Hot News

Total Pageviews

Check Page Rank

Pemeriksaan Demam Pada Diagnosa Tofid / Tipus

Posted by On 8:51 AM





Demam tifoid, oleh orang awam sering kali disebut tipus, merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman “Salmonella typhii”. Demam tifoid dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain. Demam tifoid menular melalui kotoran (fecal-oral) dan sangat erat kaitannya dengan higienisitas seseorang.




Anak yang menderita demam tifoid, umumnya memiliki gejala demam lebih dari 1 minggu. Selain itu, keluhan yang dominan dialami oleh anak adalah keluhan pada saluran cerna, seperti mual, muntah, mencret, atau pada anak yang lebih besar terkadang sembelit/susah BAB.

Orang tua tentu juga sering mendengar istilah paratipus, atau paratifoid. Paratifoid disebabkan oleh kuman Salmonella paratyphii. Infeksi paratifoid cenderung tidak lebih berbahaya dibandingkan tifoid dan respon terhadap pengobatan pada infeksi paratifoid umumnya juga lebih cepat dibandingkan dengan tifoid.

Untuk memastikan apakah anak infeksi tifoid atau bukan, dibutuhkan pemeriksaan laboratorium untuk menemukan dan membiakkan kuman tifoid, melalui sampel darah. Pemeriksaan lain yang dapat digunakan adalah pemeriksaan antibody terhadap kuman S. Typhii (Typhii dot).

PEMERIKSAAN PENUNJANG DIAGNOSTIK UNTUK DEMAM TIFUS / TIPOID

Penegakan diagnosis demam tifoid didasarkan pada manifestasi klinis yang diperkuat oleh pemeriksaan laboratorium penunjang. Sampai saat ini masih dilakukan berbagai penelitian yang menggunakan berbagai metode diagnostik untuk mendapatkan metode terbaik dalam usaha penatalaksanaan penderita demam tifoid secara menyeluruh.

Berbagai metode diagnostik masih terus dikembangkan untuk mencari cara yang cepat, mudah dilakukan dan murah biayanya dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi. Pemeriksaan laboratorium untuk membantu menegakkan diagnosis demam tifoid dibagi dalam empat kelompok, yaitu : 

2. Pemeriksaan bakteriologis dengan isolasi dan biakan kuman;
3. Uji serologis; dan
4. Pemeriksaan kuman secara molekuler.

TES WIDAL YANG TIDAK AKURAT SUMBER KESALAHAN DIAGNOSIS 

Di Indonesia pemeriksaan widal sebagai pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis tifus paling sering digunakan. Meskipun ternyata pemeriksaan ini sering menimbulkan kerancuan dan mengakibatkan kesalahan diagnosis. Dalam penelitian penulis didapatkan infeksi virus yang sering menjadi penyebab demam pada anak dan orang dewasa ternyata juga terjadi peningkatan hasil widal yang tinggi pada minggu pertama. 

Interpretasi dari uji Widal ini harus memperhatikan beberapa faktor antara lain sensitivitas, spesifisitas, stadium penyakit; faktor penderita seperti status imunitas dan status gizi yang dapat mempengaruhi pembentukan antibodi; gambaran imunologis dari masyarakat setempat (daerah endemis atau non-endemis); faktor antigen; teknik serta reagen yang digunakan.

Kelemahan uji Widal yaitu rendahnya sensitivitas dan spesifisitas serta sulitnya melakukan interpretasi hasil membatasi penggunaannya dalam penatalaksanaan penderita demam tifoid akan tetapi hasil uji Widal yang positif akan memperkuat dugaan pada tersangka penderita demam tifoid (penanda infeksi). 

Saat ini walaupun telah digunakan secara luas di seluruh dunia, manfaatnya masih diperdebatkan dan sulit dijadikan pegangan karena belum ada kesepakatan akan nilai standar aglutinasi (cut-off point). Untuk mencari standar titer uji Widal seharusnya ditentukan titer dasar (baseline titer) pada anak sehat di populasi dimana pada daerah endemis seperti Indonesia akan didapatkan peningkatan titer antibodi O dan H pada anak-anak sehat.

Sumber :
  • IDAI Indonesian pediatric Society. 2016. Mengenal Demam Tifoid. Diakses tanggal 10 Oktober 2016. Link ; www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/mengenal-demam-tifoid
  • Info Demam. 2016. Penanganan Terkini Demam Tifoid (Tifus). Diakses tanggal 10 Oktober 2016. Link ; https://infodemam.com/2014/03/20/penanganan-terkini-demam-tifoid-tifus/


Next
« Prev Post
Previous
Next Post »