Golongan Darah Rh

 

(Image : https://shutterstock.com)

A.PENDAHULUAN

Sistem golongan darah Rh merupakan golongan darah utama selain ABO. Jenis golongan darah ini wajib diperiksa pada pemeriksaan pre-transfusi. Golongan darah Rh pertama kali ditemukan karena adanya reaksi transfusi pada seorang ibu yang melahirkan. Anak yang dilahirkan mengalami eritroblastosis fetalis (kelainan sel darah sehingga terjadi lisis eritrosit berlebih). Serum ibu tersebut mengaglutinasi sel darah yang ditransfusikan yang berasal dari suaminya, walaupun keduanya mempunyai golongan darah ABO yang sama.  Ternyata, kematian bayi tersebut dan reaksi transfusi yang terjadi pada ibu berhubungan. Selama kehamilan, ibu tersebut telah terekspos sel darah merah dari janin yang dikandungnya sistem imun ibu membuat Ab terhadap Ag dari sel darah merah bayi yang mempunyai Ag yang sama dengan ayah. Pada tahun berikutnya Landsteiner dan Wiener menemukan bahwa serum kelinci yang telah diimunisasi dengan sel darah merah dari kera Macacus rhesus dapat mengaglutinasi sel darah merah manusia Ag dan Ab tersebut diberi nama Rhesus. Akan tetapi, jenis Ag dan Ab tersebut berbeda dengan yang ditemukan pada kasus awal yaitu ibu yang melahirkan bayi eritroblastosis fetalis, walaupun pada awalnya jenis Ag dan Ab tersebut dianggap sama. Ab yang dihasilkan oleh ibu tersebut berbeda dengan Ab Rhesus, Karena sebutan Rhesus sudah digunakan luas daripada mengganti nama maka dipilihlah nama Rh untuk jenis Ab yang terbentuk di dalam darah Ibu tersebut.

B. POLA PEWARISAN 

Terdapat tiga teori yang melatarbelakangi pola pewarisan Ag Rh yaitu teori Wiener, Fisher Race dan Tippett. Gen Rh berada pada kromosom 1 dan diwariskan secara kodominan. Pola pewarisan berdasarkan teori Wiener yaitu satu gen dapat memproduksi lebih dari 1 jenis Ag dengan spesifisitas yang hampir sama yaitu Rhº, Rh1, Rh2 dan Rhz. Pola pewarisan berdasarkan teori Fisher-Race menyatakan bahwa terdapat 3 gen yang berdekatan. Tiap gen masing-masing mengekspresikan satu Jenis Agnya adalah:D, C, E atau e, dan tidak ada Ag d. Istilah Ag d digunakan untuk menyatakan tidak adanya Ag D. Teori Tippett menyatakan bahwa Ag Rh diturunkan dari 2 gen. Gen RHD memproduksi Ag D dan gen RHCE memproduksi Ag kombinasi C/E. Pendekatan teori Tippett menggunakan teknik biomolekular.

Setiap individu mendapatkan satu copy kromosom dari bapak dan ibu. Pada contoh berikut digambarkan bahwa anak tersebut menerima R1 dari ibu dan R2 dari ayah. Jenis Ag Rh yang diekspresikan adalah kombinasi gen yang ia terima dari kedua orangtuanya.

(Gambar 1 : Pewarisan Antigen Rh Dari kedua orang tua kepada anaknya)
https://docplayer.info)


Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa alel Rh bersifat kodominan. Pada anak yang mempunyai alel RHCe dan RHCE, maka keempat alel tersebut diekspresikan. Ilustrasi pola pewarisan Rh juga dapat digambarkan berdasarkan ada tidaknya Ag D. Individu Rh positif mempunyai genotip DD dan Dd. Individu Rh negatif mempunyai genotip dd Jika Ibu bergolongan darah Rh positif (heterozygot) dan ayah Rh positif (heterozygot), maka salah satu anaknya bergolongan darah Rh positif (homozygot / DD).

C. ANTIGEN RH

Sistem golongan darah Rh merupakan jenis golongan darah dengan jumlah Ag yang cukup banyak. Lima jenis Ag yang utama adalah Ag D, C, E, c dan e. Ag Rh dibawa oleh protein Rh (Rh-associated glycoprotein / RHAG) sehingga Ag dapat terekspresikan pada permukaan membrane eritrosit. Protein RhD mengekspresikan Ag D, sedangkan protein RhCcEe membawa Ag C / c atau E / e. Ag Rh merupakan jenis protein integral transmembran yang hanya terdapat di sel darah merah saja. Salah satu jenis Ag Rh yaitu Ag D bersifat sangat imunogenik (memacu pembentukan Ab). Ag Rh ternyata mempunyai fungsi mempertahankan integritas membran sel darah merah.

1. Weak 'D'

Sesuai dengan namanya, variasi golongan darah ini terjadi karena jumlah Ag D yang terekspresikan tidak banyak, sehingga menghasilkan reaksi aglutinasi yang lemah dengan reagen anti-D.  Weak 'D' disebabkan karena terjadi pergantian asam amino yang berada di area transmembran pada protein RhD. Hal tersebut menghalangi protein RhD (pembawa Ag) masuk ke area membran sel darah merah, sehingga mengurangi Ag Rh yang terekspresikan di membran sel darah merah. Weak 'D' biasanya dihubungkan dengan pola pewarisan Ro. Individu ini tidak bisa membentuk anti-D, Pada donor golongan darah ini digolongkan ke dalam Rh positif. Pada eritrosit dengan Ag D normal terdapat 15.000-30.000 tempat Ag/sel sedangkan eritrosit dengan weak D hanya mempunyai 70-5200 tempat Ag/sel.

2. Partial D 

Protein RhD merupakan jenis protein yang melintasi membran eritrosit, sehinggal terdapat bagian protein di luar dan di bagian dalam membran. Jika terjadi reaksi pergantian asam amino di protein bagian luar membran sel darah merah, maka epitop dari Ag D bisa berubah atau dapat juga terdapat bentuk Ag baru. Individu ini dapat membentuk anti-D terhadap bagian Ag yang hilang.

D. ANTI-RH

Berbeda dengan anti A dan B yang terbentuk secara alami di dalam tubuh, Ab Rh terbentuk kalau ada paparan dengan Ag Rh, baik pada proses transfusi maupun kehamilan Seperti telah dijelaskan sebelumnya Ag Rh mempunyai sifat imunogenik dan dapat merangsang respon imun pada 80% individu Rh negatif pada saat ditransfusi dengan 200 mL darah Rh positif sehingga menyebabkan reaksi hemolitik. Ab Rh juga bisa didapat melalui proses kehamilan dari perkawinan ibu Rh negatif dengan ayah Rh positif. sehingga Ibu mengandung bayi Rh positif. Pada kehamilan pertama eritrosit janin dapat masuk ke peredaran darah ibu pada saat pelepasan plasenta dari dinding rahim pada proses kelahiran dan ibu Rh negatif membentuk Ab dari bayi Rh positif. Pada kehamilan berikutnya, anti D yang terbentuk dari kehamilan pertama dapat melewati plasenta masuk ke dalam sirkulasi darah janin. Hal tersebut mengakibatkan sel darah merah janin diselimuti dengan Ab Rh sehingga sel darah merah bayi hemolisis. Kondisi ini disebut dengan Hemolytic Disease of Newborn (HDN).

(Gambar 2 : Proses terjadinya HDN) 
https://quora.com


Umumnya, jenis anti D yang terbentuk adalah jenis IgG dan sebagian IgM. Ab Rh tidak mengaktifkan komplemen, Reaksi optimal pada suhu 37°C. Reaktivitas untuk pengujian Ab dapat ditingkatkan dengan penambahan enzim. Selain anti D, anti c juga dapat menyebabkan reaksi HDN yang cukup parah. Anti C ,anti E dan anti e jarang menyebabkan HDN kalaupun terjadi reaksinya tidak terlalu parah. Pada individu dengan weak D tidak bisa membuat anti D sedangkan individu dengan partial D dapat terbentuk anti-D.  Deteksi weak D dan partial D penting pada proses transfusi darah. Jika donor mempunyai golongan darah weak D atau partial D maka harus dianggap sebagai Rh positif. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari transfusi ke pasien dengan Rh negatif. Sebaliknya, jika pasien mempunyai golongan darah weak D atau partial D maka harus dianggap sebagai Rh negatif supaya tidak terjadi reaksi aloimunisasi pada pasien.

Sumber : Nurhayati B, Noviar G, Kartabrata E dkk. 201. Penuntun Praktikum Imunohematologi Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Bandung. Bandung : Analis Kesehatan.

Post a Comment

0 Comments