FAKTOR YANG MEMENGARUHI SAMPEL TOKSIKOLOGI KLINIK


Hasil analisis dalam toksikologi analitis dianggap tidak bermanfaat jika pengumpulan sampel, pengangkutan, dan penyimpanan tidak dilakukan dengan baik dan benar. meskipun analisisnya telah dilakukan dengan hati-hati. jadi, penting untuk memahami sifat dan stabilitas analit, sifat matriks sampel, dan keadaan dimana analisa harus dilakukan. Pendokumentasian sampel (asal, cara pengumpulan, pengangkutan, penyimpanan, dan data pendukung) harus dilakukan secara benar.

Darah menjadi sampel yang paling sering dibutuhkan karena relatif mudah dikumpulkan untuk analisis kuantitatif, namun diperlukan juga analisis kualitatif untuk memberikan informasi pendukung mengenai besarnya paparan dan tingkat keparahan suatu keracunan. ekskresi (udara yang dihembuskan, urin), atau sekresi (air liur, empedu) seringkali kurang mendukung dalam hal interpretasi data kuantitatif, namun sangat berguna dalam analisis kualitatif.

Variasi pengukuran kebutuhan bioanalitik bergantung pada subjek dan mencerminkan perubahan fisiologis normal, sementara subjek lain mungkin mencerminkan prosedur pengumpulan dan penanganan sampel. Spesimen postmortem merupakan masalah khusus karena secara umum informasi tentang konsentrasi analit dalam darah pada saat kematian diperlukan. Konsentrasi darah postmortem mungkin tidak secara akurat merepresentasikan konsentrasi darah perimortem karena beberapa alasan kondisi. pada postmortem, biasanya terjadi hemolisis, sementara haemostasis dapat menyebabkan perubahan komposisi seluler dari darah yang dijadikan sampel toksikologi. Adapun kemungkinan kontaminasi selama pengumpulan, misalnya dengan isi perut, dan kebocoran analit dari jaringan yang berdekatan, contohnya kebocoran potassium intraselular ke plasma yang dimulai sesaat setelah kematian.

Faktor yang memengaruhi sampel toksikologi klinik

(sumber: Buku Bahan Ajar Teknologi Laboratorium Medik - Toksikologi Klinik)

Sampel biologis sangat mungkin mengandung agen infektif sehingga perlu ditangani secara hati-hati, terutama jika berasal dari penyalahguna narkoba serta harus selalu diperlakukan seolah-olah infektif. Risiko penyakit yang utama berhubungan dengan TB, Hepatitis B, dan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Urine merupakan sampel yang paling tidak mungkin bersifat infektif. 

Referensi
  1. Rahayu, M & Solihat, M.F. (2018). Bahan Ajar Teknologi Laboratorium Medik (TLM) : Toksikologi Klinik. hal ; 1-3. BPPSDMK Kemenkes : Jakarta.




Post a Comment

0 Comments