Penanganan Limbah Laboratorium

(Image : Antara Foto

PENANGANAN LIMBAH 

Laboratorium dapat menjadi salah satu sumber penghasil limbah cair, padat dan gas yang berbahaya bila tidak ditangani secara benar. Karena itu pengolahan limbah harus dilakukan dengan semestinya agar tidak menimbulkan dampak negatif.

1. Sumber, sifat dan bentuk limbah 

Limbah laboratorium dapat berasal dari berbagai sumber :

  • bahan baku yang sudah kadaluarsa
  • bahan habis pakai (misalnya medium perbenihan yang tidak terpakai)
  • produk proses di dalam laboratorium (misalnya sisa spesimen)
  • produk upaya penanganan limbah (misalnya jarum suntik sekali pakai setelah diotoklaf). 

Penanganan limbah antara lain ditentukan oleh sifat limbah yang digolongkan menjadi :

  • Buangan bahan berbahaya dan beracun
  • Limbah infektif
  • Limbah radioaktif
  • Limbah umum.

Setiap jenis limbah dibuang dalam wadah tersendiri yang diberi label sesuai peraturan yang ada. Yang harus dilakukan oleh si pengirim :

  • Hubungi pemberi jasa transportasi dan si penerima untuk menjamin agar spesimen diantar dan diperiksa segera
  • Siapkan dokumen pengiriman
  • Atur rute pengiriman, jika mungkin menggunakan penerbangan langsung
  • Kirimkan pemberitahuan secara teratur tentang semua data transportasi kepada si penerima. 

Bahan infeksi seharusnya tidak dikirim sebelum ada kesepakatan diantara pengirim, Untuk pemberi jasa transportasi dan penerima atau sebelum si penerima memastikan dengan yang berwenang bahwa bahan tersebut boleh dimasukkan ke daerah tersebut dengan sah serta tidak akan terjadi keterlambatan dalam pengiriman paket ke tujuannya. Penerima bertanggung jawab untuk : 

  • Mendapatkan ijin yang diperlukan dari yang berwenang
  • Mengirimkan ijin impor, surat yang diperlukan atau dokumen lain yang disyaratkan oleh pejabat dari tempat asal spesimen
  • Segera memberitahukan si pengirim jika bahan kiriman telah diterima. 

Bentuk limbah yang dihasilkan dapat berupa : 

  • Limbah cair : Pelarut organik, bahan kimia untuk pengujian, air bekas pencucian alat, sisa spesimen (darah dan cairan tubuh).
  • Limbah padat : Peralatan habis pakai seperti alat suntik, sarung tangan, kapas, botol spesimen, kemasan reagen, sisa spesimen (ekskreta) dan medium pembiakan.
  • Limbah gas : Dihasilkan dari penggunaan generator, sterilisasi dengan etilen oksida atau dari termometer yang pecah (uap air raksa).

2. Penanganan dan penampungan 

a).  Penanganan 

Prinsip pengelolaan limbah adalah pemisahan dan pengurangan volume. Jenis limbah harus diidentifikasi dan dipilah - pilah dan mengurangi keseluruhan volume limbah secara kontinue. Memilah dan mengurangi volume limbah klinis sebagai syarat keamanan yang penting untuk petugas pembuangan sampah, petugas emergensi, dan masyarakat. 

Dalam memilah dan mengurangi volume limbah harus mempertimbangkan hal - hal berikut ini : 

  • Kelancaran penanganan dan penampungan limbah
  • Pengurangan jumlah limbah yang memerlukan perlakuan khusus, dengan pemisahan limbah B3 dan non- B3.
  • Diusahakan sedapat mungkin menggunakan bahan kimia non - B3.
  • Pengemasan dan pemberian label yang jelas dari berbagai jenis limbah untuk mengurangi biaya, tenaga kerja dan pembuangan. Kunci pembuangan yang baik adalah dengan memisahkan langsung limbah berbahaya dari semua limbah di tempat penghasil limbah. Tempatkan masing masing jenis limbah dalam kantong atau kontainer yang sama untuk penyimpanan, pengangkutan dan pembuangan untuk mengurangi kemungkinan kesalahan petugas dan penanganannya.

b).  Penampungan 

Harus diperhatikan sarana penampungan limbah harus memadai, diletakkan pada tempat yang pas, aman dan hygienis. Pemadatan adalah cara yang efisien dalam penyimpanan limbah yang bisa dibuang dengan landfill, namun pemadatan tidak boleh dilakukan untuk limbah infeksius dan limbah benda tajam.

c).  Pemisahan limbah 

Untuk memudahkan mengenal berbagai jenis limbah yang akan dibuang adalah dengan cara menggunakan kantong berkode ( umumnya menggunakan kode warna ). Namun penggunaan kode tersebut perlu perhatian secukupnya untuk tidak sampai menimbulkan kebingunan dengan sistem lain yang mungkin juga menggunakan kode warna, misalnya kantong untuk linen biasa, linen kotor, dan linen terinfeksi di rumah sakit dan tempat - tempat perawatan.

d).  Standarisasi kantong dan kontainer pembuangan limbah

Keberhasilan pemisahan limbah tergantung kepada kesadaran, proseduryang jelas serta ketrampilan petugas sampah pada semua tingkat. Keseragaman standar kantong dan kontainer limbah mempunyai keuntungan sebagai berikut :

  • Mengurangi biaya dan waktu pelatihan staf yang dimutasikan antar instansi / unit.
  • Meningkatkan keamanan secara umum, baik pada pekerjaan di lingkungan rumah sakit maupun pada penanganan limbah di luar rumah sakit.
  • Pengurangan biaya produksi kantong dan kontainer.


Sumber : Good Laboratory Practice


DONASI VIA DANA Bantu berikan donasi jika artikelnya dirasa bermanfaat. Donasi sebesar Rp. 10.000 ini akan digunakan untuk memperpanjang domain www.infolabmed.com. Donasi klik Love atau dapat secara langsung via Dana melalui : 085862486502. Terima kasih.

Post a Comment

0 Comments