Antigen (Ag) Pada Sel Darah Merah

(Image : https://istockphoto.com)

ANTIGEN (Ag) 

(Gambar : Ag Pada membran sel darah merah
https://basicmedicalkey.com

Imunohematologi yang diaplikasikan pada transfusi darah lebih mengutamakan reaksi antara antigen (Ag) pada sel darah merah dengan antibodi (Ab) pada serum/plasma. Istilah Ag selalu digunakan pada ruang lingkup analisis laboratorium, namun demikian ketika kita berbicara mengenai respon imun tubuh, maka Ab distimulus oleh substan asing yang dapat merangsang respon imun tubuh yang disebut dengan imunogen. 

Istilah imunogen dan antigen, secara teori sedikit berbeda, akan tetapi karena istilah Ag sudah digunakan secara luas, maka Ag dianggap sama dengan imunogen. Hal ini berarti, Ag yang dimaksud pada Ag yang bersifat imunogenik yang dapat merangsang respon imun untuk memproduksi Ab. Sebagai contoh, sel netrofil akan teraktivasi jika ada bakteri masuk ke dalam tubuh dan dapat menghasilkan Ab. Dalam hal ini, unsur bakteri merupakan Ag yang merangsang respon imun. Ag merupakan unsur biologis yang mempunyai bentuk dengan struktur kimia yang kompleks dan mempunyai berat molekul cukup besar untuk menstimulus Ab. Oleh karena itu, umumnya jenis Ag berasal dari molekul protein. Epitop (antigen determinan) merupakan bagian dari Ag yang bereaksi dengan Ab atau dengan reseptor spesifik pada limfosit T. Bentuk epitop biasanya kecil dengan berat molekul ± 10.000 Da. Epitop ini berada pada molekul pembawa sel darah merah, sehingga pada permukaan membran sel darah merah, terdapat banyak epitop yang menentukan spesifisitas dan kekuatan reaksi Ag dan Ab.

(Gambar : Epitop pada membran sel darah merah) 
https://courses.lumenlearning.com

Suatu substan dengan berat molekul <10.000 Da, seperti obat antibiotik umumnya tidak imunogenik, tetapi bila diikat pada protein pembawa yang cukup besar, maka akan membentuk suatu kompleks yang dapat merangsang respon imun untuk memproduksi Ab terhadap molekul tersebut. Substan tersebut adalah hapten, yang bentuk kompleksnya dapat bereaksi dengan Ab, tetapi ia sendiri tidak imunogenik.


(Gambar : model hapten obat pada sel darah merah) 
https://drgaryslupustreatment.com

1. Human Leucocyte Antigen (HLA) dan Human Neutrofil Antigen (HNA) 

Sistem HLA diketahui juga sebagai Major Histocompatibility Complex (MHC). HLA merupakan produk dari ekspresi gen HLA -A, -B, -C, -DR, -DQ, dan gen -DP di kromosom 6. HLA diekspresikan di membran sel berinti, yaitu sel limfosit, granulosit, monosit, trombosit, dan beberapa organ, walaupun diketahui trombosit tidak mempunyai inti sel. Berdasarkan struktur biokimianya, HLA dikategorikan menjadi HLA kelas I dan II. HLA kelas I terdiri atas : HLA-A, -B , -C. HLA jenis ini berada di sel darah berinti di peredaran darah tepi dan trombosit. HLA kelas II terdiri atas : HLA-DR, -DQ dan HLA-DP. HLA kelas II terdapat di monosit dan limfosit B. 

(Gambar : HLA pada sel leukosit
https://wikiwand.com

HLA bersifat sangat imunogenik. Pada proses transfusi, kehamilan dan transplantasi organ, individu normal dapat membentuk Ab terhadap HLA. Oleh karena itu, pada transplantasi organ, untuk menghindari proses penolakan organ di tubuh pasien, dilakukan terlebih dulu pemeriksaan HLA typing, untuk menentukan kecocokan donor dan pasien. 

Pada proses transfusi, untuk menghindari reaksi transfusi karena ketidakcocokan HLA donor dan pasien, maka komponen darah yang ditransfusikan dihilangkan sel lekositnya dengan cara disaring menggunakan filter khusus lekosit. Komponen darah ini disebut dengan leukoreduction atau leucopoor. Reaksi ketidakcocokan HLA dapat menghasilkan Ab terhadap HLA. Ab HLA biasanya terdapat pada wanita yang mempunyai riwayat sering melahirkan. Jenis Ab ini dapat ditemukan pada reaksi transfusi yang diberi nama transfusion related acute lung injury (TRALI). Selain HLA, terdapat juga jenis Ag lekosit yaitu Human Netrofil Antigen / HNA di sel netrofil. Reaksi Ag dan Ab netrofil dapat menyebabkan kondisi penurunan sel netrofil (neutropenia) pada bayi baru lahir dan penyakit TRALI.

2. Human Platelet Antigen (HPA) 

Pada membran trombosit juga terdapat Ag khusus yang diberi nama Human Platelet Antigen (HPA). Sebanyak 33 jenis HPA yang terletak di glikoprotein membran trombosit telah diidentifikasi. Adanya ketidakcocokan HPA menimbulkan Ab terhadap HPA. Antibodi (Ab) terhadap HPA menyebabkan penurunan jumlah trombosit (trombositopenia). Penurunan jumlah trombosit karena Ab terhadap HPA dapat terjadi pada janin ataupun pada bayi baru lahir. Kondisi ini disebut dengan Fetomaternal / neonatal alloimune thrombocytopenia (FNAIT / NAIT). Selain itu, anti HPA juga dapat menyebabkan reaksi transfusi yang ditandai dengan kegagalan untuk meningkatkan jumlah trombosit setelah transfusi darah dan dapat disertai dengan perdarahan dan timbulnya bintik / bercak merah (purpura).


Sumber : Nurhayati B, Noviar G, Kartabrata E dkk. 201. Penuntun Praktikum Imunohematologi Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Bandung. Bandung : Analis Kesehatan.

Post a Comment

0 Comments