Hot News

Total Pageviews

Check Page Rank

Bahan - Bahan Klinis Yang Terdapat Di Laboratorium Medis

Posted by On 7:18 AM

Infolabmed.com.  Bahan klinik dalam arti sempit laboratorium adalah semua bahan-bahan berupa spesimen yang diperoleh dari pasien, baik dengan menampung, melakukan pungsi maupun dengan teknik khusus cara pengumpulannya yang digunakan untuk bahan pemeriksaan laboratorium. Bahan klinik dapat juga disebut dengan istilah material medik.

Bahan klinik sebaiknya diperlakukan sebagai bahan infeksius sehingga saat pengambilan, penanganan, penyimpanan hingga pemeriksaan harus menggunakan alat pelindung diri (APD). Teknik pengumpulan yang tepat dan baik, akan menentukan kualitas bahan klinik sebagai spesimen di laboratorium.

JENIS - JENIS BAHAN KLINIS
DARAH
 Darah merupakan bahan klinik yang paling banyak ditemui di laboratorium karena merupakan spesimen utama dalam pemeriksaan laboratorium. Darah diperoleh melalui pungsi terhadap pembuluh darah pasien. Darah vena diambil bila jumlah spesimen yang diperlukan melebihi 0,5 mL darah untuk bermacam-macam pemeriksaan laboratorium. Darah kapiler diambil bila dibutuhkan darah kurang dari 0,5 mL. Darah arteri diambil oleh tenaga ahli terlatih untuk pemeriksaan gas darah.

Darah segar dan tanpa antikoagulan merupakan spesimen yang paling terbaik, karena tidak terkontaminasi oleh zat-zat apapun dari luar. Spesimen darah di laboratorium yang diambil dari pasien dapat digunakan untuk berbagai macam pemeriksaan antara lain : hemoglobin, leukosit, trombosit, golongan darah, HbA1c, LED, Malaria dan hapusan darah tepi.

Persiapan :
Darah yang diperoleh ditampung dalam tabung yang telah berisi antikoagulan yang sesuai, lalu dihomogenisasi dengan cara goyang perlahan tabung. Darah harus segera dikirim ke laboratorium untuk segera dilakukan pemeriksaan karena ada beberapa parameter yang tidak stabil misal LED.

PLASMA
Plasma adalah bagian darah yang cair tanpa sel-sel darah yang mengandung substansi dengan berat molekul kecil dan besar terlarut, warnanya bening kekuning-kuningan. Hampir 90% dari plasma darah terdiri atas air. Plasma merupakan bagian cairan dari darah setelah dilakukan pemisahan melalui pengendapan atau sentrifugasi. Plasma masih berisi faktor-faktor pembekuan darah dan trombosit. Plasma selalu mengandung zat pengawet yaitu antikoagulan. Penggunaan plasma antara lain : faal hemostasis, pemeriksaan kimia klinik pada kimia darah (beberapa). Penggunaan plasma tidak terlalu luas sebagaimana serum, plasma hanya digunakan sebagai alternatif pengganti serum apabila serum yang diperoleh sangat sedikit pada kondisi darurat.
 
Persiapan :
Kocok darah EDTA atau Sitrat dengan segera secara perlahan-lahan.  Pemisahan plasma dilakukan dalam waktu 2 jam setelah pengambilan spesimen. Plasma yang memenuhi syarat harus tidak kelihatan merah dan keruh

SERUM
Serum merupakan bagian cairan dari darah yang membeku setelah dilakukan pemisahan melalui pengendapan atau sentrifugasi. Serum tidak lagi/sangat sedikit berisi faktor-faktor pembekuan darah dan trombosit. Penggunaan serum dalam kimi klinik lebih luas dibandingkan penggunaan plasma, hal ini karena serum tidak mengandung bahan-bahan dari luar sehingga komponen-komponen yang terkandung didalam serum tidak terganggu aktifitas atau reaksinya.

Persiapan :
Biarkan darah membeku terlebih dahulu pada suhu kamar selama 2-30 menit, lalu di sentrifuge 3000 rpm selama 5-15 menit. Pemisahan serum dilakukan dalam waktu 2 jam setelah pengambilan darah. Serum yang memenuhi syarat harus tidak kelihatan merah dan keruh


URINE
Urine merupakan bahan buangan tubuh berbentuk cair yang dikeluarkan melalui sistem urogenital. Urine yang didapatkan tidak perlu ada perlakuan secara khusus, kecuali pemeriksaan harus segera dilakukan sebelum 1 jam, sedangkan untuk pemeriksaan sedimen harus dilakukan pengolahan terlebih dahulu dengan cara dimasukkan tabung dan sentrifuge selama 5 menit 1500-2000 rpm, supernatan dibuang dan diambil sedimennya. Suspensi sedimen ini dicampur dengan cat Sternheirmer-Malbin Stain’s untuk menonjolkan unsur sedimen dan memperjelas strukturnya.
 
Persiapan :
Urine ditampung menggunakan wadah yang cukup lebar, bermulut, tutup ulir, diberikan label, terbuat dari kaca atau plastik, berukuran sedang antara 5 – 50 mL. apabila untuk keperluan urine 24 jam maka botol harus berkapasitas antara 500 – 2000 mL.
 
Catatan :
Spesimen urine yang diperiksa lewat 1 jam akan mengalami perubahan, terjadi pertumbuhan bakteri dan penurunan glukosa, perubahan pH hingga terjadi kekeruhan sehingga hasil pemeriksaan tidak lagi representatif.


FAECES
Faeces merupakan sisa pencernaan tubuh terhadap makanan yang berbentuk padat dan memiliki karakteristik berwarna kuning dan bau yang khas yang dikeluarkan melalui defekasi. Faeces/tinja untuk pemeriksaan sebaiknya berasal dari defekasi spontan, jika pemeriksaan sangat diperlukan, sampel tinja dapat diambil dari rektum dengan jari bersarung tangan. Teknik rectal swab boleh digunakan untuk keperluan bakteriologi. Faeces dikumpulkan untuk pemeriksaan rutin adanya gangguan pencernaan yang dapat diketahui penyebabnya pada pemeriksaan. Sebaiknya dipilih bagian faeces yang bercampur darah, nanah, lendir karena memiliki nilai diagnostik yang baik dan representatif.
 
Persiapan :
Faeces yang dikumpulkan ditampung dalam wadah dengan bermulut cukup lebar, bertutup ulir, diberikan label dan segera dikirim ke laboratorium. Spesimen yang diambil tidak perlu banyak, cukup seukuran jempol dewasa.

SPUTUM
Sputum berasal dari sekret yang dikeluarkan oleh saluran pernafasan hingga paru-paru. Konsisntensi sputum bervariasi, tapi pada umumnya encer hingga kental, tidak berwarna hingga berwarna hijau kuning. Pengumpulan sputum untuk keperluan pemeriksaan BTA diperlukan 3 spesimen yaitu sewaktu jam 22.00, pagi saat bangun tidur pagi jam 05.00, dan saat akan berangkat jam 08.00, sehingga di Puskesmas dikenal sebagai sputum S-P-S. Namun di Rumah Sakit terutama pasien rawat inap, sputum dikumpulkan selama 3 hari berturut menggunakan spesimen pagi sehingga disebut istilah sputum 3P.
 
Persiapan :
Sebelumnya pasien diberi penjelasan mengenai pemeriksaan dan tindakan yang akan dilakukan, serta perbedaan sputum dengan ludah. Bila pasien kesulitan mengeluarkan sputum, pada malam hari sebelumnya diminta minum teh manis atau obat gliseril guayakolat 200 mg.  Kemudian diambil sputumnya dengan cara:
  • Pasien diminta untuk berkumur dengan air, bila memakai gigi palsu sebaiknya dilepas.
  • Pasien berdiri / duduk tegak.
  • Pasein diminta untuk menarik napas dalam 2-3 kali kemudian keluarkan napas bersamaan dengan batuk yang kuat dan berulang kali sampai sputum keluar.
  • Sputum yang dikeluarkan  langsung ditampung dalam wadah dengan cara mendekatkan wadah ke mulut.
  • Diamati keadaan sputum, sputum yang berkualitas baik tampak kental purulen dengan volume  2 ml.
TRANSUDAT EKSUDAT
Transudat Eksudat merupakan cairan tubuh yang mengisi rongga-rongga tubuh pada jaringan/organ. Cairan transudat eksudat diambil secara pungsi pada organ atau jaringan dalam jumlah tertentu. Pengambilan dimaksudkan untuk membedakan apakah jenis transudat karena kelainan sirkulasi hemodinamik atau eksudat karena radang atau infeksi.
 
Persiapan :
Spesimen yang telah diambil dari pasien dibagi menjadi 3 bagian, bagian 1 ditambahkan antikoagulan Natrium sitrat 20% dan bagian 2 tanpa ditambahkan antikoagulan dan bagian 3 disiapkan untuk perbenihan bakteriologi.

CAIRAN LUMBAL
Cairan lumbal biasa disebut cairan otak atau juga liquor cerebrospinalis (LCS), merupakan cairan yang diambil pada selaput otak yang berfungsi mempertahankan keseimbangan, bantalan terhadap benturan otak. Tujuan pemeriksaan cairan lumbal untuk melihat adanya gangguan infeksi atau radang yang bertalian dengan gangguan pada otak, terutama pada pasien tidak sadar karena meningitis, perdarahan otak karena otak mengalami kelumpuhan.
 
Pengambilan dengan melakukan pungsi pada lumbal III dan IV pada subarachnoideal, oleh dokter terlatih. Risiko yang terjadi dapat berupa trauma pungsi hingga infeksi pada otak bila teknik pengambilan spesimen tidak baik. 
 
Persiapan :
Spesimen yang telah diambil dari pasien dibagi menjadi 2 bagian, bagian 1 ditambahkan antikoagulan Natrium sitrat 20% dan bagian 2 tanpa ditambahkan antikoagulan dan bagian 3 disiapkan untuk perbenihan bakteriologi.


MANI ATAU SEMEN
Mani atau sperma atau semen merupakan cairan sekret ejakulat yang dikeluarkan oleh seorang pria berupa cairan kental dan keruh, berisi sekret dari kelenjar prostat, kelenjar-kelenjar lain dan spermatozoa. Mani diperiksa di laboratorium bertujuan untuk melihat tingkat kesuburan seorang pria, apabila memiliki tingkat kesuburan rendah maka sulit mendapatkan keturunan. Mani yang dikeluarkan bervariasi warna, kekentalan, jumlah volume dan kekeruhannya, tergantung aktifitas pria tersebut, teknik pengumpulan dan abstinensia yang dilakukan.
 
Persiapan :
Seseorang yang akan memeriksakan spermanya, sebaiknya terlebih dahulu melakukan pantangan (abstinensia) untuk tidak mengeluarkan sperma sedikit-dikitnya selama 3 hari (3 x 24 jam) dengan alasan menurut penyelidikan, jangka waktu sebesar itu sudah cukup untuk suatu spermiogenesis dan untuk sampel yang baik. Tetapi untuk baiknya pasien diminta supaya tidak mengadakan kegiatan seksual selama 3-5 hari. Pengeluaran ejakulat sebaiknya dilakukan pagi hari sebelum melakukan aktifitas, sedekat mungkin sebelum pemeriksaan laboratorium.

BAHAN MUNTAHAN 
Bahan muntahan adalah bahan makanan yang dikeluarkan/dimuntahkan melalui sistem pencernaan bagian atas pada tubuh, berupa bahan dengan konsistensi padat dan cair. Muntahan yang dikeluarkan merupakan spesimen yang dikeluarkan dengan sendirinya atau melalui rangsangan pada mulut. Maksud pengumpulan spesimen ini untuk identifikasi infeksi Cholera, keracunan makanan Clostridium botulinum, Clostridium welchii dan Staphylococcus aureus hemolyticus penghasil enterotoksin, serta keracunan bahan kimia pada makanan. Sebaiknya bahan tersebut harus segera dikirim ke laboratorium untuk dianalisa guna menghindari terjadinya kerusakan.
 
Persiapan :
Disiapkan wadah berukuran besar untuk menampung. Disediakan botol kering bersih dan bertutup untuk pemeriksaan kimia, medium alkali pepton pH 8-9 untuk untuk pemeriksaan Cholera, MSA dan Bouillon untuk Staphylococcus dan media transport untuk identifikasi umum.

CAIRAN LAMBUNG
Cairan lambung atau getah lambung adalah cairan isi lambung yang diambil menggunakan alat khusus kateter karet Sonde Wangensteen atau Sonde Levine. Karet kateter sonde dimasukkan melalui mulut atau hidung perlahan hingga mencapai lambung. Disedot cairan lambung menggunakan syringe berukuran 5-10 mL untuk mendapatkan cairan lambung. Pengerjaan ini sebaiknya dilakukan tenaga terlatih, baik dokter atau perawat. Tujuan pemeriksaan cairan ini antara lain : mengetahui kelainan sekresi lambung, adanya keracunan, perdarahan lambung, adanya tumor dan motilitas lambung.
 
Persiapan :
Pasien dibuat tenang dan kateter didinginkan dalam lemari es untuk mencegah refleks muntah pasien dan diberi gliserin untuk pelicin. Cairan lambung didapat segera dilkirim ke laboratorium untuk segera diperiksa.

PUS
Pus atau nanah merupakan cairan kental yang terbentuk karena proses radang hingga infeksi bakteri yang berwarna putih, kuning hingga kuning kehijauan, yang terdiri atas sel leukosit, jaringan yang mencair, bakteri dan plasma tubuh. Pemeriksaan spesimen pus dimaksudkan untuk indentifikasi atau melihat jenis mikroorganisme yang menginfeksi tubuh.
 
Persiapan :
Disiapkan objek gelas untuk membuat sediaan langsung preparat. Apabila memungkinkan dalam jumlah besar sebaiknya ditampung dalam botol bersih, kering, steril dan dibawa segera ke laboratorium. Apabila dalam jumlah sedikit, maka spesimen yang diperoleh segera dimasukkan ke dalam larutan media cair yang sudah disiapkan.

SEKRET KELAMIN
Sekret kelamin adalah cairan yang dikeluarkan melalui alat kelamin pada laki-laki atau perempuan berupa cairan putih, bening, keruh dan purulen, karena terinfeksi mikroorganisme tertentu pada kelamin.
Tujuan pemeriksaan ini untuk mengetahui penyebab infeksi pada alat kelamin dan saluran. Umumnya yang menyebabkan infeksi adalah bakteri-bakteri jenis : Neisseria gonorrhoe, bakteri jenis batang dan coccus lainnya, sedangkan protozoa adalah Trichomonas vaginalis, dan jamur adalah Candida albicans.
 
Persiapan :
Alat-alat yang diperlukan harus steril dan pengambilan harus dalam keadaan steril dan tepat pada saluran kemih. Sebaiknya diambil bagian yang berlendir dan purulen.

RAMBUT DAN KUKU
Rambut dan kuku biasanya diambil pada pasien yang tersangka keracunan dalam keperluan toksikologi forensik/kehakiman. Umumnya dilakukan pada mayat dengan cara mencabut rambut dan kuku hingga pada akarnya, karena racun terkonsentrasi pada bagian akar rambut dan akar kuku. Keracunan yang sering terjadi pada keracunan arsen.
 
Persiapan :
Rambut dan kuku sebaiknya dicabut pada mayat hingga dasar akar. Apabila kesulitan mencabut maka dapat digunakan alat bantu baik berupa penjepit atau alat lainnya.

POTONGAN JARINGAN
Potongan jaringan merupakan jaringan yang diambil atau dipotong dari manusia untuk keperluan pemeriksaan patologi anatomi dan toksikologi forensik. Potongan jaringan sebaiknya dimasukkan dalam wadah besar dari beri pengawet alkohol 95% atau formalin atau pengawet khusus dan segera dikirim ke laboratorium.
 
Persiapan :
Disiapkan wadah berukuran yang cukup besar dan bermulut lebar. Dimasukkan potongan jaringan yang akan dikirim dan segera ditutup.

 KEWASPADAAN UNIVERSALTERHADAP BAHAN KLINIK
Sebaiknya perlakuan bahan klinik sebagai spesimen-spesimen di laboratorium diperhatikan adanya kewaspadaan universal, maksudnya menganggap semua spesimen adalah infeksius sehingga dalam bekerja harus berhati-hati. Umumnya penyakit terutama bakteri, virus, jamur, cacing dan protozoa dapat ditularkan hampir semua melalui cairan-cairan tubuh tersebut. Penyakit saat ini yang paling berbahaya dan menularkan melalui cairan tubuh seperti darah adalah hepatitis B dan HIV.

Sumber :
Ripani Musyafa Ahdan. (2016). Bahan Klinik. Link : http://ripanimusyaffalab.blogspot.co.id/2012/11/bahan-klinik.html?view=classic

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »