PEMERIKSAAN HEPATITIS B

(Image : https://istockphoto.com)

A. STRUKTUR DAN MORFOLOGI

Hepatitis B merupakan suatu penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis B, yaitu salah satu virus termasuk anggota famili hepadnavirus yang dapat menyebabkan peradangan hati akut atau kronis yang dapat berlanjut menjadi sirosis hati atau kanker hati. Hepatitis B akut jika perjalanan penyakit kurang dari 6 bulan sedangkan Hepatitis B kronis bila penyakit menetap, tidak menyembuh secara klinis atau laboratorium atau pada gambaran patologi anatomi selama 6 bulan.

(Gambar 1 : Struktur virus hepatitis B) 
https://repositiry.unmul.ac.id


Virus Hepatitis B (VHB) adalah virus (Deoxyribo Nucleic Acid) DNA terkecil berasal dari genus Orthohepadnavirus famili Hepadnaviridae berdiameter 40-42 nm. Masa inkubasi berkisar antara 15-180 hari dengan rata - rata inkubasi 60-90 hari. Bagian luar dari virus ini adalah protein envelope lipoprotein, sedangkan bagian dalam berupa nukleokapsid atau core. Genom virus hepatitis B merupakan molekul DNA sirkular untai - ganda parsial dengan 3200 nukleotida. 

B. CARA PENULARAN

Penularan virus hepatitis B (VHB) adalah melalui parenteral dan menembus membran mukosa, terutama berhubungan seksual. Penanda HBsAg telah diidentifikasi pada hampir setiap cairan tubuh dari orang yang terinfeksi yaitu saliva , air mata, cairan seminal, cairan serebrospinal, asites, dan air susu ibu. 

C. GEJALA KLINIS

Manifestasi klinis infeksi VHB pada pasien hepatitis akut cenderung ringan. Hepatitis B sulit dikenali karena gejala - gejalanya tidak langsung terasa dan bahkan ada yang sama sekali tidak muncul. Karena itulah, banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi. Virus ini biasanya berkembang selama 1-5 bulan sejak terjadi pajanan terhadap virus sampai kemunculan gejala pertama. Kondisi asimtomatis ini terbukti dari tingginya angka pengidap tanpa adanya riwayat hepatitis akut. 

D. METODE PEMERIKSAAN

Virus Hepatitis B terdapat dalam aliran darah dengan titer virus itu sendiri bervariasi. Dalam orang yang baru terinfeksi, DNA virus biasanya terdeteksi meskipun tidak selalu pada titer tinggi. Pada individu kronis, bila ditemukan DNA virus hepatitis B maka darah donor tersebut infeksius atau jika tidak ditemukan DNA virus dan viremia dengan titer sangat rendah atau tidak ada sama sekali, maka darah donor tersebut tidak infeksius. Skrining untuk antigen permukaan hepatitis B (HBsAg) menunjukkan infeksi dengan VHB, tetapi tidak dengan sendirinya membedakan antara infeksi baru dan kronis. 

1. Pemeriksaaan HBsAg metode rapid Test 

Prinsip pemeriksaan :

HBsAg dalam sampel akan berikatan dengan anti - HBs colloidal gold konjugat membentuk komplek yang akan bergerak melalui membran area tes yang telah dilapisi oleh anti - HBsAg. Kemudian terjadi reaksi membentuk garis berwarna merah muda keunguan yang menunjukkan hasil positif pada area tes. Apabila dalam sampel tidak terdapat HBsAg maka tidak akan menimbulkan garis merah pada area tes. Kelebihan anti - HBs colloidal gold konjugat akan terus bergerak menuju area kontrol (C) yang telah dilapisi anti IgG tikus dari serum kambing (anti - mouse IgG antibody), sehingga berikatan dan membentuk garis merah pada area kontrol yang menunjukkan hasil pemeriksaan valid. 

Cara kerja :

  1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
  2. Dilakukan pengambilan sampel
  3. Dimasukan darah kedalam tabung reaksi, diamkan selama 30 menit, kemudian di sentrifus selama 15 menit dengan kecepatan 3000 rpm
  4. Serum / plasma terbentuk kemudian dipindahkan ke tabung kosong lainnya
  5. Celupkan reagen strip kedalam tabung yg telah di isi sampel tadi sampai tanda batas pada strip, biarkan selama 15 menit.
  6. Pengamatan hasil tidak boleh dibaca lebih dari 20 menit.

Interpretasi Hasil :

  • Positif (+) Selain timbul garis merah pada daerah control (C), akan muncul 1 (satu) garis merah yang nyata di daerah test (T), hasil positif menyatakan adanya HBsAg. 
  • Negatif (-) Timbul 1 (satu) garis merah pada bagian kontrol (C), dan tidak ada garis merah di daerah test (T).
  • Invalid Sama sekali tidak muncul warna merah baik pada daerah test (T), maupun kontrol (C) merupakan adanya indikasi adanya kesalahan prosedur atau reagen test yang rusak.
(Gambar 2 : Interpretasi hasil) 
https://adocpub.com


2. Pemeriksaan HBsAg metode ELISA

(Gambar 3 : Pemeriksaan metode ELISA) 
https://wikipedia.com

Prinsip pemeriksaan:

Antibodi ganda "sandwich" imunosai yang menggunakan antibodi anti - HBsAg spesifik : antibodi monklonal HBsAg yang berada di dasar sumur mikrotiter dan antibodi poliklonal HBsAg ditambahkan dengan Horseradish Peroxidase (HRP) sebagai larutan konjugat. Selama pemeriksaan, adanya HBsAg dalam spesimen akan bereaksi dengan antibodi - antibodi tersebut untuk membentuk kompleks imun "antibodi- HBsAg-antibodi-HRP". Setelah materi yang tidak terikat tercuci selama pemeriksaan, substrat ditambahkan untuk menunjukkan hasil tes. Munculnya waRNA biru di sumur mikrotiter mengindikasikan HBsAg reaktif. Tidak adanya waRNA menunjukkan hasil non reaktif di spesimen 

Alat dan Bahan

Alat : 

  • Mikrotiter well 
  • Mikropipet
  • Tip Kuning dan Tip Biru
  • Inkubator
  • ELISA Reader 
  • ELISA Washer

Reagen :

  • Enzim Konjugat
  • Kontrol Positif
  • Kontrol Negatif
  • Sampel diluent
  • Color A dan B
  • Stop Solution 
  • Wash Buffer

Sampel  : serum pasien

Cara Kerja :

a). Pembuatan Wash Buffer

  • Wash buffer pekat dicampurkan dengan aquadest perbandingan (1:19) 
  • Campuran yang sudah jadi disimpan pada suhu ruang selama seminggu 

b). Prosedur Pemeriksaan

  1. Semua reagen dan specimen dikondisikan pada suhu ruang. 
  2. Siapkan nomor yang dibutuhkan untuk sumur, yang terdiri dari 1 sumur blanko, 2 sumur control positif, 2 sumur untuk control negatif dan 1 sumur untuk setiap specimen. Tulis nomor seri untuk control dan specimen pada kolom
  3. Spesimen diluents ditambahkan sebanyak 20l pada masing - masing sumur
  4. Spesimen, control negative, control positif ditambahkan sebanyak 100µl sesuai dengan kolom data. (sediakan 1 sumur untuk blanko)
  5. Kemudian dihomogenkan
  6. Plate diinkubasi pada incubator suhu 37°C ± 1 jam
  7. Enzyme conjugate ditambahkan pada setiap sumur + 50l
  8. Plate diinkubasi pada incubator suhu 37°C ± 30 menit
  9. Setiap sumur dicuci dengan wash buffer dengan prosedur : Pencucian yang dilakukan harus sesuai dengan petunjuk apabila ada pencucian yang tidak sempuRNA maka akan mempengaruhi hasil . Semua isi sumur dimasukkan pada labu cuci. Kemudian ditambahkan wash buffer 350 atau lebih. Pastikan tidak ada cairan di dalam tip dan setelah pemipetan terakhir.
  10. Color A & B dimasukkan pada setiap sumur sebanyak 50μl
  11. Plate diinkubasi pada waterbath / inkubator 37°C ± 30 menit
  12. Hentikan reaksi dengan penambahan 50l stopping solotion disetiap sumur
  13. Absorbansi setiap sumur dibaca pada 450nm & 630nm

Hasil pemeriksaan valid jika :

  • Nilai OD blanko kurang dari 0.100 (sumur dari kontrol blanko hanya berisi kromogen dan stop solution)
  • Nilai OD kontro negatif harus sama atau kurang dari (<) 0.100. Dieliminasi kontrol negatif dengan nilai OD lebih besar dari (>) 0.100. Jika 2 nilai keluar dari batas, pemeriksaan invalid dan harus di ulangi
  • Nilai OD kontrol positif sama atau lebih besar 0.500. Jika nilai OD kurang dari 0.500, pemeriksaan invalid dan harus di ulangi 

Interpretasi hasil :

  • Spesimen dengan absorbansi kurang dari (<) nilai cut - off dinyatakan negatif
  • Spesimen dengan nilai absorbansi lebih besar atau sama dengan nilai cut - off dinyatakan positif.


Sumber : Nurhayati B, Noviar G, Kartabrata E dkk. 201. Penuntun Praktikum Imunohematologi Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Bandung. Bandung : Analis Kesehatan.

Post a Comment

0 Comments