Wabah Campak Carolina Selatan Meledak, Cakupan Vaksinasi Jadi Kunci Penanganan
INFOLABMED.COM - Dunia kesehatan masyarakat Amerika Serikat kembali mendapat pukulan telak. Wabah campak (measles) di Carolina Selatan telah dengan cepat melampaui angka kejadian besar sebelumnya di Texas Barat, menyentuh setidaknya 789 orang yang terinfeksi. Kecepatan penularannya mengguncang para ahli, seperti yang Kami kutip dari nbcnews.com.
"Kami tidak mengantisipasi bahwa jumlah kasus di Carolina Selatan hanya dalam 16 minggu akan melampaui total kasus yang dicapai di Texas selama 7 bulan," ungkap Dr. Linda Bell, Epidemiolog Negara Bagian Carolina Selatan, dalam sebuah briefing media. Ledakan kasus ini berpusat di Spartanburg County, dengan mayoritas penderita berasal dari kelompok yang tidak divaksinasi atau status vaksinasinya tidak diketahui.
Fakta di lapangan semakin mengerikan. Lebih dari 557 orang kini menjalani karantina wajib 21 hari pasca-paparan. Wabah yang pertama kali dilaporkan akhir September ini terus mendapat "bahan bakar" baru, menyebar lintas negara bagian ke California, Carolina Utara, dan Washington.
Di Carolina Utara saja, puluhan kasus telah dikonfirmasi, dengan lebih dari 170 orang dikarantina terkait satu kasus di sebuah sekolah swasta.
Herd Immunity dan "Kotak Korek Api" yang Mudah Meledak
Analisis para ahli mengerucut pada satu akar masalah utama: cakupan vaksinasi yang jauh di bawah ambang batas aman. Dr. Deborah Greenhouse, mantan presiden cabang Carolina Selatan dari American Academy of Pediatrics, memberikan analogi yang tajam.
"Jika Anda memiliki sekolah dengan tingkat vaksinasi yang sangat rendah, Anda pada dasarnya menciptakan kotak korek api untuk campak, karena penyakit ini sangat-sangat menular."
Ambang batas yang dimaksud adalah konsep herd immunity atau kekebalan kelompok. Untuk campak, tingkat vaksinasi MMR (Measles, Mumps, Rubella) minimal harus mencapai 95% dalam suatu populasi untuk memutus rantai penularan.
Sayangnya, di episentrum wabah ini, angka pengecualian vaksin non-medis (karena alasan pribadi atau agama) justru tinggi, mencapai 8.2% di Spartanburg County. Di sekolah Shining Light Baptist Academy di Carolina Utara yang menjadi klaster, cakupan vaksinasinya hanya 60.1% — sebuah kondisi ideal bagi virus untuk bergerak leluasa.
"Tanpa cakupan vaksinasi yang lebih baik untuk mencapai kekebalan kelompok secara lebih luas, kita dapat mengantisipasi bahwa lebih banyak orang yang rentan akan tertular campak di Carolina Selatan, dan kita akan terus melihat penyebaran berpotensi ke area lain di negara bagian ini," tegas Dr. Bell.
Peringatan ini bukan isapan jempol belaka. Wabah serupa di Texas Barat sebelumnya berkecamuk di komunitas Mennonite dengan pengecualian vaksin mencapai 19.5%, sementara klaster di perbatasan Arizona-Utara terkait dengan komunitas agama tertentu yang juga memiliki angka penolakan vaksin yang sangat tinggi.
Ancaman Nyata: AS di Ambang Kehilangan Status "Bebas Campak"
Dampak dari rangkaian wabah ini tidak main-main. Pencapaian buruk Carolina Selatan terjadi saat Amerika Serikat terombang-ambing di ambang kehilangan status eliminasi campak yang telah diraih sejak tahun 2000.
Status itu bisa dicabut musim gugur mendatang jika ditentukan virus berasal dari satu sumber dan terus bersirkulasi selama setahun penuh.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah respons dari otoritas tinggi. Dr. Ralph Abraham, Wakil Direktur Utama baru di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), dalam sebuah panggilan dengan wartawan terkesan menganggap enteng.
"Itu hanya biaya operasional, dengan perbatasan kita yang agak poros. Kita memiliki komunitas-komunitas ini yang memilih untuk tidak divaksinasi. Itu kebebasan pribadi mereka," katanya.
Pernyataan itu kontras dengan data keras di lapangan. Sepanjang 2025, AS mencatat 2.255 kasus campak — tertinggi sejak 1991. Dari total pasien, 93% ternyata tidak divaksinasi.
Angka ini adalah bukti nyata bahwa penolakan vaksin bukan sekadar "pilihan pribadi" yang bebas konsekuensi, melainkan sebuah keputusan kolektif yang membahayakan kesehatan publik, terutama kelompok rentan seperti bayi yang terlalu muda untuk divaksin atau orang dengan gangguan imun.
Wabah di Carolina Selatan adalah cermin dari krisis kepercayaan terhadap sains dan program imunisasi. Ia mengungkap bagaimana komunitas yang erat dan tertutup dengan tingkat penolakan tinggi menjadi sangat rentan, dan bagaimana dengan cepatnya kerentanan itu menebar ancaman ke wilayah geografis yang lebih luas.
Upaya edukasi tanpa henti tentang keamanan dan kemanjuran vaksin MMR, serta penerapan kebijakan kesehatan masyarakat yang berbasis bukti, bukan lagi opsi, melainkan sebuah keharusan untuk mencegah "kotak korek api" berikutnya meledak.*

Post a Comment