Komponen Darah

(Image : https://cjiinterd.com

A. DARAH DAN KOMPONEN PENYUSUNNYA 

Darah adalah jaringan cair pada tubuh manusia yang terdiri atas dua bagian yaitu plasma darah ( bagian cair darah ) sebesar 55% dan korpuskuler / sel darah ( bagian padat darah ) sebesar 45%. Sel darah terdiri dari tiga jenis yaitu eritrosit, leukosit dan trombosit. Volume total darah orang dewasa diperkirakan sekitar 5-6 liter atau 7% -8% dari berat tubuh seseorang.

(Gambar 1 : Komponen Darah) 
https://shutterstock.com


1. Plasma Darah 

Plasma darah adalah salah satu penyusun darah yang berwujud cair serta mempengaruhi sekitar 5% berat badan manusia. Plasma darah memilki warna kekuning kuningan yang didalamnya terdiri dari 90% air, 8% protein, 0,9% ( mineral, oksigen, enzim, antigen ) dan sisanya adalah bahan organik ( lemak, kolesterol, urea, asam amino, dan glukosa ). Plasma darah adalah cairan darah yang berfungsi mengankut dan mengedarkan sari - sari makanan ke seluruh bagian tubuh manusia, serta berfungsi mengangkut zat sisa metabolisme dari sel - sel tubuh atau dari seluruh jaringan tubuh untuk dibuang ke organ pengeluaran. Beberapa protein terlarut dalam plasma darah, antara lain :

  • Albumin berfungsi untuk memelihara tekanan osmotik.
  • Globulin berfungsi untuk pembentukan antibodi.
  • Faktor pembekuan darah untuk proses hemostasis.

Seperti telah disebutkan diatas bahwa darah yang berbentuk cairan terdapat sekitar 55% dari darah dan untuk mendapatkan bagian itu kita bisa lakukan dengan cara memutarnya dengan kecepatan 3000 rpm selama 30 menit. Sejumlah darah didalam wadah apabila dibiarkan, maka selang beberapa waktu kemudian darah tersebut akan membeku dan selanjutnya akan mengalami retraksi sehingga cairan didalam darah seolah - olah diperas keluar dari bagian yang padatnya. Proses pembekuan ini biasanya terjadi selama ½ - 2 jam dan proses retraksi yang sempurna terjadi selama 24 jam. Cairan yang diperas dari bekuan darah berwarna kuning, inilah yang disebut sebagai SERUM, yaitu cairan darah yang tidak mengandung fibrinogen karena dalam proses pembekuan tidak diberi anti pembeku darah sehingga fibrinogen diubah menjadi fibrin. Apabila darah itu diberi anti pembeku darah maka fibrinogen ini tidak diubah menjadi fibrin sehingga dalam cairan darah tersebut masih mengandung fibrinogen dan dikenal dengan PLASMA, itulah bedanya plasma dengan serum. 

2.Korpuskuler ( Bagian Padat Darah ) 

Bagian padat darah atau sel - sel darah, terdiri dari : 

a). Sel darah merah ( eritrosit ) 

Sel darah merah atau sering juga disebut eritrosit berasal dari bahasa Yunani, yaitu erythos yang berarti merah dan kythos yang berarti selubung atau sel. Eritrosit merupakan bagian darah yang mengandung hemoglobin (Hb). Hemoglobin merupakan biomolekul pengikat oksigen, sedangkan darah yang berwarna merah ini dipengaruhi oleh oksigen yang diserap dari paru - paru. Pada saat darah mengalir ke seluruh tubuh, hemoglobin melepaskan oksigen ke sel dan mengikat karbon dioksida. Jumlah hemoglobin pada orang dewasa kira - kira 11,5 sampai dengan 15,0 gram per cc darah. Normal kadar hemoglobin dalam darah akan bervariasi tergantung pada usia, jenis kelamin. Selain kedua faktor tersebut ketinggian suatu tempat juga berpengaruh terhadap kadar hemoglobin serta dipengaruhi juga oleh faktor makanan. 

Pada orang yang normal, konsentrasi hemoglobin pada orang yang tinggal di daerah dataran yang tinggi akan lebih tinggi kadar hemoglobinnya dari pada orang yang tinggal di dataran rendah, hal ini berhubungan dengan kadar oksigen di udara. Pada bayi yang baru lahir kadar hemoglobinnya tinggi diatas orang dewasa yaitu 17-23 gr/dl. Kadar hemoglobin ini akan menurun setelah bayi berumur 2 bulan yaitu sekitar 9-14 gr/dl. Pada usia 10 tahun kadar normalnya sekitar 12 14 gr/dL untuk wanita, sedangkan laki - laki 14-18 gr/dL. Angka normal ini akan menurun pada usia diatas 50 tahun. Sel darah merah memerlukan protein karena strukturnya terdiri dari asam amino dan memerlukan juga zat besi, sehingga diperlukan diet seimbang zat besi. Di dalam tubuh jumlah sel darah merah ini bisa berkurang, ataupun terjadi penurunan kadar hemoglobin dalam sel darah merah. Kadaan tersebut dikenal sebagai anemia yang biasanya bisa disebabkan oleh pendarahan hebat, anemia hemolitik, dan kelainan eritropoiesies. 

(Gambar 2 : Struktur Eritrosit) 
https://docplayer.info


Bentuk sel darah merah adalah cakram bikonkaf dengan diameter 6-8 um dan tebalnya sekitar 2 um. Eritrosit merupakan sel yang paling kecil jika dibandingkan dengan sel sel lain dalam tubuh manusia selain trombosit dan juga jumlahnya paling banyak jika dibandingkan dengan sel darah lainnya. Secara normal, didalam darah seorang laki - laki dewasa terdapat 25 trliliun sel darah merah atau setara dengan 5 juta sel darah merah dalam satu mm³. Sedangkan pada perempuan dewasa terdapat 4,5 juta sel darah merah dalam satu mm³. Masa hidup sel darah merah ( eritrosit ) adalah 120 hari. Proses dimana pembentokan eritrosit disebut eritropoiesies. Sel darah merah yang rusak akan pecah atau lisis dan menjadi partikel - partikel kecil dalam hati dan limpa. 

Sebagian besar sel darah merah akan dihancurkan di limpa, sebagian yang loos akan dihancurkan oleh hati. Organ hati menyimpan kandungan zat besi dari hemoglobin yang akan kemudian diangkut oleh darah ke sumsum tulang untuk membentuk sel darah merah yang baru. Sumsum tulang akan memproduksi eritrosit dengan laju produksi sekitar 2 juta eritrosit per detik. Produksi ini distimulasi oleh hormon eritropoeitin ( EPO ) yang di produksi oleh ginjal. Hormon ini juga sering digunakan para atlet dalam suatu pertandingan sebagai dopping. Eritrosit muda yang ada didalam darah dinamakan retikulosit yang masih mengandung asam ribonukleat ( RNA ). Retikulosit ini berjumlah 1 % dari semua darah yang beredar. Retikulosit terdapat pada sumsum tulang maupun darah tepi. Di dalam sumsum tulang memerlukan waktu kurang lebih 2-3 hari untuk menjadi sel yang matang, sesudah itu retikulosit akan masuk ke dalam darah. Retikulosit masuk ke sirkulasi darah tepid an bertahan kurang lebih selama 24 jam sebelum akhirnya mengalami pematangan menjadi eritrosit. Untuk mengidentifikasi RNA pada retikulosit harus menggunakan pewarnaan khusus . diantaranya brillian cressyl blue atau new methylene blue solution.

b).  Sel darah putih ( leukosit ) 

Sel darah putih atau leukosit memiliki ukuran yang ebih besar jika diabndingkan dengan eritrosit. Jumlah normal pada orang dewasa mengandung 4.000-10.000 sel leukosit /mm³. Tidak seperti sel darah merah, sel leukosit memiliki inti ( nukleus ) dan sebagian besar leukosit dapat bergerak seperti amoeba serta dapat menembus dinding kapiler. Sel darah putih di produksi dalam sumsum tulang, kelenjar limfa dan juga limpa. Sel darah putih memiliki ciri - ciri,  antara lain tidak berwarna ( bening ), bentuk tidak tetap ( amoeboid ) berinti, dan ukurannya lebih besar dari eritrosit. 

(Gambar 3 : Jenis Leukosit) 
https://avkimia.com


Berdasarkan ada tidaknya granula pada sitoplasma, leukosit dibagi menjadi : 

> Leukosit bergranula ( granulosit )

  • Neutrofil adalah sel darah putih yang paling banyak, yaitu sekitar 60%. Anda dua jenis neutrofil yaitu neutrofil batang ( stab ) dan juga neutrofil segmen. Neutrofil segmen disebut juga neutrofil polimorfonuclear karena inti selnya terdiri atas beberapa segmen ( lobus ) yang bentuknya bermacam - macam berjumlah 3 - 6 lobus dan dihubungkan dengan benang - benang kromatin. Apabila jumlah lobus pada neutrofil lebih dari 6 lobus, disebut dengan neutrofil hipersegmen. Granula sitoplasma mpak tipis dengan prosedur pewarnaan pada umumnya yaitu menggunakan pewarna giemsa. Jumlah neutrofil segmen kurang lebih 50-70% dari keseluruhan leukosit. Sedangkan neutrofil batang merupakan bentuk sel neutrofil muda dan sering disebut juga neutrofil tapal kuda. karena mempunyai inti seperti tapal kuda. Seiring pematangannya sel neutrofil batang ini bentuk intinya akan berubah menjadi bersegmen menjadi neutrofil segmen. Pada umumnya neutrofil berfungsi sebagai fagositosis terutama terhadap bakteri.Neotrofil bersirkulasi di dalam darah sekitar 10 jam dan dapat hidup selama 1-4 hari di dalam jaringan ekstravaskular. Sekali bermigrasi menuju jaringan ekstravaskular, neutrofil tidak akan kembali lagi ke dalam darah. Populasi neutrofil di sepanjang permukaan endotel pembuluh darah akan dengan cepat berubah pada saat terjadi stres atau infeksi.
  • Eosinofil mengandung granula kasar yang berwarna merah - orange ( eosinofilik ) yang tampak pada apusan darah tepi. Intinya bersegmen ( pada umumnya dua lobus ). Fungsi eosinofil juga sebagai fagositosis dan mengahsilkan antibodi terutama terhadap antigen yang dikeluarkan oleh parasit. Jumlah eosinofil normal adalah 2-4% dan akan meningkat bila terjadi reaksi alergi atau infeksi parasit.
  • Basofil mengandung granula kasar berwarna ungu atau biru tua dan seringkali menutupi inti sel yang bersegmen. Merupakan jenis leukosit yang jumlahnya paling sedikit yaitu <2% dari jumlah keseluruhan leukosit. Granula pada basofil mengandung heparin ( antikoagulan ) histamin, dan substansi anafilaksis. Basofil berperan dalam reaksi hipersensitivitas yang berhubungan dengan Imunoglobulin F ( IgF ). 

> Leukosit tidak bergranula ( agraulosit )

  • Limfosit adalah leukosit yang tidak bergranula yang jumlahnya kedua paling banyak setelah netrofil, yaitu 20-40 % dari total leukosit. Jumlah limfosit pada anak - anak relatif lebih banyak dibandingkan dengan jumlahnya pada orang dewasa, dan jumlah limfosit ini meningkat apabila terjadi infeksi virus. Ada beberapa jenis leukosit berdasarkan ukurannya, antara lain : Resting Lymphocyte, biasanya berukuran kecil ( 7-10μm ), hampir sama dengan ukuran eritrosit dengan inti sel berbentuk bulat atau oval. Reactive ( atypical ) Lymphocyte, berukuran paling besar dan jumlah meningkat apabila terjadi infeksi, misalnya mononukleosis. Large granular Lymphocyte, berukuran lebih besar daripada limfosit kecil yang mengandung granula kasar azurofilik. Limfosit ini berperan sel natural killer ( sel NK ) dalam imunologi. Berdasarkan fungsinya, limfosit dibagi atas sel B dan sel T. Sel B terutama berefek pada sitem imun humoral, yang berkembang ada sumsum tulang dan dapat ditemukan dalam limfonodus, limpa, dan organ lainnya selain berada dalam darah. Setelah terjadi rangsangan dari antigen, sel B akan berkembang menjadi sel plasma yang dapat memproduksi antibodi.
  • Monosit jumlahnya sekitar 3-8% dari total jumlah leukosit. Setelah 8-14 jam berada dalam darah, monosit menuju ke jaringan dan akan menjadi makrofag ( disebut juga histosit ). Monosit adalah jenis leukosit yang berukuran paling besar  Inti selnya. mempunyai granula kromatin halus yang menekuk menyerupai ginjal / biji kacang. Monosit mempunyai dua fungsi, yaitu sebagai fagosit mikroorganisme ( khususnya jamur dan bakteri ) dan benda asing lainnya serta berperan dalam reaksi imun.

> Keping - keping darah ( trombosit ) 

(Gambar 4 : Bentuk trombosit pada hapusan darah tepi) 
https://docplayer.com


Trombosit adalah sel darah yang berperan penting dalam proses hemostasis. Trombosit melekat pada lapisan endotel darah yang robek ( luka ) dengan membentuk plug atau sumbat trombosit. Trombosit tidak mempunyai inti sel, berukuran 1-4 µm dan sitoplasmanya berwarna biru dengan granula ungu kemerahan. Trombosit merpakan derivat dari megakariosit yaitu berasal dari fragmen - fragmen sitoplasma megakariosit. Normalnya dalam darah jumlah trombosit sekitar 150.000 sampai dengan 350.000 sel /mL darah. Granula trombosit mengandung faktor pembekuan darah, adenosin difosfat ( ADP ) dan adenosin trifosfat ( ATP ), kalsium, serotonin, serta katekolamin. Sebagian besar diantaranya berperan dalam merangsang mulainya proses pembekuan darah dan umur trombosit sekitar 10 hari. Pada saat kita mengalami luka, permukaan luka tersebut akan menjadi kasar. Jika trombosit menyentuh permukaan luka tersebut, maka trombosit akan pecah. Pecahnya trombosit ini akan menyebabkan keluarnya enzim trombokinase yang terkandung didalamnya. Enzim trombokinase dengan bantuan kalsium ( Ca ) dan vitamin K yang terdapat dalam tubuh, akan mengubah protrombin menjadi trombin. Selanjutnya trombin merangsang fibrinogen untuk membuat fibrin segera membentuk anyaman untuk menutup luka sehingga darah tidak keluar lagi.

B. FUNGSI DARAH 

Darah terbagi menjadi bagian cair ( plasma ) dan bagian padat ( sel darah ). Bagian bagian tersebut memiliki fungsi tertentu dalam tubuh. Secara garis besar tiga fungsi utama darah adalah sebagai berikut :

1. Sebagai transportasi subtansi berikut :

  • Transportasi O₂ dan CO₂ dengan jalur melalui paru - paru dan seluruh tubuh.
  • Transportasi nutrisi hasil pencernaan ke seluruh tubuh.
  • Transportasi hasil pembuangan tubuh untuk didetoksifikasi atau dibuang oleh hati dan ginjal.
  • Transportasi hormon dari kelenjar → target sel.
  • Membantu mengatur suhu tubuh.

2. Sebagai proteksi, darah banyak berperan dalam proses inflamasi :

  • Leukosit berfungsi menghacurkan mikroorganisme patogen dan sel kanker
  • Antibodi dan protein lainnya menghancurkan / mengeliminasi subtansi patogen
  • Trombosit menginisisasi faktor pembekuan darah untuk meminimalisir kelihangan darah.

3. Sebagai regulator, darah berperan dalam meregulasi ( mengatur ) :

  • pH oleh interaksi asam dan basa
  • Keseimbangan air dalam tubuh menjaga pertukaran air dari luar jaringan atau sebaliknya.


Sumber : Nurhayati B, Noviar G, Kartabrata E dkk. 201. Penuntun Praktikum Imunohematologi Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Bandung. Bandung : Analis Kesehatan.

Post a Comment

0 Comments