Rasio Nitrogen Urea Darah / Kreatinin (Serum) - Seri Edukasi Teknologi Laboratorium Medik

Table of Contents

Rasio nitrogen urea darah / kreatinin merupakan uji yang efektif, terutama untuk menentukan fungsi ginjal. Kadar BUN dapat meningkat akibat dehidrasi, juga pada disfungsi ginjal. Kadar kreatinin tidak dapat meningkat pada keadaan dehidrasi, tetapi sudah pasti meningkat pada disfungsi ginjal. Pemeriksaan rasio ini lebih sensitif untuk mengkaji hubungan BUN dan kreatinin, dibandingkan dengan pemeriksaan BUN dan kreatinin yang terpisah. Namun, fungsi hati, asupan diet protein, dan massa otot dapat memengaruhi temuan pengujian.



Penurunan rasio dapat terjadi pada nekrosis tubulus ginjal akut dan asupan rendah protein. Rasio akan meningkat karena penurunan perfusi ginjal, penyakit glomerulus, uropati obstruktif, asupan tinggi protein.

Tujuan 
  • Untuk menentukan fugsi ginjal.

Nilai Rujukkan
DEWASA : 10:1 sampai 20:1 (BUN: Kreatinin). Rata - rata : 15:1.

Masalah Klinis
PENURUNAN RASIO: Nekrosis tubulus ginjal akut, asupan rendah protein, malnutrisi, kehamilan, penyakit hati, hemodialisis (kehilangan urea). Pengaruh Obat: Fenasemid. 
PENINGKATAN RASIO : Penurunan perfusi ginjal (dehidrasi, gagal jantung, penyakit glomerulus, destruksi jaringan atau otot, asupan tinggi protein, uropati obstruktif, azotemia. Pengaruh Obat: Tetrasiklin, kortikosteroid).

Prosedur 
  • Tidak ada pembatasan asupan makanan ataupun minuman.
  • Kumpulkan 5 sampai 7 ml darah vena dalam tabung bertutup merah.

Faktor yang Memengaruhi Temuan Laboratrium
  • Variasi dalam asupan protein; penyakit hati.

IMPLIKASI KEPERAWATAN DAN RASIONAL
  • Kaji fungsi ginjal klien, termasuk haluaran urine, kadar BUN dan kreatinin serumnya. Haluaratan urine harus mencapai minimal 600 ml/hari.
  • Catat dalam bagan pasien atau Kardex bahwa urine klien perlu diukur.
  • Kaji asupan diet klien. Catat penurunan atau peningkatan asupan protein klien.
  • Pantau status hidrasinya. Dehidrasi dapat menyebabkan peningkatan rasio BUN/Kreatinin.

PENYULUHAN KLIEN
  • Jelaskan pada klien bahwa urinenya perlu diukur dan minta klien menampung urinenya ke urinal atau bedpan saat berkemih. Beri tahu tenaga medis setiap kali setelah berkemih sehingga urine dapat diukur. Beri tahu klien untuk tidak  memasukkan tisu toilet ke dalam urine.

Baca juga :
PENTING : Terimakasih sudah berkunjung ke website Kami. Untuk yang mengambil artikel dari website Kami, dimohon untuk mencantumkan sumber pada tulisan / artikel yang Anda muat. Terimakasih atas kunjungannya. 
Sumber :
  1. Lefever Kee, J. (2002). Pedoman Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik ;  Edisi 6. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran ; EGC. 

Infolabmed
Infolabmed infolabmed.com merupakan kanal informasi tentang Teknologi Laboratorium Medik meliputi Materi Kuliah D3 dan D4, Informasi Seminar ATLM, Lowongan Kerja. Untuk dukung website infolabmed tetap aktif silahkan ikut berdonasi melalui DANA = 085862486502.

Post a Comment