Hot News

Total Pageviews

Check Page Rank

Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) Laboratorium Medis

Posted by On 7:12 AM


Infolabmed.com. Laboratorium merupakan tempat kerja yang berpotensi timbul kecelakaan. Meski kecelakaan kecil dan ringan, tetaplah merupakan kecelakaan yang bisa jadi menimbulkan efek yang lebih besar. Kecelakaan di laboratorium medis dapat bermacam-macam penyebabnya.
  • Larutan asam atau basa: terpercik ke kulit atau mata, tertelan.
  • Substansi toksik.
  • Panas : nyala api langsung, cairan panas; cairan mudah terbakar, ledakan.
  • Trauma akibat bahan/peralatan infeksius, sengatan listrik, dll.
Perlengkapan P3K
  • Kotak P3K (lihat bawah)
  • Larutan natrium karbonat 5% (reagen no. 52)
  • Larutan natrium bikarbonat 2% (reagen no. 50) (botol tetes mata)
  • Larutan asam borat jenuh (reagen no. 12) (botol tetes mata)
  • Larutan asam asetat 5% (reagen no. 1)
  • Kapas dan kasa
  • "Obat merah" (merkurokrom) dan tingtur iodin.
Berbagai perlengkapan di atas harus selalu tersedia di laboratorium. Perlengkapan ini jangan disimpan dalam lemari terkunci. Berbagai larutan harus disimpan dalam botol plastik.

Kotak P3K
Kotak P3K harus berisi.
  • Buku petunjuk umum
  • Kasa steril (satuan) dalam berbagai ukuran
  • Perban penutup-mata steril
  • Perban segitiga (penyangga lengan)
  • Kasa steril untuk luka besar
  • Kasa steril biasa (tidak mengandung obat) untuk luka kecil
  • Safety-pins
  • Botol berisi tetes mata
  • Buku pedoman P3K.
Stok perlengkapan dalam kotak P3K harus segera dilengkapi kembali sehabis digunakan dan periksa secara berkala untuk memastikan bahwa perlengkapan tersebut masih dalam kondisi baik.

Trauma korosif akibat asam
Berbagai asam seperti asam nitrat, asam sulfat, asam kromat, asam klorida, asam asetat, dan asam triklorbasetat dapat menyebabkan trauma korosif. Karena itu, penanganan segera harus dilakukan saat terjadi kecelakaan akibat asam.

Pada semua kasus : Bilas segera bagian tubuh yang terkena larutan asam dengan air sebanyak-banyaknya.
 
Percikan larutan asam ke Kulit
  • Bilas bagian kulit yang terpercik larutan asam dengan seksama dan berulang kaii dengan air sebanyak-banyaknya.
  • Basuh daerah kulit tersebut dengan kapas yang dibasahi larutan natrium karbonat5%.

Percikan larutan asam ke mata
  • Bilas mata segera dengan air sebanyak-banyaknya yang disemprotkan dari botol polietilen (atau karet penyemprot-air) selama 15 menit (Gambar 3.76); semprotkan air ke sudut mata dekat hidung. Alternatifnya, bilas mata dengan air mengalir dari keran (Gambar 3.77). Minta pasien untuk menutup mata yang lain.
  • Setelah dibilas, teteskan 4 tetes larutan natrium bikarbonat 2% ke dalam mata.
  • Panggil dokter. Teruskan penetesan larutan natrium bikarbonat ke dalam mata sampai dokter datang.

Tertelan larutan asam
Bila larutan asam tertelan:
  • Panggil dokter.
  • Pasien segera diberi minum susu (alternatifnya, berikan dua putih telur dieampur dengan 500 ml air).
  • Kalau tidak ada keduanya, pasien harus diberi minum air putih.
  • Minta pasien minum susu sambil berkumur-kumur.
  • Pasien diberi minum air putih sebanyak tiga atau empat gelas.
  • Bila bibir dan lidah terbakar larutan asam:
- bilas seksama dengan air, kemudian
- basuh dengan larutan natrium bikarbonat 2%.

Catatan: Gunakan selalu karet pengisap sewaktu memipet larutan asam, jangan pernah memipet dengan mulut.

Trauma korosif akibat basa
Larutan basa seperti natrium hidroksida, kalium hidroksida, dan amonium hidroksida juga dapat menyebabkan trauma korosif. Trauma basa dapat lebih berat dibandingkan trauma asam.
Pada semua kasus: Bilas segera bagian tubuh yang terkena larutan basa dengan air sebanyak-banyaknya.

Ciptratan zat alkali di kulit
  • Cuci area yang terkena seluruhnya dengan air dan ulangi.
  • Basuh kulit yang terkena dengan kapas yang sudah direndam dengan larutan asam asetat 5% (atau cuka yang tidak diencerkan atau air jeruk lemon).
Cipratan zat alkali di mata
  • Cuci mata segera dengan sejumlah besar air yang desemprotkan dari suatu botol polientilen (atau botol plastik); sembur air di dekat hidung What Gbr. 3.76). Cara lain, cuei mata dengan air yang mengalir dari sebuah keran What Gbr.3.77).
  • Setelah mencuci dengan air, basuhlah dengan larutan asam boratjenuh.
  • Pergi ke dokter. Teruskan pemberian la rut an asam berat ke mata sampai pasien tiba di dokter.
Menelan zat alkali
  • Kirim pasien pergi ke dokter.
  • Pasien segera meminum larutan asam asetat 5% (atau air jeruk atau cuka yang diencerkan-l bagian cuka dengan 3 bagian air).
  • Pasien berkumur dengan la rut an asam yang sama.
  • Berikan pasien tiga atau empat gelas air putih.
  • Bila bibir dan lidah terbakar oleh zat alkali:
- bilas seluruhnya dengan air, lalu
- basuh den!;;an la rut an asam asetat 5%.

Keracunan
Keracunan dapat teijadi akibat:
- inhalasi uap atau gas toksik (mis., kloroform)
- tertelan larutan beracun

Pada semua kasus:
• Panggil dokter atau perawat terlatih, laporkan substansi toksik penyebabnya.
• Letakkan korban di tempat terbuka sambil menunggu dokter atau perawat.

Luka bakar akibat panas
Luka bakar ini dibagi dalam dua kategori:
• Luka bakar berat (mis., luka bakar sewaktu membakar eter atau akibat tersiram air panas).
• Luka bakar ringan (mis., luka bakar yang disebabkan oleh peralatan gelas panas atau pemanas Bunsen).
 
Luka Bakar berat
• Bila api masih menyala di tubuh korban (mis., tepercik sewaktu membakar eter atau pelarut lain yang mudah terbakar), bungkus tubuh korban dengan selimut untuk memadamkan api.
• Beri tahu segera dokter yang sedang bertugas saat itu di departemen medis terkait, laporkan bahwa korban dengan luka bakar berat harus segera dipindahkan.
• Baringkankorban di tanah. Jangan melepaskan pakaian korban. Selimuti tulbuh korban bila kedinginan.
• Jangan melakukan penanganan medis apa pun terhadap luka bakar: hal ini harus dilakukan oleh dokter.
 
Luka bakar ringan
• Rendam bagian tubuh yang terkena di dalam air dingin atC),u campuran es dan air untuk meredakan nyeri .
. Bubuhkan merkurokrom atau tingtur iodin ke bagian tubuh dengan luka bai<ar.
• Bungkus dengan perban kasa kering.
• Bila luka bakar terinfeksi atau tidak sembuh, bawa pasien ke dokter.
Catatan: Jangan sekali-kali memecahkan gelembung (vesikel) yang terbEmtuk di atas luka.

Luka akibat pecahan gelas
Gelas bersih
• Lakukan disinfeksi standar di daerah kulit yang terluka (sebagai contoh, dengan membubuhkan merkurokrom atau tingtur iodin).
• Bila lukanya kecil, tutup dengan perban steril berperekat (perban siap-pakai).
• Bila perdarahan banyak, hentikan perdarahan dengan menekan sumber perdarahan menggunakan kasasteril. Bawa pasien ke departemen medis terkait. .
• Bila perdarahan sangat banyak dan kadang-kadang disertai darah yang menyemprot, coba hentikan perdarahan dengan menekan sumber perdarahan menggunakan kasa steril dan panggil dokter atau perawat terlatih.
• Teruskan penekanan sumber perdarahan tersebut sambil menul!ggu dokter atau perawat. (Dokter atau perawat akan memutuskan apakah perlu dipasang tourniquet atau tidak).

Gelas berisi bahan infektif
Peralatan gelas yang berisi feses, pus, kultur bakteri, dll.
• Periksa apakah terdapat perdarahan; bila tidak ada, peras bagian sekitar luka untuk mengeluarkan darah selama beberapa menit.
• Basuh seluruh daerah luka (tepi dan bagian dalam luka) dengan tingtur iodin atau larutan antiseptik (lihat Tabel 3, halaman 83).
• Bilas seluruh daerah luka dengan seksama menggunakan air dan sabun. Basuh kembali daerah tersebut dengan tingtur iodin.
• Bawa pasien ke dokter bila bahan terkait merupakan bahan infektif (mis., kultur bakteri, pus).

Sengatan listrik
Arus listrik bolak-balik (120 V atau 220V) umumnya digunakan dalam laboratorium. Sengatan listrik dapat terjadi sewaktu memegang peralatan yang rusak, terutama dengan tangan yang basah. Gejalanya yaitu sinkop, asfiksia, dan henti jantung.
  • Sebelum melakukan apapun, putuskan aliran listrik dari sekring utama.
  • Panggil dokter.
  • Bila terjadi henti jantung, lakukan kompresi jantung luar (kompresi dada) bila perlu dan mular berikan pernapasan (ventilasi) buatan.
Sumber 
WHO . 2003. Pedoman Dasar Untuk Laboratorium Kesehatan (Manual of Basic Techniques for A Health Laboratory) ; Edisi 2. Penerbit EGC

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »