Fiksasi Sediaan Sitologi

Foto : https://padmashree.in/

A. FIKSASI SEDIAAN SITOLOGIK

Layaknya spesimen jaringan, spesimen sel pun harus melalui yang namanya fiksasi. Fiksasi spesimen sitologi yang sempurna adalah prasyarat untuk diagnosis sitologi dengan benar. Jika fiksasi jaringan seperti yang disebutkan pada topik di atas hanya dilakukan dengan tahap perendaman, berbeda dengan fiksasi pada sediaan sitologik terbagi menjadi beberapa bagian yaitu fiksasi kering, fiksasi lembab dan fiksasi basah. Pada jenis fiksasi basah, sediaan sitologik harus direndam dalam larutan fiksasi terpilih segera setelah pengambilan spesimen sitologi masih dalam kondisi yang lembab. 

Fiksasi spesimen sitologi yang dilakukan dengan segera dilakukan guna mencegah pengeringan dan perubahan bentuk sel akibat faktor luar. Hasil dari fiksasi tersebut akan memungkinkan pewarnaan menjadi jelas dan tentunya menghasilkan diagnosis yang benar. Lain halnya ketika fiksasi sitologi dilakukan dengan teknik pengeringan, metode ini dilakukan untuk sel - sel yang relatif kuat dari faktor lingkungan dan digunakan untuk jenis pewarnaan yang memiliki prinsip sederhana. Idealnya fiksasi yang dilakukan pada sediaan sitologik hampir sama kriteria dengan fiksasi yang dilakukan pada sediaan jaringan. Kriteria - kriteria yang harus diperhatikan dalam fiksasi sediaan sitologik adalah :

  1. Mempenetrasi sel dengan cepat 
  2. Minimal menjaga sel dari kerusakan atau kehilangan komponen sel layaknya ketika sel masih dalam kondisi hidup. 
  3. Menjaga secara struktur sel maupun komponen sel (kimiawi, enzimatik, imunologi) Menghentikan proses metabolisme autolisis.
  4. Menghentikan pertumbuhan selular dan mikroorganisme. 
  5. Meningkatkan diferensiasi optik dan meningkatkan pewarnaan struktur dan komponen sel.

Seperti yang telah disebutkan di atas, fiksasi dari sediaan sitologik terbagi menjadi beberapa bagian yaitu : 

1. Fiksasi basah

Fiksasi basah merupakan tindakan fiksasi dimana sediaan sitologik masih dalam kondisi asah atau lembab. Metode ini adalah metode yang ideal untuk menjaga suatu sediaan sitologik baik sitologi ginekologi ataupun sitologi non - ginekologi. Larutan fiksasi basah dapat terdiri dari :

  • Alkohol 95-96% : Larutan ini merupakan lariutan fiksatif yang ideal yang dianjurkan di sebagian besar laboratorium sitologi. Hasil dari fiksasi ini menghasilkan karakteristik inti yang ideal. Alkohol 95-96 ini adalah larutan dehidrasi dan dapat menyebabkan penyusutan sel karena akan menggantikan air di dalam sel. Penggunaan ethanol absolutpun sebenarnya dapat dilakukan, namun biaya yang dikeluarkan relatif lebih besar. Dalam teori lain menyebutkan bahwa dengan pemberian alkohol 95-96% ini akan membuat sel menjadi lebih kuat merekat dengan kaca sediaan dibandingkan ketika sediaan basah dimasukkan ke dalam konsentrasi yang lebih rendah. 
  • Methanol absolut : Methanol absolut ini merupakan larutan fiksasi yang digunakan untuk sediaan berbasis cairan seperti Thin prep, Sure prep dan lain sebagainya. Penggunaan larutan ini sebenarnya baik karena menghasilkan sediaan yang tidak begitu menyusut jika dibanding dengan alkohol 95-96%. 
  • Eter alkohol 95% : Fiksasi basah menggunakan campuran eter : alkohol 95% = 1:1 merupakan fiksasi awal yang digunakan untuk fiksasi sediaan pap smear. Hasil dari fiksasi menggunakan campuran ini menghasilkan sediaan yang lebih baik dibanding dengan alkohol 95-96%. Namun eter yang digunakan memiliki sifat yang berbahaya, berbau dan mudah mengikat air di sekitar (higroskopis). 
  • Propanol dan isopropanol 80% :  Propanol dan isopropanol menyebabkan penyusutan sel lebih sedikit dari eter etanol atau metanol. Dengan menggunakan persentase lebih rendah dari alkohol ini penyusutan diseimbangi oleh efek pembengkakan akibat air yang ada dalam laritan fiksasi. Oleh karena itu 80% propanol atau isopropanol merupakan pengganti etanol 95-96% yang direkomendasikan. 
  • Denaturasi alkohol :  Denaturasi alkohol ini merupakan etanol yang telah diubah dengan penambahan aditif sehingga tidak cocok untuk dikonsumsi oleh manusia. Ada banyak formula yang berbeda untuk denaturasi alkohol. Namun dari semua denaturasi alkohol, pada dasarnya semua mengandung etanol sebagai bahan utama, dan karenanya ini dapat digunakan pada konsentrasi 95% atau 100%. Salah satu formulasi yang telah digunakan adalah campuran dari 90 bagian etanol 95% + 5 bagian 100% methanol + 5 bagian 100% isopropanol. 
  • Formalin Based Formalin Based yang digunakan untuk sediaan sitologik yang ditargetkan pada pemeriksaan imunologi 

2. Fiksasi "Coating" 

Fiksatif Coating merupakan fiksasi yang dilakukan untuk pengganti fiksatif basah. Fiksasi ini dilakukan dengan memberikan aerosol (penyemprotan) pada spesimen sitologi yang dibuat secara konvensional maupun dengan metode berbasis cairan. Fiksasi ini terdiri dari alkohol dan polietilen glicol yang berfungsi sebagai pelapis dari sediaan sitologik. Fiksasi dengan menyemprotkan lapisan diaphine (Hairspray) dengan kandungan alkohol yang tinggi dan minimal lanolin atau minyak dapat juga menjadikannya fiksatif yang efektif. Sebagian besar agen - agen ini memiliki aksi ganda dalam fungsinya yaitu dengan menjaga sel dari kerusakan (fiksasi) dan pada saat kering akan membentuk lapisan tipis sebagai pelindung di atas sediaan sitologik itu. Fiksatif ini sangatlah praktis untuk situasi di mana sediaan sitologik harus dikirim ke laboratorium sitologi yang berjarak jauh dari tempat pengambilan spesimen. Namun metode ini tidak dianjurkan untuk sediaan berbasis cairan dan jika tempat pengambilan spesimen tidak berjarak jauh dengan laboratorium sitologi. Jarak semprot antara sediaan dengan larutan fiksatif aerosol akan mempengaruhi hasil dari sediaan sitologik. Jarak yang ideal dalam penyemprotan adalah 10 sampai 12 inci (25-30 cm). Fiksasi " coating " ini tidak dianjurkan untuk sediaan sitologik yang banyak mengandung darah, hal ini dikarenakan akan terjadi penggumpalan eritrosit. Lilin dan minyak dari larutan fiksasi itu harus dibuang ketika hendak diwarnai dengan dengan cara perendaman di larutan alkohol 95% selama semalam.

3. Fiksasi Kering 

Fiksasi kering merupakan fiksasi yang dilakukan pada sediaan sitologik yang dilakukan dengan mengeringkan sediaan tersebut di udara terbuka (udara kering) atau dengan bantuan pemanasan hingga kering (penggunaan hotplate dengan suhu maksimum 50°C). Sediaan sitologik harus diproses dan dikeringkan dengan segera untuk menghindari munculnya artefak. Salah satu keuntungan dari fiksasi ini adalah pembuatan dan pewarnaan yang cepat (2-3 menit). Pewarnaan cepat berguna dalam penilaian awal dari kelayakan spesimen sebelum pasien diperkenankan untuk meninggalkan ruang pengambilan spesimen. Untuk sediaan yang menargetkan koloid, mucin, butiran sitoplasma endokrin dan lain - lain akan lebih baik jika dilakukan fiksasi kering. Hal ini juga berguna pada pasien dengan indikasi keganasan hematologi seperti limfoma atau leukemia

4. Fiksasi Khusus

  • Fiksasi Carnoy : Fiksasi ini adalah fiksasi yang dikhususnya untuk spesimen yang hemoragik. Asam asetat dalam larutan fiksatif ini akan melisiskan sel darah merah. Fiksasi ini sangat baik untuk melihat detai dari inti serta pengawet untuk glikogen. Namun fiksasi ini akan menghasilkan penyusutan pada sel dan cenderung menghasilkan pewarnaan yang lebih di hematoxylin. Kelebihan waktu dalam fiksasi inipun akan menyebabkan kerusakan pada materi kromatin. Ketika fiksasi ini digunakan, sediaan yang dibuat harus dalam kondisi segar dan segera dibuang ketika selesai pengamatan. Hal ini dikarenakan nilai efektivitasnya akan berkurang dan dapat menyebabkan negatif palsu dan selain itu dapat pula menghasilkan reaksi pembentukan asam hidroklorit dari khloroform yang digunakan.
  • Fiksasi Cair (FAA) :  Fiksasi ini merupakan fiksasi yang baik ketika akan membuat "cell block" ataupun dalam pengamatan sel dalam kondisi segar (penggunaan di parasit, mikologi dan lain sebagainya ).


Sumber : Bancroft J.D, Gamble M. (2008). Theory and Practice of Histological Techniques. Philadelphia : Elsevier.


Post a Comment

0 Comments