Total Pageviews

Check Page Rank

Bahan Pembantu Pemeriksaan

Posted by On 6:55 AM


Infolabmed.com. Infolabmed kali ini akan menyajikan betapa pentingnya hal - hal sepele selain alat yang digunakan dilaboratorium dan juga bahan seperti reagen. Artikel ini Kami muat ulang dari majalah Smartliving, Hidup sehat bersama prodia, edisi 47, bulan April - Mei Tahun 2014.

BAHAN BAKU DAN BAHAN PEMBANTU, SEMUA HARUS LULUS UJI KELAYAKAN

Dalam proses pemeriksaan laboratorium, digunakan bermacam - macam bahan yang dapat dikelompokan menajdi dua, yaitu bahan baku atau bahan utama dan bahan pembantu atau bahan pendukung

Bahan Baku adalah bahan - bahan yang terlibat langsung dalam reaksi dengan sampel. Dari reaksi bahan baku dengan sampel tersebutlah diperoleh hasil pemeriksaan. Contoh bahan baku adalah reagen pemeriksaan. Sedangkan Bahan Pembantu adalah bahan - bahan yang digunakan dalam proses pemeriksaan tetapi bukan bagian dari bahan baku dan tidak terlibat langsung  dalam reaksi dengan sampel, melainkan digunakan untuk mendukung pemeriksaan, seperti tabung sampel, sarung tangan, tips pipet, kasa alkohol, dll.

Bahan pemabantu walaupun bersifat pendukung harus melewati proses seleksi dan evaluasi terlebih dahulu sebelum akhirnya digunakan sebagai bahan pendukung proses pemeriksaan di laboratorium. Walaupun tidak ada ketentuan dan belum banyak laboratorium yang menyadari hal ini, proses evaluasi dan seleksi harus selalu dilakukan oleh suatu laboratorium klinik.

Mengapa setiap laboratorium harus mempersyaratkan bahan pembantu harus melewati proses seleksi dan harus lulus uji kelayakan? Karena, meski terkesan sepele, bahan pembantu memiliki peran penting, antara lain mempengaruhi keakuratan atau akurasi hasil pemeriksaan, mempengaruhi kenyamanan pasien (patient safety) dan proses kerja.

Karena berkontribusi terhadap kualitas hasil pemeriksaan, maka bahan pembantu masuk dalam komponen Quality Assurance dalam penerapan Good Laboratory Practice (GLP). Itulah sebabnya, untuk memastikan kualitas hasil pemeriksaan, setiap laboratorium klinik harus melakukan evaluasi secara mandiri terhadap bahan pembantu sebelum digunakan.

Karena setiap laboratorium harus dapat memberikan hasil yang akurta dan handal, maka laboratorium klinik diharapkan berhati - hati dalam memilih bahan pembantu yang akan digunakan. Material atau kandungan dari bahan pembantu harus bersifat inert (tidak bereaksi dengan senyawa/analit pada sampel).

Apabila material atau kandungan bahan pembantu bereaksi dengan sampel atau melepaskan senyawa tertentu kedalam sampel, akibatnya dapat mengganggu reaksi antara sampel dengan reagen, dan menyebabkan hasil pemeriksaan tidak akurat.

Contoh lainnya, tabung yang digunakan untuk pemeriksaan kultur harus steril agar tidak terjadi kontaminasi oleh kuman yang berasal dari lingkungan atau pengotor pada tabung. Kontaminasi dapat menyebabkan hasil "positif palsu".

BEBERAPA CONTOH BAHAN PEMBANTU

- TABUNG DARAH (BLOOD COLLECTION DEVICE)

Tabung darah akan berinteraksi langsung dengan sampel darah/serum/plasma, karena itu berpeluang mengubah komposisi darah dan mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium nantinya. Komponen tabung darah seperti karet penutup, lubrikan karet penutup, dinding tabung, surfaktan, clot activators dan gel pemisah harus diperhatikan.

Material yang digunakan harus bersifat "inert" atau tidak bereaksi dengan sampel. Komposisi clot activators  atau antikoagulan harus sesuai dengan standar karena jika komposisi tidak tepat akan mempengaruhi keakuratan hasil pemeriksaan.

Kevakuman tabung juga berpengaruh terhadap volume darah yang diambil. Karena itu tabung darah dapat menjadi sumber error besar dalam pemeriksaan laboratorium, sehingga tabung yang akan digunakan harus dievaluasi terlebih dahulu.

Selain itu, tabung juga harus cukup kuat dan tidak mudah pecah selama proses sentrifugasi dan pemeriksaan di laboratorium, karena jika tabung pecah harus dilakukan pengambilan sampel kembali. Hal ini akan memberikan ketidaknyamanan bagi pasien atau tidak sesuai dengan kaidah patient safety.

- SARUNG TANGAN

Sarung tangan digunakan oleh petugas saat mengambil darah pasien, dan harus diganti baru untuk setiap pasien. Faktor yang perlu diperhatikan ketika mengevaluasi sarung tangan adalah material yang digunakan, ketebalan, elastisitas dan kenyamanan.

Sarung tangan terbuat dari bahan yang tidak menimbuilkan alergi atau menghasilkan serbuk yang bisa mengkontaminasi sampel. Ketebalan sarung tangan harus cukup tipis sehingga petugas masih dapat meraba pembuluh darah vena, tetapi tidak mudah robek.

Selain itu, sarung tangan yang digunakan harus elastis sehingga memudahkan pergerakan tangan tenaga medis dan juga nyaman ketika menyentuh pasien.

- KAPAS ALKOHOL

Kapas alkohol digunakan untuk membersihkan area kulit disekitar tempat pengambilan darah, agar steril dan tidak menimbulkan kontaminasi baik pada sampel maupun pasien. Hal yang perlu diperhatikan saat evaluasi adalah waktu yang dibutuhkan untuk kering dan sterilitas.

Jenis alkohol yang digunakan harus mudah menguap atau cepat kering, sehingga tidak membutuhkan jeda waktu yang lama antara mengoleskan alkohol dengan pengambilan darah. Proses pengambilan darah yang dilakukan ketika alkohol belum kering sempurna, dapat menimbulkan nyeri saat ditusuk, dan sampel bisa rusak (lisis).

- KAPAS/KASA

Kapas atau kasa digunakan untuk menekan bekas luka dan mengehntikan pendarahan pada area pengambilan darah. Kasa lebih dipilih dibandingkan kapas, karena serat kapas cenderung menempel pada luka.

BAGAIAMAN SEBAUH LABORATORIUJM DALAM MENGEVALUASI BAHAN PEMBANTU

Evaluasi bahan pembantu dilakukan dengan studi literatur dan dilanjutkan dengan evaluasi di laboratorium jika dibutuhkan.

Studi literatur meliputi tahapan berikut ini ;
  • Mempelajari guidelines  dan hasil penelitian terkait bahan pembantu untuk memperoleh informasi apakah bahan pembantu tersebut dapat digunakan untuk pemeriksaan yang akan dilakukan.
  • Mencari informasi apakah bahan pembantu tersebut telah mendapatkan rekomendasi dari pihak yang berwenang seperti, FDA atau CE. Bahan pembantu yang telah mendapatkan rekomendasi dari pihak yang berwenang berarti telah lolos uji produk oleh lembaga tersertifikasi.
  • Mempelajari Certificate of Analysis (CoA) dari bahan pembantu. Certifikcate of Analysis adalah sertifikat yang dikeluarkan oleh perusahaan produsen yang menyatakan bahan pembantu tersebut telah lolos uji kualitas.

Selanjutnya, evaluasi bahan pembantu di laboratorium dilakukan untuk verifikasi hasil studi literatur atau hasil uji kualitas (certificate of analysis). Kriteria yang dievaluasi tidaklah sama antara bahan pembantu yang satu dengan yang lainnya, melainkan disesuaikan dengan fungsi dari bahan pembantu tersebut.

Bahan pembantu yang tidak lolos evaluasi seharusnya jangan digunakan oleh laboratorium klinik. Sebaiknya hal ini menjadi perhatian oleh penyelenggara pelayanan kesehatan demi memberikan pelayanan yang sesuai dengan standarisasi dan pemenuhan dari pemeriksaan yang akurat, dapat diandalkan dan demi keselamatan pasien (patient safety).


Next
« Prev Post
Previous
Next Post »