harus dicampur terlebih dahulu dengan bahan bakar dalam sistem pembakaran. Kandidat yang baik untuk pilihan ini adalah agen pembeningan kecuali kloroform pelarut halogen, trikloroetana dan turunannya. Perhatikan bahwa bahan kimia yang memiliki metode ini tidak boleh membakar limbahnya dalam insinerator. Perbedaannya memang sangatlah tipis tapi penting untuk diperhatikan. Insinerator ada untuk tujuan menghancurkan limbah. Jika Anda tidak bisa membuang limbah dengan pembuangan atau pembakaran, harus menggunakan pihak ketiga. Di beberapa negara, bertanggung jawab atas limbah yang diambil orang lain dan seharusnya ditangani dengan benar, sehingga siapapun pihak ketiga tersebut. Anda tetap bertanggung jawab atas hasil buangan limbah yang sebelum diolah maupun yang sudah di olah. 

Jika Anda menghasilkan limbah yang harus dikeluarkan dari tempat dan dilakukan penguburan atau insinerasi, Anda harus melakukan segala kemungkinan untuk menghilangkan zat kimia itu dari laobratorium Anda. Pengolahan limbah harus diperhatikan dari perspektif finansial, kesehatan, dan lingkungan.

Sumber : Bancroft J.D , Gamble M. ( 2008 ). Theory and Practice of Histological Techniques. Philadelphia : Elsevier & Bahan Ajar Teknologi Laboratorium Medik

Post a Comment

0 Comments