Hot News

Total Pageviews

Check Page Rank

Peran Laboratorium dalam Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon

Posted by On 6:30 AM



Surveilan penyakit potensian Kejadian Luar Biasa (KLB)/wabah merupakan kegiatan yang sistematis mulai dari pengumpulan, analisis, interpretasi data kasus penyakit potensial KLB menjadi suatu informasi yang berguna, digunakan sebgai dasar untuk menentukan prioritas kegiatan (seperti perencanaan, implementasi, evaluasi, pemantauan, pencegahan, pengendalian, maupun kewaspadaan dini) sehingga penyakit potensial KLB tersebtu dapat dikendalikan dan tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat.  

Diagnosis  yang  cepat  dan  tepat  sangat  dibutuhkan  pada  kasus-kasus penyakit infeksi agar penganggulangannya dapat diberikan dengan cepat dan tepat serta dapat mencegah terjadinya penularan. Untuk itu diperlukan laboratorium kesehatan yang dapat menghasilkan diagnosis bermutu  dengan  hasil  yang  cepat.  

Laboratorium  yang  melakukan pemeriksaan untuk diagnosis meliputi   Laboratorium   Puskesmas, Laboratorium Rumah Sakit, Balai Besar/Balai Laboratorium Kesehatan, Laboratorium   Klinik,   balai   pengobatan,   laboratorium   universitas dan    laboratorium  penelitian, Laboratorium Kesehatan    Daerah serta  beberapa  Laboratorium  Dinas  Kesehatan. Peran laboratorium diagnostik untuk kewaspadaan dini adalah untuk memantau masalah kesehatan:  Mengidentifikasi polapenyakit
  1. Mengikuti kecenderungan penyakit,sesaat, jangka menengah dan jangka panjang serta  pola penyakit 
  2. Mendeteksi perubahan mendadak kejadian dan penyebaran penyakit 
  3. Mengidentifikasi perubahan-perubahan agen, inang, dan faktor lingkungan 
  4. Mendeteksi adanya perubahan-perubahan pola penyakit pada praktek pelayanan kesehatan

Dalam   kegiatan   surveilans,   hasil   pemeriksaan   laboratorium   dapat dipakai untuk upaya tindak lanjut ;
  1. Melaksanakan investigasi dan pengawasan kejadian kesehatan
  2. Merencanakan program pencegahan
  3. Mengevaluasi pencegahan dan mengukur pengawasan
  4. Menghasilkan hipotesa dan merangsang penelitian di bidang kesehatan masyarakat

Setiap penyakit yang membutuhkan pemeriksaan laboratorium yang tidak dapat dilakukan oleh puskesmas atau laboratorium tingkat kabupaten, maka laboratorium provinsi berfungsi sebagai rujukan bagi setiap kabupaten/ kota sebagai dasar untuk bertindak. 

Dan jika laboratorium provinsi juga belum mampu maka harus dirujuk ke laboratorium Rujukan Nasional. Pada umumnya pemeriksaan laboratorium yang mampu dilakukan oleh puskesmas dan laboratorium Kabupaten/Kota adalah pemeriksaan mikroskopis, sedang pemeriksaan biakan, imunologi dilakukan oleh laboratorium tingkat propinsi (Balai Besar/Balai Laboratorium Kesehatan). 

Pemeriksaan khusus yang belum dapat dilakukan di propinsi dapat dirujuk ke Laboratorium RUjukan Nasional, misalnya untuk pemeriksaan virologi (polio, campak) yang memerlukan isolaso virus pada biakan jaringan atau tes sekuensing. 

Pada Kegiatan surveilans, sebagian besar pemeriksaan laboratorium dilakukan oleh Balai Besar / Balai Laboratorium Kesehatan. DInas Kabupaten/Provinsi melakukan pengambilan dan pengumpulan spesimen dan mengirimkan ke Balai Besar / Bali Laboratorium Kesehatan.

Selain pemeriksaan spesimen penyakit menular, kegiatan surveilans yang dilakukan oleh Balai Besar/Balai Laboratorium Kesehatan, B/BTKL-PP juga meluputi pemantauan lingkungan seperti pemeriksaan spesimen air minum, air bersih, air kolam renang, pemeriksaan pestisida, zat warna, pemeriksaan usap alat masak, makan dan kegiatan jasa boga lainnya.

Pada beberapa provinsi, kegiatan pemeriksaan laboratorium untuk surveilans juga dilakukan bersama laboratorium lain seperti BPOM (Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan) untuk pemantauan spesimen makanan dan minuman milik produsen.

Setiap petugas surveilans Kabupaten/Kota perlu memiliki daftar nama dan nomer telepon dari staf laboratorium untuk mendukung SKDR yang akan dilakukan harus dikoordinasikan antara DInas Kesehatan Kabupaten/Kota, Provinsi dan Balaui Besar/balai Laboratorium Kesehatan sehingga dapat dibuat rencana yang tepat untuk mpenganggarannya. 

Sumber :
Kemenkes RI. 2015. Pedoman Pemeriksaan Penyakit Berpotensi Wabah dalam Mendukung Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon. Online : http://www.infopenyakit.org/userfiles/SoftFile%20SKDR.pdf

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »