Dasar - Dasar Imunohematologi Transfusi Darah. Bagian 2 (Sistem Komplemen)

Table of Contents
http://primaryimmune.org

Pada artikel sebelumnya sudah disebutkan bahwa sel dan mediator yang berperan dalam sistem imun meliputi Fagosit, Limfosit, Sitokin dan molekul Pengatur Respon Imun, dan yang terakhir adalah Sistem Komplemen. Untuk lebih jelasnya silahkan pelajari kembali Dasar - Dasar Imunohematologi Transfusi Darah. Bagian 1. 

SISTEM KOMPLEMEN

Sistem Komplemen adalah sekelompok protein serum yang mempunyai sejumlah peran biologis yang berhubungan dengan klirens antigen, lisi sel dan vasodilatasi pembuluh darah. Dalam keadaan normal protein ini bersirkulasi dalam bentuk tidak aktif atau pro-enzim. Pada saat aktivasi protein-protein ini akan dikonversi menajdi enzim aktif yang akan meningkatkan proses imunologis.


Komplemen berperan penting dalam patofisiologi hemolisis karena keterlibatannya dalam sensitisasi dan destruksi darah donor oleh anloantibodi, atau destruksi eritrosit pasien oleh otoantibodi. komplemen juga penting dalam pemeriksaan laboratorium imunohematologi. 

Sedikitnya ada 9 komponen keluarga komplemen, yaitu C1-C9. Bila terjadi aktivasi oleh antibodi pada jalur klasik, kompleks C1q, r dan s, akan memecah protein C2 dan C4 masing - masing menjadi 2 bagian, yaitu fragmen protein yang ditandai dengan "a" untuk fragmen yang lebih kecil dan "b" untuk fragmen yang lebih besar. Fragmen b akan berikatan dengan sel, sedangkan fragmen a akan meningkatkan respons inflamasi.

Dari pemecahan C4 dan C2, fragmen C4b akan bergabung dengan C2a untuk membentuk C3 convertase. Enzim ini akan memecah C3 menjadi C3a dan C3b. Selanjutnya C3 convertase akan bergabung dengan C3b akan membentuk C5 convertase, yang akan memecah C5.

Pembentukan Membrane Attack Complex (MAC) pada tahap akhir akan menyebabkan lisisnya sel, bakteri dan virus, akibat perusakan membaran sel atau mikro-organisme tersebut. Ikatan langsung MAC (teridiri dari protein komplemen C5-C9) pada permukaan sel/mikro-organisme akan menyebabkan terbentuknya lubang pada tempat ikatan sehingga terjadilah Osmotic Lysis. Bila MAC berikatan dengan eritrosit yang ditransfusikan, akan terjadi hemolisis yang diikuti dengan leapsnya hemoglobin bebas ke dalam sirkulasi.

Tahap awal aktivasi protein komplemen dapat terjadi melalui :
  • Jalur Klasik : Jalur ini diaktivasi dengan adanya ikatan antibodi pada antigen. Aktivasi jalur ini akan mengakibatkan destruksi eritrosit yang sudah dilapisi antibodi.
  • Jalur Alternatif : aktivasi jalur ini tidak memerlukan antibodi spesifik. Aktivasi dapat dimulai dengan adanya konstituen sel asing, bakteri, virus, protein atau karbohidrat.
Tanpa melihat modus aktivasinya, umumnya tahap akhir aktivasi keduanya akan menyebabkan lisis sel. Aktivasi komoplemen merupakan amplifier sistem imun yang sangat penting.

Terbentuknya peptida - peptida selama pembentukan MAC mempunyai fungsi tambahan, yaitu :
  • Anafilatoksin C3a, C4a dan C5a mengatur rekrutmen sel - sel fagositik dan memicu infalamasi. Protein komplemen ini akan berikatan dengan  sel Mast dan memicu pelepasan vasoactive amines, yang akan menyebabkan pembuluh darah permeabel terhadap air dan sel - sel yang akan masuk ke daerah yang rusak.
  • Protein C5a bersifat chemotactic terhadap neutrofil dan akan menarik sel ini ke tempat kerusakan.
  • Komplemen juga berfungsi sebagai opsonin, yaitu substansi yang mengikat antigen untuk memulai fagositosis. Sel - sel fagosit umumnya bekerja tidak efisien, namun bila dilapisi oleh opsonin, fagositosis akan menjadi sangat efisien, karena reseptoir yang terdapat pada sel - sel fagosit memiliki afinitas yang lebih tinggi terhadap opsonin. Antibodi dan C3b adalah opsonin yang akan memicu klirens bakteria dan sel-sel lain yang sudah menempelinya. 

Pola destruksi eritrosit dan beratnya hemolisis tergantung pada kelas imunoglobulin yang terlibat serta aktivitas sistem retikuloendotelial seseorang. Berdasarkan lokasinya proses hemolisis dapat dibedakan atas ;
  • Hemolisis Intravaskular ; lisis intravaskular terjadi bila sejumlah besar komplemen teraktivasi dengan cepat (biasanya oleh antigen IgM), menyebabkan aktivasi lengkap kaskade komplemen dan berakhir dengan terbentuknya membrane attack complex (C5b6789). Kompleks ini akan berpolimerasisasi membentuk lubang dalam membran eritrosit, sehingga cairan ekstraseluler dapat masuk kedalam sel, menyebabkan pembengkakan dan pecah akibat lisis osmotik.
  • Hemolisis Ekstravaskuler : biasanya disebabkan oleh IgG. Ketika antibodi IgG berikatan dengan eritrosit dan mengaktivasi komplemen, umumnya proses ini berhenti pada tahap C3/C4. Eritrosit yang terikat pada C3b akan didegradasi menjadi iC3b, yang secara enzimatik tidak aktif, oleh faktor I dan faktor H. Selanjutnya oleh faktor I dan faktor CR1, iC3b akan dipecah menjadi C3c dan C3dg. Awalnya eritrosit dilapisi oleh C3c dan C3dg secara cepat dihancurkan oleh monosit dan makrofag dalam hati. Dalam waktu 15-20 menit proses ini akan melambat, sehingga eritrosit-eritrosit tadi akan lolos dari proses destruksi dan dilepaskan kembali ke dalam peredaran darah. Dalam sirkulasi, C3dg akan terlepas, dan yang tinggal hanya C3c yang melekat pada eristrosit.


Sumber :
Divisi Hematologi Klinik UNPAD.
2016. Dasar - Dasar Transfusi Darah. Hal 1 - 3, Unpad ; Bandung
Infolabmed
Infolabmed infolabmed.com merupakan kanal informasi tentang Teknologi Laboratorium Medik meliputi Materi Kuliah D3 dan D4, Informasi Seminar ATLM, Lowongan Kerja. Untuk dukung website infolabmed tetap aktif silahkan ikut berdonasi melalui DANA = 085862486502.

Post a Comment