Hematoma Pasca Pengambilan darah : Penanganan, dan Pencegahan

 

Pengambilan darah (phlebotomi) adalah salah satu teknik yang digunakan ATLM (Ahli Tenaga Laboratorium Medik) guna untuk mengambil sejumlah darah untuk pemeriksaan laboratorium. Pengambilan darah biasa dilakukan di vena , arteri, dan kapiler, dengan volume tertentu dan pada tabung tertentu sesuai dengan permintaan pemeriksaan. Namun, di dalam pengambilan darah ada sejumlah rasa tidak nyaman oleh pasien, karena faktor penusukan dengan jarum suntik seperti rasa nyeri, memar, dan bengkak saat dan sesudah pengambilan darah. Hal itu disebut reaksi samping atau risiko tindakan medis.

HEMATOMA

Hematoma (perdarahan) adalah salah satu reaksi samping sesudah pengambilan darah. Hematoma yang terjadi di bawah kulit akan terlihat seperti memar. Hematoma hampir mirip dengan hemorrhagia. Namun, hemorragia terjadi saat peradangan sedang berlangsung. Sementara, hematoma biasanya darah pada keadaan sudah menggumpal. Gejala umumnya seperti :

1. Kemerahan;

2. Sensitivitas;

3. Rasa hangat;

4. Nyeri.

Hematoma merupakan penumpukan darah yang abnormal di luar pembuluh darah, yang terjadi akibat dinding pembuluh darah (vena, arteri, dan kapiler) rusak, sehingga terjadi kebocoran darah di dalam jaringan. Hematoma terjadi akibat penusukan yang kurang atau terlalu dalam dari vena, vena bergerak-gerak / bergeser saat ditusuk, tidak dilakukan fiksasi vena sehingga jarum menusuk ke segala arah, sehingga dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah, serta akibat penusukan berulang. Hematoma menyebabkan iritasi dan peradangan,  serta darah yang keluar dari pembuluh darah tersebut menyebabkan rasa nyeri pada jaringan sekitarnya. 

Ketika dinding pembuluh darah mengalami luka, tubuh akan merespon perbaikan dengan cara membentuk bekuan darah dan jaringan fibrin. Namun, apabila pembuluh darah mengalami tekanan yang kuat dan kerusakan dinding pembuluh darah yang luas, darah akan bocor lewat pembuluh yang rusak. Hal tersebut dapat membuat hematoma semakin besar.

Seorang ATLM harus bisa memberikan edukasi dan pendampingan terkait proses pengambilan darah dan reaksi samping (risiko) tersebut kepada pasien. Hal ini bertujuan agar pasien siap, tidak trauma untuk diambil darah kembali, dan mendapatkan informasi mengenai penangananan reaksi samping pasca pengambilan darah, terutama saat mengalami hematoma.

Edukasi Pasien Saat Pengambilan Darah

  1. Menjelaskan prosedur saat pengambilan darah;
  2. Menanyakan kondisi pasien apakah merasakan gelisah dan takut. Apabila pasien mengalami hal tersebut, alihkan perhatiannya dengan meminta menarik nafas sebelum penusukan;
  3. Memberikan penjelasan agar tidak menggerakkan tangan saat pengambilan darah;
  4. Apabila setelah melakukan pengambilan darah, mintalah pasien untuk tidak menekuk tangan agar meminimalisir terjadinya hematoma, dan tidak melepaskan kapas dan plester selama 15 menit untuk meminimalisir infeksi.

Saat Terjadi Hematoma

  1. Apabila dalam pengambilan darah terjadi hematoma, hal yang pertama dilakukan oleh ATLM adalah 
  2. Melepaskan torniquet;
  3. Menarik jarum;
  4. Memberi penekanan atau membebat pada daerah hematoma.

Edukasi Pasien saat Terjadi Hematoma

ATLM dapat memberikan edukasi pasien mengenai penanganan hematoma di bawah kulit dengan menggunakan metode RICE yakni :

  1. Rest (istirahat);
  2. Ice (kompres es 4-8 kali per hari selama 20 menit setiap kalinya);
  3. Compression (kompres dengan bebat elastis);
  4. Elevation ( meninggikan area yang cedera di atas tingkat jantung ). 

Kompres Dingin

Pemberian kompres dingin selain memiliki harga yang terjangkau, juga diketahui memiliki efek fisiologis dan efek koagulasi. Efek fisiologis tersebut meliputi vasokonstriksi pembuluh darah, memperlambat metabolisme jaringan, meningkatkan viskositas darah, dan anestesi lokal. Vasokonstriksi arteriol menyebabkan kecepatan aliran darah, dan permeabilitas darah berkurang, sehingga mengurangi perdarahan. Koagulasi darah, permeabilitas darah dan kebutuhan metabolisme yang berkurang akan berperan terhadap kontrol perdarahan, mengurangi ekimosis (perdarahan di dalam kulit) dan hematoma. Kompres dingin juga dapat memberikan rangsangan terhadap reseptor dingin pada kulit sehingga terjadi hambatan pembentukan rasa sakit. 

Obat Oles

Pemberian obat oles seperti thrombophop juga dapat dilakukan dengan mengoleskan ke daerah yang memar atau hematoma. Namun, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan bila memakai obat tersebut, dikarenakan kandungan yang ada di dalamnya. Maka dari itu, bila menggunakan obat tersebut akan lebih baik berkonsultasi ke dokter.


Sumber :

Reswari, P.A.D., Cahyadi, & R, T.W. 2021. Sosialisasi dan Pendampingan Penanganan Hematoma pada Pedonor Darah di UTD PMI Kota Surabaya Tahun 2019. Journal of Community Engagement in Health. 2(2): 518 -525

Baidhowy, A.S., Antarika, G.Y., Sungkono., R, A.B., & Listiani. 2021. Tinjauan Literatur : Penerapan Kompres Dingin untuk Mengurangi Nyeri dan Hematoma pada Pasien Post Percutaneous Coronary Intervention (PCI). Jurnal Perawat Indonesia. 5(3) : 784-793

Anggraheni, D., Legowo, P., Tambunan, M.E. Analisis Risiko Hematom pada Pengambilan darah (Studi Kasus : Klinik “P”). 2-34

Post a Comment

0 Comments