Hot News

Total Pageviews

Check Page Rank

Deteksi Kesehatan Payudara dan Leher Rahim Perempuan dan Deteksi Kondisi Bayi dalam Kandungan

Posted by On 2:10 AM




Kesejahteraan perempuan menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini. Kesejahteraan perempuan dapat dinilai dari kondisi kesehatannya. Kondisi kesehatan perempuan Indonesia perlu menjadi perhatian karena dinilai masih sangat rendah. Setiap perempuan mempunyai risiko untuk sakit dan kondisi sakit bisa menurunkan kualitas hidup seorang perempuan. Kanker adalah salah satu penyakit yang ditakuti oleh perempuan. Kanker yang sering menyerang perempuan adalah kanker  payudara dan kanker leher rahim.

Apakah Anda tahu bahwa kanker payudara dan leher rahim diam-diam bisa menyerang tubuh perempuan? Meskipun Anda merasa sehat, belum tentu Anda bebas dan aman dari penyakit tersebut. Fakta tentang kanker payudara di Indonesia sangat memprihatinkan. Setiap tahun dapat muncul 200.000 kasus baru dan sebagian besar kasus kanker payudara yang terdeteksi sudah dalam stadium akhir, sementara jumlah kasus kanker payudara stadium awal kurang dari 10% kasus. Jumlah kasus kanker leher rahim di Indonesia juga masih cukup tinggi. Setiap hari diperkirakan muncul 40-45 kasus baru dan sekitar 20-25 perempuan meninggal setiap harinya karena kanker leher rahim.
Baca juga : Bakteri Pemakan Daging Dapat Menginfeksi dan Membunuh Manusia Dalam Empat Hari
Agar memastikan kondisi kesehatan perempuan terbebas dari kanker payudara dan kanker leher rahim, maka dibutuhkan serangkaian pemeriksaan yang harus dilakukan secara rutin. Jenis dan kekerapan pemeriksaan untuk deteksi dini kanker payudara adalah sebagai berikut :

1. Mammografi
Mammografi adalah pemeriksaan payudara dengan menggunakan sinar rontgen. Pemeriksaan ini telah terbukti mampu mendeteksi kanker payudara pada stadium dini. Rekomendasi dari American Cancer Society, American College of Radiology, American Medical Association, National Cancer Institute, American College of Gynecology, dan U.S Preventive Services Task Force menyatakan bahwa wanita usia 40 tahun atau lebih dianjurkan melakukan mammografi satu kali tiap tahunnya.

Baca juga : Cara Baru Mendeteksi Infeksi Tuberkulosis
2. Pemeriksaan payudara secara klinis
American Cancer Society merekomendasikan pemeriksaan payudara secara klinis dilakukan setiap 3 tahun pada perempuan berusia 20-an dan 30-an tahun dan setiap tahun untuk perempuan berusia 40 tahun atau lebih.

3.  SADARI
SADARI adalah pemeriksaan payudara sendiri. Pemeriksaan ini dapat dilakukan oleh perempuan berusia mulai 20 tahun. Perempuan harus tahu bagaimana kondisi normal payudara mereka dan melaporkan setiap perubahan payudara segera ke penyedia layanan kesehatan.
Baca juga : Portabel Lab Pada Smartphone Untuk Mendeteksi Biomarker Kanker
4. Ultrasonography (USG)
USG menggunakan gelombang suara untuk melihat bagian dalam payudara. USG berguna untuk mengevaluasi beberapa massa payudara yang ditemukan pada mammografi atau pada pemeriksaan fisik. USG telah menjadi alat yang berharga karena banyak tersedia, tidak invasif, dan biaya lebih murah.

5. Magnetic resonance imaging (MRI) payudara
MRI dapat digunakan bersama dengan mammografi untuk deteksi dini pada beberapa perempuan yang memiliki risiko tinggi terkena kanker payudara. MRI dapat digunakan untuk melihat daerah kanker yang mencurigakan secara lebih jelas.
Baca juga : FDA Menyiapkan Tabung Koleksi Darah Yang Dapat Menghasilkan Hasil Yang Lebih Cepat
Selain pemeriksaan diatas, perlu juga dilakukan beberapa pemeirksaan untuk deteksi kanker leher rahim seperti pap smear dan tes HPV. Pap smear adalah tes spesifik yang digunakan dan ditujukan untuk mendeteksi dini kanker leher rahim. Tes HPV adalah tes untuk mendeteksi adanya human papillomavirus (HPV) sebagai penyebab kanker leher rahim. Panduan terbaru dari American Cancer Society untuk deteksi dini kanker leher rahim  adalah :
  1. Deteksi dini kanker leher rahim harus dimulai pada perempuan berusia 21 tahun. Perempuan berusia  di bawah 21 tahun tidak harus diuji.
  2. Perempuan berusia antara 21 tahun dan 29 tahun harus melakukan pap smear setiap 3 tahun. Ada juga tes yang disebut tes HPV, tes HPV ini tidak boleh digunakan pada kelompok usia ini kecuali diperlukan setelah hasil pap smear yang abnormal.
  3. Wanita berusia antara 30 tahun dan 65 tahun harus melakukan pap smear dan tes HPV setiap 5 tahun atau pap smear saja setiap 3 tahun.
  4. Wanita di atas usia 65 tahun yang telah melakukan tes kanker leher rahim secara teratur dengan hasil yang normal tidak harus diuji untuk kanker serviks.
  5. Wanita dengan riwayat pra-kanker harus terus diuji selama setidaknya 20 tahun setelah diagnosis itu, bahkan sampai melewati usia 65 tahun.
  6. Seorang wanita yang telah divaksinasi HPV masih harus mengikuti rekomendasi deteksi dini untuk kelompok usianya.
Sebenarnya, masalah kanker payudara dan leher rahim bisa ditumpas. Kuncinya adalah deteksi dan intervensi dini. Masalahnya, sedikit sekali perempuan Indonesia yang menyadari pentingnya deteksi awal kanker payudara dan leher rahim. Banyak perempuan yang takut untuk melakukan pemeriksaan payudara atau leher rahim, padahal tidak semua masalah payudara dan leher rahim adalah kanker atau keganasan. Lebih baik melakukan deteksi dini dengan serangkaian pemeriksaan yang sudah dijelaskan diatas untuk mengetahui kondisi payudara dan leher rahim. Deteksi kanker yang terlambat bisa meningkatkan angka kesakitan dan kematian perempuan.
Baca juga : Infeksi Zika mengubah RNA manusia dan virus
Tingkat kesehatan perempuan Indonesia harus lebih baik karena perempuan mempunyai peran penting dalam keluarga, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya. Oleh karena itu, laboratorium pramita yang peduli terhadap kesehatan perempuan memberikan diskon 30% pada peringatan hari ibu untuk pelayanan deteksi dini kanker payudara dan leher rahim berupa mammografi, USG payudara, dan pap smear sampai tanggal 31 Desember 2012.

Ibu mana yang tidak ingin melihat atau mengintip kehidupan bayi dalam rahimnya secara lebih jelas? Untuk melihat kehidupan bayi dalam rahimnya secara jelas bisa menggunakan USG 4 dimensi. Gelombang atau radiasi USG 4 Dimensi tidak menimbulkan resiko apapun pada janin. Selain dapat mengetahui permukaan tubuh bayi secara lebih jelas, mulai wajah hingga kelengkapan anggota badan, USG 4 dimensi juga bisa mengetahui kelainan pada bayi secara jelas. Lebih baik mengetahui kondisi kesehatan bayi dalam kandungan Anda secara jelas agar bisa mendapat pertolongan medis yang sesuai jika terjadi kondisi yang tidak normal pada bayi Anda.

Sumber : 
Pramita Lab. 2016. Deteksi Kesehatan Payudara dan Leher Rahim Perempuan dan Deteksi Kondisi Bayi dalam Kandungan. Diakses tanggal 2 November 2016. Link ; http://www.pramita.co.id/index.php/artikel-kesehatan/261-deteksi-kesehatan-payudara-dan-leher-rahim-perempuan-dan-deteksi-kondisi-bayi-dalam-kandungan


Next
« Prev Post
Previous
Next Post »