Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pewarnaan Mikroorganisme

Table of Contents
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pewarnaan Mikroorganisme
Proses pewarnaan bakteri.

Infolabmed. Mikroorganisme yang ada dialam ini mempunyai morfologi, struktur dan sifat-sifat yang khas, begitu pula dengan bakteri. Bakteri yang hidup hamper tidak berwarna dan kontras dengan air, dimana sel-sel bakteri tersebut disuspensikan. Salah astu cara untuk mengamati bentuk sel bakteri sehingga mudah untuk diidentifikasikan ialah dengan metode pengecetan dan pewarnaan. Hal tersebut juga berfungsi untuk mengetahui sifat fisiologinya yaitu mengetahui reaksi dinding sel bakteri melalui serangkaian pengecetan (Galung, 2009).



Kebanykan bakteri mudah berekasi dengan pewarna-pewarna sederhana karena sitoplasmanya bersifat basofilik (suka akan basa) sedangkan zat-zat warna yang digunakan untuk pewarnaan sederhana umumnya bersifat alkali. Faktor-faktor yang mempengaruhi pewarnaan bakteri yaitu fiksasi, peluntur warna, substrat, intensifikasi pewarnaan dan penggunaan zat warna penutup. Suatu preparat yang sudah meresap suatu zat warna, kemudian dicuci dengan asam encer. Bakteri-bakteri ini dinamakan bakteri tahan asam dan hal ini merupakan cirri khas bagi suatu spesies (Dwidjoseputro, 2005).

Pewarnaan sel miroorganisme umunya menggunakan lebih dari satu macam zat warna. Hasil pewarnaan tergantung beberapa faktor lain, seperti;

1. Fiksasi
Cara yang paling banyak digunakan adalah cara fisik dengan pemanasan atau dengan freeze driying atau dapat juga dilakukan fiksasi dengan menggunakan kimia seperti sabun, fenol dan formalin. Fungsi fiksasi sebelum pewarnaan yaitu:
  • Merekatkan sel mikroba pada gelas objek
  • Membunuh mikroorganisme secara cepat dengan tidak menyebabkan perbahan-perubahan bentuk dan strukturnya.
  • Mengubah afinitas (daya ikat) zat warna
  • Membuat sel-sel mikroba lebih kuat (keras)
  • Melepaskan granuler (butiran) protein menjadi gugu reaktif NH3+ yang akan bereaksi dengan gugus –OH dari zat warna.
  • Mencegah otolisis sel, yaitu pecahnya sel yang disebabkan olehenzim-enzim yang dikandungnya sendiri
  • Mempertinggi sifat reaktif gugus-gugus tertentu (karboksil amino primer dan sulfhidril).

2. Pelunturan zat warna
Pelunturan zat warna adalah suatu senyawa yang menghilangkan warna dari sel yang telah diwarnai. Ini berfungsi untuk mengahsilkan kontras yang baik pada bayangan mikroskop. Ditinjau dari kekuatan ikatan anatara sel dengan zat warna, maka dikenal beberapa istilah, misalnya tahan asam, tahan alcohol, tahan air dan lain-lain. Istilah tahan asam digunakan bila zat warna telah diikat kuat oleh sel sehingga tidak dapat dilunturkan warnanya oleh asam, begitu juga dengan tahan alcohol dan tahan air masing-masing tidak dapat dilunturkan oleh alcohol dan air. Ada beberapa macam peluntur zat warna, antara lain:
  • Peluntur warna bersifat asam yakni HNO3, HCl, H2SO4 dan campuran asam-asam tersebut  dengan alcohol.
  • Peluntur zat warna bersifat basa yakni KOH, NaOH, sabun dan garam-garam basa.
  • Peluntur zat warna lemah, yaitu alcohol, air minya cengkeh, aseton dan gliserin
  • Garam-garam logam berat AgNO3, CuSO4 dan lain-lain.
  • Garam-garam logam riangan Na2SO4, MgSO4 dan lain-lain

3. Identifikasi pewarnaan
Zat warna dapat diidentifikasikan dengan beberapa cara misalnya dengan mempertinggi kadar zat warna, mempertinggi temperature pewarnaan 60-90oC dan menambahkan suatu mordan. Mordan adalah suatu zat kimia yang dapat menyebabkan zat warna terikat lebih kuat pada jaringan sel bila dibandingkan dengan cara pewarnaan tanpa diberi mordan. Ada beberapa mordan, yaitu:
  • Mordan basa
  • Mordan asam

4. Substrat
Atas dasar macam zat warna yang diserap oleh sel dapat dibedakan:
  • Sel-sel basofil
  • Sel-sel asidofil/ oksifil
  • Sel-sel yang sudanofil

5. Zat warna penutup atau zat warna lawan
Zat warna penutup adalah suatu zat warna basa yang berada warnanya dengan zat warna mula-mula yang digunakan. Fungsi dari zat warna punutup adalah memberkan warna pada sel yang berbeda warnanya dengan zat warna mula-mula. Zat warna punutup diberikan pada akhir pewarnaan dengan tujuan memberikan kontras pada sel-sel yang tidak menyerap zat warna utama.

Sumber :
  1. Coretan Kecilku. (2018). Pewarnaan Mikroba. [Online]. Tersedia : http://maulidafarmasi.blogspot.com/2012/07/pewarnaan-mikroba.html. (12 September 2018).
  2. Dwidjoseputro. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan: Jakarta.
  3. Galung, Firman. 2009. http://firebiologi07.wordpress.com/. Diakses pada tanggal 2 April 2011 pukul 09.46 pm di Samarinda.
  4. Hadioetomo, Sri Ratna. 1982. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Gramedia: Jakarta.
  5. Waluyo, Lud. 2008. Teknik Metode Dasar Mikrobiologi. Universitas Muhamadiah Malang: Malang.

PENTING Terimakasih sudah berkunjung ke website Kami. Untuk yang mengambil artikel dari website Kami, dimohon untuk mencantumkan sumber pada tulisan / artikel yang Anda muat. Terimakasih atas kunjungannya. Kerjasama media pubhlikasi, karya tulis, dll. Email : laboratorium.medik@gmail.com.
Infolabmed
Infolabmed infolabmed.com merupakan kanal informasi tentang Teknologi Laboratorium Medik meliputi Materi Kuliah D3 dan D4, Informasi Seminar ATLM, Lowongan Kerja. Untuk dukung website infolabmed tetap aktif silahkan ikut berdonasi melalui DANA = 085862486502.