Hot News

Total Pageviews

Check Page Rank

Macam-Macam Air Untuk Laboratorium Medis

Posted by On 4:54 AM


Infolabmed.com. Demi kelancaran pekerjaan di suatu laboratorium medis, diperlukan sumber air yang adekuat. Untuk itu, diperlukan:
  • air bersih
  • air suling
  • air bebas-mineral (bila memungkinkan)
  • air dapar (bila memungkinkan).

1 AIR BERSIH
Untuk memeriksa apakah sumber air bersih atau tidak, isi sebuah botol dengan air, lalu diamkan selama tiga jam. Periksa dasar botol. Bila terdapat endapan, air tersebut perlu disaring.

Penyaringan
Menggunakan tabung porselen berpori atau gelas penyaring "sintered"
Jenis penyaring ini dapat dihubungkan ke sebuah keran . Atau, dapat direndam di dalam wadah berisi air yang akan disaring (Gbr. 2.28).
 
Perhatian : Penyaring jenis ini harus dibongkar sebulan sekali dan dicuci di dalam air mendidih yang telah disaring.

Menggunakan penyaring pasir
Penyaring pasir dapat dibuat di laboratorium. Untuk membuatnya, diperlukan (Lihat Gbr. 2.29) : 
  • reservoir penyaring (wadah besar, seperti drum logam, pot tembikar besar, atau ember yang dilubangi) 
  • pasir (S)
    kerikil (G)
Catatan: Air yang telah disaring dengan penyaring pasir hampir pasti terbebas dari partikel-partikel. Namun, air ini dapat mengandung senyawa kimia larut air dan bakteri.

PENYIMPANAN AIR
 
Bila persediaan air terbatas atau bersumber dari tangki atau sumur, air sebaiknya disimpan sebanyak-banyaknya sebagai cadangan, dianjurkan dalam wadah kaca atau plastik. 
Air yang disimpan harus dituang terlebih dahulu sebelum disaring.

SUMBER AIR
Bila tidak tersedia air mengalir di laboratorium, dapat dibuat sistem penyalur air sebagai berikut (lihat Gbr. 2.30).
1. Letakkan wadah air di atas rak tinggi.
2. Hubungkan sebuah selang karet ke dalam wadah sehingga air dapat mengalir ke bawah.
3. Selang dijepit dengan klem Mohr atau penjepit-sekrup keeil.


2. AIR SULING
Air suling tidak mengandung senyawa nonvolatil (misalnya, berbagai mineral), tetapi dapat mengandung senyawa organik volatil.
 
Pembuatan
Air suling dibuat menggunakan suatu penyuling, yaitu air biasa dipanaskan sampai mendidih, kemudian uap yang dihasilkan didinginkan dalam pipa pendingin sehingga terkondensasi menghasilkan air suling.
 
Jenis-jenis penyuling air yang tersedia:
- penyuling tembaga atau logam tahan-karat (alembics)
- penyuling kaca
- penyuling tenaga surya.

Penyuling dipanaskan dengan gas, minyak tanah, listrik, atau tenaga surya, bergantung pada jenisnya.


Penyuling tembaga atau logam tahan·karat (Gbr. 2.31)
1. Reservoir (R) diisi dengan air yang akan disuling.
2. Hubungkan pipa air dingin (T) dengan sebuah keran.
3. Panaskan reservoir dengan pemanas Bunsen (B) atau pemanas minyak tanah.
Penyuling ini dapat menghasilkan air suling sebanyak 1-2liter per jam, bergantung pada efisiensi sistem pemanas.
 
Penyuling kaca (Gbr. 2.32)
Penyuling kaca mudah pecah, namun hampir selalu menghasilkan air yang lebih murni dibandingkan penyuling logam. Metode penyulingan sama seperti penyuling logam. Air mengalir harus dipastikan bersirkulasi secara bebas di dalam kondensor (C). Air dapat dipanaskan di dalam labu takar denganpemanas elektrik (E).
Penyuling tenaga surya (Gbr. 2.33)
Untuk laboratorium di daerah terpencil dengan sarana dan prasarana yang terbatas, penyuling air tenaga surya sederhana dapat dibuat dengan mudah, menggunakan wadah plastik yang bersih, yang terdiri dari dua kompartemen (besar dan kecil) dengan penampang yang luas, di bagian atasnya dilapisi kaca dalam posisi miring.

Air dituangkan ke dalam kompartemen besar yang akan ter-evaporasioleh sinar matahari. Uap ini kemudian mengalami kondensasi di dalam kaca dan akhirnya menuju ke kompartemen kecil. Kompartemen kecil memiliki saluran keluar (outlet)di bagian dasarnya, yang melalui saluran ini, air suling dapat mengalir ke dalam botol kaca di bawah wadah.

Pada iklim tropis, sebuah pemanas tenaga surya dapat memproduksi 2-7 liter air suling per m2 per hari . .

Perhatian:
• Air suling disimpan di dalam wadah kaca atau plastik.
• Jangan menyuling seperempat volume terakhir dari air yang telah dipanaskan karena bagian tersebut mengandung residu.

PENGENDALIAN MUTU

pH air suling normal berkisar antara 5,0 dan 5,5 (asam).
Gunakan larutan perak nitrat 1,7% (AgNO3) (reagen no.49) untuk mendeteksi ada-tidaknya garam klorida (misalnya, kalsium klorida).

Masukkan ke dalam gelas ukur:
- 10 ml air suling;
- 2 tetes asam nitrat;
- 1 ml larutan perak nitrat . .
Air harus tetap jernih.
Bila air tampak agak keruh berwarna keputih-putihan, proses penyulingan (distilasi) harus diulang.

Kegunaan
Air suling digunakan dalam pembuatan reagen dan untuk membilas berbagai peralatan gelas sebelum dikeringkan.
 
Perhatian:
  • Jangan gunakan air suling yang tersedia di pasaran (jenis air suling yang dijual untuk mengisi baterai mobil) dalam pembuatan reagen laboratorium.
  • Sebaiknya gunakan air suling yang segar; bila tidak tersedia, gunakan air suling yang disimpan dalam wadah gelas atau plastik, yang harus dibersihkan secara rutin.
  • Gunakan selalu air suling yang dibuat dalam seminggu terakhir.

3. AIR BEBAS MINERAL

Air bebas-mineral (demineralized water) adalah air yang tidak mengandung ion, tetapi mungkin saja masih mengandung senyawa organik.

Pembuatan
Air bebas-mineral dibuat dengan mengalirkan air biasa melalui tabung berisi resin pertukaran-ion (ion-exchange resin). Peralatannya terdiri atas magasin (cartridge) panjang, yang berisi butiran-butiran resin pertukaran-ion.

Air disaring di dalam tabung berisi butiran resin tersebut, sehingga semua ion mineral tertahan (yi., semua garam mineral terlarut). Beberapa demineralisator memiliki dua magasin yang memungkinkan air mengalir dengan lancar (Gbr. 2.34).
  1. Periksa apakah magasin telah terisi penuh.
  2. Hubungkan tabung inlet ke sumber air (sebuah keran atau tangki kecil yang diletakkan di atas alat). Pada beberapa jenis alat, air merigalir masuk dari bagian atas tabung. Pada jenis alat lainnya, air mengalirmasuk dari bagian bawah tabung.
  3. Biarkan air mengalir masuk perlahan-lahan.
  4. Tampung air yang telah di-demineralisasi di dalam wadah tertutup.
Pengendalian mutu
Demineralisator dengan alat pengendali
Alat pengendali mengukur resistivitas air yang timbul akibat adanya ion-ion .
Makin sempurna proses demineralisasi, resistivitas elektrik air makin besar.
  1. Periksa apakah sistem kendali sudah sesuai dengan baterai yang masih berfungsi baik.
  2. Untuk memeriksa apakah baterai sudah terisi, tekan tombol bertuliskan "zero test"; jarum pad a alat harus menunjuk tepat ke angka nol (Gbr. 2.3s(a)).
  3. Biarkan air mengalir ke dalam magasin.
  4. Bila air bebas-mineral mulai mengalir keluar pada si si magasin yang lain, tekan tombol bertuliskan "water test". Jarum seharusnya menunjukkan besar resistivitas lebih dari 2 megaohm/em (2 MΏ/cm) (Gbr. 2·35 (b)).
  5. Bila jarum menunjuk angka di bawah 2 MΏ/cm atau tetap pada arigka noI,'artinya magasin sudah terlalu lama digunakan dan harus diganti atau di-reaktivasi.
Alat ini dapat menunjukkan nilai besaran resistivitas (dalam MΏ/cm) ataunilai besaran resiprokalnya, yaitu konduktivitas (dalam cm/MΏ atau Siemens, S).

Demineralisator tanpa alat pengendali
Dalam hal ini, digunakan kertas indikator untuk menentukan:
- pH air yang mengalir ke dalam alat, dan
- pH air bebas-mineral yang mengalir ke luar pad a sisi alat yang lain.
 
Bila pH air tetap sama (biasanya di bawah 6,5), berarti resin sudah tidak aktif. Air bebas-mineral seharusnya memiliki pH antara 6,6 dan 7,0.
Pemeriksaan tambahan dapat dilakukan menggunakan larutan perak nitrat 1,7% (reagen no.49). Masukkan larutan natrium klorida(garam dapur) eneer ke dalam resin, kemudian lakukan uji seperti diuraikan pada bagian 204.2 untuk pengendalian mutu air suling. Bila air tampak agak keruh berwarna keputih-putihan, resin harus diganti.

Perubahan warna resin
Bila resin berubah warna (misalnya, menjadi hitam), lihat petunjuk pemakaiannya.
Alat tersebut mungkin perlu di-reaktivasi atau diganti, seperti yang dijelaskan berikut .
 
Penggantian atau reaktivasi resin
Penggantian atau reaktivasi .resin dapat dilakukan dengan salah satu dari berbagai eara berikut, bergantung pada jenisnya:
  • Magasin diganti denganjenis alat lain yangjuga berisi butiran resin pertukaran-ion.
  • Tabung demineralisator diisi ulang derigan resin pertukaran-ion atau campuran duajenis resin.
  • Resin pertukaran-ion yang sudah tidak berfungsi di-reaktivasi dengan eara memasukkan larutan amonia ke dalam alat. Ikuti petunjuk pemakaiannya.
Kegunaan
Air bebas-mineral dapat digunakan untuk:
  • membilas peralatan gelas sebelum dikeringkan
  • menyiapkan hampir seluruh reagen laboratorium medis, termasuk reagen pewarnaan.



4. AIR DAPAR

Air suling biasanya bersifat asam dan air bebas-mineral juga akan menjadi asain bila terpapar udara, Untuk beberapa prosedur laboratorium (persiapan pewarnaan, dll,), pH air harus berkisar 7,0 (pH neutral) dan harus tetap dipertahankan neutral. Untuk menghasilkan pH neutral tersebut, larutan garam pendapar (penyangga)dilarutkan dalam air (dinamakan air dapar).

Alat dan bahan :
  • Gelas ukur, 10 ml dan 1000 ml
  • Labu takar 1000 ml
  • Kertas indikator universal (untuk kisaran pH dari 1 sampai dengan 10)
  • Kertas indikator untuk kisaran pH terbatas: pH 5,0-7,0 dan 6,0-8,0
  • Air suling atau air bebas-mineral
  • Larutan asam asetat 5%, (reagen no, 1), diencerkan dengan air suling dalam perbandingan 1:10
  • Kristal.(hidrat) dinatrium hidrogen fosfat (Na,HP04,2H,O)
  • Larutan merah fenol1% (reagen no, 42)
  • Garam (anhidrat) kalium dihidrogen fosfat (KH2P04)
    Larutan natrium karbonat 0,2% (reagen no. 51) .
Metode pembuatan
  1. Timbang dengan teliti 3,76 g kristal dinatrium hidrogen fosfat.
  2. Pindahkan kristal tersebut ke dalamlabu takar 1000 ml menggunakan corong (Gbr. 2.36).
  3. Tambahkan air secukupnya ke dalam wadahuntuk melarutkan kristal yang telah ditimbang tersebut. Masukkan larutanke dalam labu takar menggunakan corong.
  4. Timbang dengan teliti 2,1 g garam kalium dihidrogen fosfat dan lakukan langkah 2 dan 3.
  5. Tambahkan air sedikit lagi dan kocok larutan hingga homogen.
  6. Tambahkan lagi air ke dalam labu takar sampai 1000 ml.
  7. Tutup labu takar dan kocok larutan hingga merata.
  8. Masukkan larutan ke dalam botol reagen kaca yang transparan dan simpan di dalam kulkas.
  9. Celupkan kertas indikator universal ke dalam larutan penyangga dan bandingkan warna yang terjadi dengan warna standar (Gbr. 2.37). Nyatakan pH larutan sesuai dengan warna standar yang paling mendekati.
  10. Berdasarkan pH yang diperoleh di atas, pilih kertas indikator dengan kisaran pH yang sesuai. Sebagai contoh, bila pH 6, gunakan kertas indikator dengan kisaran pH 5,0-7,0. BilapH 7,5, gunakan kertas indikator dengan kisaran pH 6,0-8,0.
  11. Ulangi pengukuran pH larutan seperti di atas, menggunakan kertas indikator dengan kisaran pH yang sesuai. Baca pH larutan penyangga sesuai warn a standar.
  12. Bila pH antara 7,0 dan 7,2, air dapar yang dihasilkan cukup memuaskan. Bila pH di bawah 7,0, air tersebut bersifat asam. Bila air bersifat asam, buat larutan baru menggunakari air suling yang telah dididihkan selama 10 menit di dalam labu takar yang terbuka (untuk menghilangkan karbon dioksida).
  13. Bila setelah dididihkan, air masih tetap bersifat asam:  tambahkan larutan merah fenollima tetes per liter larutan; neutralkan larutan dengan menambahkan larutan natrium karbonat, tetes demi tetes, sampai larutan berubah warna menjadi merah muda (Gbr. 2.38)
  14. Bila air yang dihasilkan bersifat basa (pH di atas 7,2): tambahkan larutan merah fenollima tetes per liter larutan; neutralkan larutan dengan menambahkan larutan asam asetat, tetes demi tetes, sampai larutan berubah warna menjadi jingga atau oranye (Gbr. 2.39).
Bila larutan din atrium hidrogen fosfat maupun kalium dihidrogen fosfat tidak tersedia, neutralkan air suling atau air bebas-mineral secara langsung, seperti diuraikan pada langkah 12-14 di atas.

Catatan: pH larutan dapat juga dikoreksi dengan menambahkan sedikit larutan garam penyangga:
• Dinatrium hidrogen fosfat, digunakan untuk meningkatkan pH bila air bersifat asam (pH di bawah 7,0).
• Kalium dihidrogen fOsfat, digunakan untuk me)1urunkan pH bila air bersifat basa (pH di at as 7,2).

Sumber 
WHO . 2003. Pedoman Dasar Untuk Laboratorium Kesehatan (Manual of Basic Techniques for A Health Laboratory) ; Edisi 2. Penerbit EGC

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »