PEMERIKSAAN HEPATITIS C

(Image : https://healthcentral.com)

A. STRUKTUR DAN MORFOLOGI 

Hepatitis C adalah jenis yang paling berbahaya dari semua jenis virus hepatitis, karena infeksi ini biasanya tidak menimbulkan gejala sampai di tahapan akhir infeksi kronis. Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi hepatitis sampai akhirnya menderita kerusakan hati permanen beberapa tahun kemudian, saat dilakukan tes medis rutin. Pada tahun 1980 - an timbul sejumlah kasus hepatitis yang menyebar melalui transmisi parenteral. Virus ini tidak dapat dikatagorikan dalam kelompok atau tipe virus hepatitis yang ada saat itu , yaitu virus hepatitis A, B dan Delta. Seiring dengan perkembangan teknologi ditemukanlah metode isolasi dan karakterisasi RNA virus. Virus ini kemudian dikenal dengan virus hepatitis C dan merupakan penyebab dominan kasus infeksi akibat virus hepatitis non A dan non B (NANBH). Hepatitis C adalah peradangan hati yang disebabkan oleh virus hepatitis C (hepatitis C virus/HCV), yaitu virus yang bergenom RNA untai tunggal dan dikatagorikan ke dalam kelompok Flaviviridae. Dalam perjalanan penyakitnya hepatitis C dapat menjadi infeksi akut dan infeksi kronis, dimana dari infeksi kronis tersebut dapat berkembang menjadi fibrosis dan kanker hati. Hepatitis C juga berpotensi menjadi kejadian luar biasa (KLB). Oleh sebab itu penyakit hepatitis C masih termasuk dalam masalah kesehatan utama di indonesia.

(Gambar : Struktur virus Hepatitis C) 
https://unmul.ac.id


B. CARA PENULARAN

Pada umumnya cara penularan HCV adalah parental. Semula penularan HCV dihubungkan dengan transfusi darah atau produk darah, melalui jarum suntik. Tetapi setelah ditemukan bentuk virus dari hepatitis makin banyak laporan mengenai cara penularan lainnya yang umumnya mirip dengan cara penularan HBV, yaitu : 

  1. Penularan horizontal : Penularan HCV terjadi terutama melalui cara parental, yaitu tranfusi darah atau komponen produk darah, hemodialisa, dan penyuntikan obat secara intravena.
  2. Penularan vertikal  : Penularan vertikal adalah penularan dari seseorang ibu pengidap atau penderita Hepatitis C kepada bayinya sebelum persalinan, pada saat persalinan atau beberapa saat persalinan.

C. GEJALA KLINIS 

Manifestasi klinis hepatitis virus C dikenal mulai dari hepatitis akut, fulminan, kronis, yang dapat berkembang menjadi sirosis atau kanker hati.

1. Infeksi Akut 

Umumnya infeksi akut HCV tidak memberi gejala atau hanya bergejala minimal. Hanya 20-30% kasus yang menunjukkan tanda - tanda hepatitis akut 7-8 minggu (berkisar 2 - 26 minggu) setelah terjadinya paparan. Infeksi virus hepatitis terbagi 3 fase, yaitu fase prodormal , fase ikterik, dan fase convalescent. Pada fase prodormal, onset terjadi pada hari 1-14, namun rata - rata timbul pada hari 5-7 setelah paparan. Keluhan yang sering yaitu malaise, fatique, mual dan muntah, kehilangan selera makan, demam, gejala flu, dan kebanyakan pasien mengeluh adanya nyeri pada perut kanan atas.

2. Infeksi Kronis 

Infeksi akan menjadi kronik pada 70-90% kasus dan sering kali tidak menimbulkan gejala apapun walaupun proses kerusakan hati berjalan terus. Adapun kriteria dari hepatitis kronis adalah naiknya kadar transaminase serum lebih dari 2 kali nilai normal, yang berlangsung lebih dari 6 bulan. Hilangnya HCV setelah terjadinya hepatitis kronis sangat jarang terjadi. Jangka waktu dimana berbagai tahap penyakit hati berkembang sangat bervariasi. Diperlukan waktu 20 - 30 tahun untuk terjadinya sirosis hati yang sering tejadi pada 15-20% pasien hepatitis C kronis. Progresivitas hepatitis kronik menjadi sirosis hati tergantung beberapa faktor resiko yaitu : asupan alkohol, infeksi dengan virus hepatitis B atau Human Immunodeficiency Virus ( HIV ), jenis kelamin laki - laki, usia tua saat terjadinya infeksi dan kadar CD4+ yang sangat rendah. Bila telah terjadinya sirosis, maka risiko terjadinya karsinoma hepatoselular adalah sekitar 1-4% pertahun. Karsinoma hepatoseluler dapat terjadi tanpa diawali dengan sirosis, namun hal ini jarang terjadi.

D.  METODE PEMERIKSAAN

1. Uji serologi 

Uji serologi yang berdasarkan pada deteksi antibodi telah membantu mengurangi risiko infeksi terkait transfusi. Sekali pasien pernah mengalami serokonversi, biasanya hasil pemeriksaan serologi akan tetap positif, namun kadar antibodi anti - HCV akan menurun secara gradual sejalan dengan waktu pada sebagian pasien yang infeksinya mengalami reaksi spontan. Antibodi terhadap HCV biasanya dideteksi dengan metode enzyme immunoassay yang sangat sensitif dan spesifik. Enzyme immunoassay generasi k-3 yang banyak dipergunakan saat ini mengandung protein core dan protein struktural - struktural yang dapat mendeteksi keberadaan antibodi dalam waktu 4-10 minggu infeksi. Antibodi anti - HCV masih tetap dapat terdeteksi selama terapi maupun setelahnya tanpa memandang respon terapi yang telah dialami, sehingga pemeriksaan anti - HCV tidak perlu dilakukan kembali apabila sudah pernah dilakukan sebelumnya.

2. Uji HCV RNA 

HCV RNA dapat terdeteksi dan diukur dengan teknik amplifikasi termasuk reverse transcription polymerase chain reation (RT - PCR). Genotip HCV dapat dinilai dengan analisis phylogenetic dari rantai nukleotida atau deteksi mutasi point spesifik subtipe pada RT-PCR amplifikasi RNA. HCV RNA dideteksi dalam waktu 2 minggu infeksi dan juga digunakan untuk konfirmasi terjadinya infeksi akut. Bagaimanapun uji HCV RNA yang rutin tidak dianjurkan secara langsung karena standarisasi uji tersebut yang masih rendah.

3. Biopsi Hati 

Biopsi hati secara umum direkomendasikan untuk penilaian awal seorang pasien dengan infeksi HCV kronis. Biopsi berguna untuk menentukan derajat beratnya penyakit (tingkat fibrosis) dan menentukan derajat nekrosis dan inflamasi. Pemeriksaan ini juga bermanfaat untuk menyingkirkan kemungkinan adanya penyebab hati yang lain, seperti fitur alkoholik, non-alcoholic steatohepatits (NASH), hepatitis autoimun, penyakit hati drug induced atau overload besi.

1. Pemeriksaan HCV 1/2 Metode Rapid Test

Prinsip

Pemeriksaan rapid tes ini merupakan uji kualitatif untuk mendeteksi antibodi spesifik untuk HCV dalam serum atau plasma. Pada bagian sampel (S) membran strip dilekatkan antigen recombinant HCV dan colloid gold conjugate yang berikatan dengan antibodi HCV pada sampel, kemudian bergerak pada membran kromatografi menuju daerah tes (T) yang telah dilekatkan antigen rekombinan HCV (antigen HCV Core, NS3, NS4, NS5), sehingga apabila terdapat antibodi HCV pada sampel akan membentuk garis nyata berwarna ungu pada daerah tes (T) yang merupakan ikatan komplek antigen - antibodi - antigen gold partikel dengan spesisfisistas dan sensitivitas yang tinggi. Kelebihan Antigen recombinan HCV dan colloid gold conjugate akan terus bergerak menuju area kontrol (C) yang telah dilapisi antibodi HCV rekombinan, sehingga berikatan dan membentuk garis merah pada area kontrol yang menunjukkan hasil pemeriksaan valid. 

Alat dan Bahan

  1. HCV Rapid test (test strip, diluent dan pipet kapiler) 
  2. Mikropipet (10 μL) 
  3. Tip kuning 
  4. Timer 
  5. Sampel pasien (serum atau plasma)

Cara kerja :

  • Siapakan alat dan bahan yang diperlukan, kemudian simpan pada suhu kamar
  • Buka kemasan kit pemeriksaan pada permukaan yang datar dan kering
  • Untuk sampel menggunakan pipet kapiler atau mikropipet, dipipet 10μL sampel darah dan masukkan ke dalam sampel well (S)
  • Tambahkan 3 tetes larutan diluent secara vertikal ke dalam sampel well (S)
  • Baca hasil pengamatan 5-20 menit
  • Peringatan : jangan membaca hasil lebih dari 20 menit 

Interpretasi Hasil: 

  • Negatif : hanya terbentuk satu garis pada daerah kontrol (C)
  • Positif : Terbentuk dua garis ungu, satu garis di daerah tes (T) dan satu garis di daerah kontrol (C)
  • Invalid : Tidak terbentuk garis pada daerah kontrol (C)

2. Pemeriksaan HCV Metode ELISA 

Prinsip

Test Microlisa HIV merupakan test berbasis Indirect ELISA. Protein recombinant HCV Core, protein NS3 dan sintetis peptida yang memiliki segmen antigenik, NS4 and NS5 regions dari virus hepatitis C dilekatkan pada sumur mikrotiter. Sampel dan kontrol ditambahkan ke dalam sumur dan di inkubasi. Apabila pada sampel terdapat antibodi HCV maka akan berikatan dengan antigen spesifik yang telah dilekatkan pada permukaan sumur. Plate kemudian dicuciu ntuk menghilangkan komponen yang tidak berikatan. Horseradish peroxidase (HRP) konjugat dan antihuman IgG ditambahkan ke dalam setiap well. Konjugat akan berikatan dengan komplek HCV antigen - antibodi yang terbentuk. Selanjutnya larutan substrat yang mengandung kromogen dan hidrogen peroksida ditambahkan pada setiap sumur dan diinkubasi. Warna biru yang terbentuk sebanding dengan jumlah antibodi HCV yang terdapat pada sampel. Kemudian perubahan warna yang terbentuk dihentikan oleh stop solution. Warna yang terbentuk dibaca pada ELISA reader dengan panjang gelombang 450nm / 630 nm. Apabila sampel tidak mengandung antibodi HCV, maka tidak akan terbentuk warna biru pada sumur.

Alat dan bahan :

  1. Reagen ELISA untuk deteksi antibodi HCV
  2. Mikropipet
  3. Timer Elisa
  4. reader Elisa
  5. Washer ELISA
  6. Inkubator37°C
  7. Vortex
  8. Sarung tangan
  9. Tisu atau kertas saring
  10. Sampel (serum atau plasma) 

Cara Kerja :

  • Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan. Simpan pada suhu kamar sebelum digunakan
  • Beri label setiap well. Label diberikan pada satu sumur (A1) sebagai blanko dan dua sumur (B1 & C1) sebagai negatif kontrol dan tiga sumur (D1 , E1 & F1) sebagai positif kontrol
  • Tambahkan 100μl positif dan negatif kontrol (langsung digunakan) sesuai label pada sumur
  • Tambahkan 100 μl larutan pengencer pada setiap sumur untuk sampel
  • Tambahkan 10μl sampel pada sumur yang ada larutan pengencer tadi dan homogenkan
  • Tutup mikroplate dan inkubasi pada suhu kamar (25-30°C) selama 30 menit
  • Cuci mikroplate sebanyak 5 kali dengan penambahan 300μl setiap sumur dengan larutan buffer pencuci. Hati - hati jangan sampai kontaminasi
  • Tambahkan 100μl larutan HRP konjugat pada setiap sumur
  • Tutup mikroplate dan inkubasi pada suhu kamar (25-30°C) selama 30 menit
  • Cuci mikroplate sebanyak 5 kali dengan penambahan 300μl setiap sumur dengan larutan buffer pencuci . Hati - hati jangan sampai kontaminasi
  • Tambahkan 100μl larutan TMB substrat pada setiap sumur
  • Tutup mikroplate dan inkubasi pada suhu kamar (25-30°C) selama 30 menit (keadaan gelap)
  • Hentikan reaksi dengan penambahan 100ul of the stop solution pada setiap sumur
  • Baca absorban pada panjang gelombang 450nm / 630nm dalam waktu 30 menit pada ELISA READER Dipipet 100 µl sample diluent dan masukkan ke sumur A - 1 well sebagai blank

Tes validitas :

  • Nilai absorban Blanko harus lebih kecil dari 0,150
  • Nilai absorban Negatif kontrol harus <0,250 
  • Nilai absorban Positif kontrol harus >0,60 

Interpretasi Hasil :

  • Spesimen dengan absorbansi kurang dari (<) nilai cut - off dinyatakan negatif
  • Spesimen dengan nilai absorbansi lebih besar atau sama dengan (>) nilai cut - off dinyatakan positif.


Sumber : Nurhayati B, Noviar G, Kartabrata E dkk. 201. Penuntun Praktikum Imunohematologi Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Bandung. Bandung : Analis Kesehatan.

Post a Comment

0 Comments