Total Pageviews

Check Page Rank

Manajemen Laboratorium | Persiapan Pasien Yang Tepat, Pengambilan Spesimen, dan Penanganan Sampel Sangat Penting dalam Quality Care

Posted by On 3:27 AM


Seperti kata pepatah Garbage In, Garbage Out (GIGO).  Pepatah ini telah diterapkan secara universal dalam menangani kesalahan manusia. Ini tentu berlaku untuk membangun prosedur laboratorium yang menjamin perawatan dalam mengelola fase pra-analitis pengujian laboratorium

Enam puluh tahun yang lalu, banyak tes laboratorium umum dilakukan secara manual, dan dengan demikian rentan terhadap ketidakakuratan dan kesalahan analitis. Hari ini teknologi yang sudah maju juga terjadi apda dunia keilmuan laboratorium dalam lingkungan yang otomatis dan kualitas hasil yang terfokus pada penjaminan proses pengujian yang akurat.


Total Testing Process (TTP)

Medical Error atau Kesalahan Medis adalah penyebab utama ketiga kematian di Ameriksa Serikat. Laboratorium berkontribusi menyangkut perhatian kesehatan hanya 0,33 %. Sementara angka yang muncul ini kecil, pada kesalahan laboratorium, tidak selalu mengakibatkan kematian, namun demikian memiliki dampak penting pada perawatan pasien. Sebagai Tenaga Ahli Clinical Laboratory Scientists, Kita harus melakukan segala upaya untuk menghasilkan hasil tes yang akurat. 

Salah satu upaya pertama (tahun 1947) dalam Manajemen Mutu Laboratorium terlibat dalam pengumpulan hasil survei dimana enam sampel analit umu dibagikan ke berbagai laboratorium. Hasil menunjukkan luas dan variasi yang signifikan. Pada tahun 1997 konsep “brain-to-brain turnaround time” diperkenalkan oleh George Lundberg dan kemudian dimodifikasi menjadi “brain-to-brain loop.” Proses ini termasuk sembilan langkah yang melibatkan pengujian laboratorium : 1) Meng-Order, 2). Pengumpulan, 3). Identifikasi, 4). Transportasi, 5). Pemisahan, 6). Analisis, 7). pelaporan, 8). Interpretasi, dan 9). Action.

Ini menjadi dasar untuk konsep Total Testing Process (TTP) atau Total Pengujian Proses (TPP), untuk memasukkan Pra-analitik, analitik, dan fase pasca-analitik dari sebuah pemeriksaan. Selama dekade terakhir, sebagai akibat dari program manajemen mutu yang ketat kesalahan laboratorium telah berkurang sebanyak 75%.

Upaya sementara awalnya difokuskan pada bagian analisis dari pengujian laboratorium, menjadi jelas bahwa pre-analitik dan fase post-analitik dari pengujian yang sama, jika tidak lebih, memberikan layanan service berkualitas. Sejumlah penelitian telah dilakukan hal tersebut dapat terlihat keakuratan pengujian laboratorium. Secara umum, tingkat kesalahan untuk setiap rentang fase dari 46% menjadi 68% untuk pra-analitis, 7% menjadi 13% untuk analitis, dan 18% menjadi 47 % paska-analitis. Karena hampir 70 persen dari semua kesalahan laboratorium berada dalam fase pra-analitis, laboratorium mulai fokus pada praktek preemptive yang akan meminimalkan, dan mudah-mudahan menghindari, kesalahan umum.


Pra-pra-analitik dan fase pra-analitik

Tahap pra-pra-analitik telah ditambahkan sebagai bagian dari proses pertemuan awal pasien. Sebagaimana dicatat, dimana sebagian besar kesalahan laboratorium terjadi pada fase pra-analitik.  Tabel 1 mengidentifikasi beberapa wilayah dari kesalahan yang umum terjadi. Kesalahan-kesalahan ini dapat berupa biaya sedang sebuah rumah sakit hanya lebih dari $ 1 juta/tahun dalam penyelidikan Pemantapan Mutu, pengambilan darah, pemeriksaan ulang, dan pengawasan manajemen.

Slah satu kesalahan yang umum terjadi adalah salah mengorder pemeriksaan. Dengan menu uji laboratorium klinis terus berkembang, yaitu memastikan pemeriksaan dengan benar. Dan ketika mengorder merupakan sesuatu yang sedikit menakutkan. Beberapa contoh: faktor V dan faktor V Leiden; 25-hydroxyvitamin dan 1,25-dihydroxyvitimin D; dan tes tiroid. Dengan masuknya informasi yang besar dan berlebihan, penambahan tes baru, tekanan untuk melihat lebih banyak pasien, dan penggunaan memperluas diagnostik molekuler mutakhir menciptakan banyak kesempatan untuk membuat kesalahan dalam perintah uji laboratorium.

Variabel pra-analitik lainnya

Salah satu prosedur invasif minimal pasien yang mungkin bertahan adalah flebotomi, namun itu dapat menjadi sumber signifikan dari perawatan pasien tidak mampu :
  1. Identifikasi pasien yang tepat adalah wajib.
  2. Faktor fisiologis 
  3. Pengumpulan darah
  4. Zat pengganggu
 Silahkan baca artikel pada halaman berikutnya tentang : Variabel pra-analitik



Mengetahui Variabel

Persiapan yang tepat dari seorang pasien mengenai kebutuhan puasa serta proses prosedur flebotomi (mengeluarkan darah) sangat penting untk memastikan hasil uji labrotatorium yang akurat. Dalam General Practice, pasien mempunyai waktu paling cepat 12 jam sebelum pengambilan darah, terutama ketika akan melakukan pemeriksaan profil lipid dan guladarah.

Puasa juga dapat dilakukan untuk pemeriksaan Kreatinin yang harus dipertimbangkan, terutama ketika diet protein tinggi / daging yang dikonsumsi. Selain itu, pasien harus menghindari alkohol, rokok, sres fisik, dan kafein. Pasien harus duduk selama 15 menit sebelum pengambilan darah dan waktu yang paling ideal adalah dipagi hari yaitu sekitar pukul. 07.00 s.d 11.00.

Sementara semua variabel pra-analitik tidak dapat dihilangkan, flebotomis dan staf teknis perlu diberitahu akan banyaknya variabel yang dapat mempengaruhi akurasi pengujian laboratorium.  prosedur pengumpulan darah yang up-to-date dan harus mengadakan bimbingan dalam mengatasi potensi hasil kritis dalam pengujian tahap pra-analitis. Menetapkan monitor pemantapan mutu untuk dipilih kemungkinan kesalahan pra-analitik dapat membantu mengidentifikasi peluang yang dapat diatasi, sehingga meminimalkan risiko hasil yang merugikan.

Penulis : 
Anthony Kurec, MS, H(ASCP)DLM, is Clinical Associate Professor, Emeritus, at SUNY Upstate Medical University in Syracuse, New York. He is also a member of the MLO Editorial Advisory Board.
Baca juga :
 Perkembangan Pendidikan Laboratorium Medik Di Indonesia
Sertifikasi Registrasi Lisensi Kredensial ATLM




Next
« Prev Post
Previous
Next Post »